RACAU: A Fragment of What I (Might) Talk When I Talk About Kayaking

Selepas perjalanan sebulan penuh menemani tim SEND menjelajahi Jawa Barat dan Jawa Tengah mencari kepingan-kepingan mutiara putih yang tersembunyi di dasar lembah-lembah Parahyangan dan Tanah Jawa, bara-bara redup yang cukup lama sudah terkubur di bawah tumpukan abu cerita-cerita petualangan masa lalu bercampur potongan-potongan kayu mimpi-mimpi usang yang hampir lapuk termakan waktu dalam diriku kembali berpendar. Perjalanan itu seperti menyisakan hembusan angin misterius, menghidupkan imaji-imaji "negeri dongeng" yang ternyata masih tersisa di udara, di antara gumpalan-gumpalan awan yang berarak di cakrawala semesta kesadaranku.

Bara-bara redup itulah yang selama ini seakan terus menyertaiku sebagai "kutukan" untuk selalu menengok ke bawah, ke dasar lembahan yang dipenuhi bebatuan berserakan, setiap kali menyeberangi jembatan atau menyusuri jalanan sepanjang lereng curam di antara bebukit dan pegunungan. Bara-bara redup yang sewaktu-waktu dapat menjelma kunang-kunang dalam kegelapan ketika kupejamkan mataku untuk coba menghalau kejengahan atas absurditas dunia nyata yang demikian tak terelakkan lagi; menelusupi setiap mikro-jengkal pori-pori kehidupan, setiap lekuk sendi-sendi peradaban.

Benih-benih imaji negeri dongeng yang sudah hampir pudar (namun ternyata belum sepenuhnya hilang) itu, selama ini, rupa-rupanya tersembunyi dalam serbuk-serbuk uap air yang disematkan matahari di sela helai-helai bulu sayap-sayap langit. Pada waktunya, sayap-sayap itu akan terkepak, menciptakan gradien perbedaan suhu dan tekanan udara, menggerakkan angin yang kan menari-nari sembari menaburkan serbuk-serbuk uap air itu diiringi gelegar tabuhan genderang troposfer.

Serbuk-serbuk itu lalu menggumpal jadi bulir-bulir hujan yang jatuh menerpa wajah bumi, seperti konfeti yang berhamburan dari dalam pinata kelabu yang digantung di langit pada sebuah pesta perayaan pergantian musim.

Maka tidaklah begitu mengherankan lagi bagiku apabila melihat bocah-bocah kecil di desa-desa selalu bersuka ria menyambut turunnya hujan. Di mata bocah-bocah itu, hujan adalah pintu-pintu rahasia yang kan menghantarkan mereka memasuki petualangan seru di negeri dongeng. (Paling tidak, demikianlah jadinya bila kutengok kembali sisa-sisa kenangan dari masa kecilku).

Dan itu pula yang seperti telah kusaksikan dalam sorot mata ketiga "bocah" SEND setiap kali mereka menatap pergerakan awan di langit dan mendapati burai-burai hujan terjulur darinya. Salah satu komposisi penting yang diperlukan untuk melengkapi formula rahasia petualangan yang mereka cari hingga ke berbagai penjuru dunia itu: air. Air yang (cukup) banyak.

Bila di negeri-negeri empat musim (negeri-negeri asal bocah-bocah SEND itu) serbuk-serbuk yang mereka cari biasanya tersimpan dalam endapan kristal-kristal salju sisa musim dingin yang menumpuk di punggung-punggung pegunungan menunggu siraman sinar matahari musim panas, di negeri tropis ini serbuk-serbuk itu selalu tersimpan di langit, menunggu pertanda momen tarian angin dalam iringan tabuhan genderang troposfer, sebelum berhamburan ke muka bumi bersama hujan, mengisi relung-relung lembahan dan mengalir memenuhi panggilan energi kosmis, yang tercipta dari jejak lengkungan ruang-waktu, di antara bebatuan.

Pada dasarnya, aliran air di dasar lembah-lembah yang kita sebut sebagai sungai itu pun sesungguhnya adalah gejala permukaan belaka dari sebuah fenomena kosmis fundamental yang konon merupakan salah satu "unsur" dasar dalam komposisi tarian jagat raya: gravitasi. Maka jeram-jeram, dengan demikian, adalah jejak-jejak gerak tarian kosmis yang terekam secara temporer pada filamen-filamen fluida cair bernama air itu. Dan setiap kali seorang kayaker mengarungi jeram-jeram itu, ia sesungguhnya sedang berupaya meleburkan diri dalam orkestrasi tarian semesta.

Untuk dapat melakukan itu, seseorang perlu memahami harmoni. Hanya melalui "celah-celah" harmoni itulah seseorang dapat melebur ke dalam jeram-jeram dan merasakan sensasi ekstase petualangan di negeri dongeng. Kalau tidak, ia hanya akan mengalami "penolakan" yang dapat terjadi dalam berbagai macam bentuk peristiwa traumatis dalam rentang spektrum mulai dari yang ringan hingga berat. Dalam istilah semi akademis umum permukaan, kita menyebutnya sebagai risiko.

Kemampuan untuk "membaca" gerak tarian jeram dan menemukan "celah-celah" halus dalam harmoni tarian itu di antara berbagai kemungkinan risiko "penolakan" adalah sebuah kemampuan intuitif yang hanya dapat dipelajari dan dilatih dalam bimbingan guru agung, sekaligus dalam kuil suci, bernama 'pengalaman.' Pada tingkat permulaan, kita mungkin bisa memasuki pintu gerbang pelajaran itu melalui buku-buku dan ceramah-ceramah teoretis, namun untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi (semacam "makrifat" yang diperlukan untuk dapat "membaca" jeram-jeram yang lebih besar), dibutuhkan waktu yang tidak sedikit dan dedikasi tinggi untuk terus mengabdi pada, dan guna mengumpulkan bekal keping-keping buah, pengalaman. Melalui sekian banyak laku ritualistik percobaan-percobaan kecil, yang gagal maupun yang sukses, dan yang kadang kala terasa sia-sia belaka maupun yang seolah-olah cukup efektif dan progresif.

Dalam perjalanan menempuh percobaan-percobaan yang gagal dan terasa sia-sia itu, hanya orang-orang yang masih menyimpan sisa-sisa sorot mata bocah kecil dalam dirinya saja yang biasanya akan terus berjalan. Hanya mereka yang masih menyimpan kenangan-kenangan (yang mungkin sudah mulai pudar namun masih selalu ada) tentang negeri-negeri dongeng yang pernah mereka kunjungi saja yang akan tertarik untuk terus mencoba.

Adapun mereka yang dalam perjalanannya seperti dengan mudah mencapai kesuksesan dan merasa cukup progresif, perlu untuk berhati-hati agar tidak terlampau melambungkan egonya. Sebab ego adalah sesuatu yang "berbahaya," yang pada akhirnya mesti direduksi, dalam harmoni tarian jeram itu. Kalau tidak, ia akan terpaksa luluh lantak tergilas dan tergerus elemen-elemen lain yang secara bersama-sama mementaskan tarian itu dalam ekstase ketiadaan diri dalam aliran harmoni ketunggalan kosmis.

(Sebab di situlah, sesungguhnya, negeri dongeng berada. Pada tepian batas selubung fana antara ada dan tiada, yang hanya dapat dijangkau dengan diri yang tereduksi. Dengan benak dan hati yang merendah serendah-rendahnya dan memuai seluas-luasnya sehingga dapat menampung tetes-tetes gelembung dimesi lebih tinggi yang mengandung energi gelombang kosmis jagad raya. Seperti samudera menampung kisah-kisah perjalanan air dari mulut-mulut setiap sungai yang bermuara padanya.)

Betapa semua ini mungkin terdengar seperti bualan orang gila yang seringkali dijumpai sedang berbicara tidak kepada siapa-siapa di pinggiran jalan kota-kota yang ramai. Dan memang begitulah kita seringkali menilai segala sesuatu yang suprarasional. Bahwa setiap perilaku dan pemikiran yang sukar dijangkau dengan rasionalitas pikiran "normal" adalah sebuah "abnormalitas" yang dalam istilah umum disebut 'kegilaan'.

Kita, yang hanya mampu melihat dunia pada bayang-bayang proyeksi "realitas" yang menerpa dinding-dinding goa penalaran sempit dan dangkal lalu menyebut bayang-bayang itu sebagai kenyataan, hanya akan mampu menilai berbagai peristiwa pada taraf permukaan dangkalnya saja. Tanpa adanya kesadaran akan hakikat cahaya serta tanpa adanya keinsyafan akan kesempitan ruang dan keterbatasan ranah dan sudut pandang penalaran kita, tidak akan pernah kita sampai pada insight mengenai "realitas" hakiki itu.

Bahwa di balik fenomena terdapat noumena, dan di dalam noumena itu terkandung benih-benih realitas yang sejauh ini, dengan sistem metodologi ilmu pengetahuan dan teknologi eksoteris formal modern, baru dapat kita raba hingga ke tingkat kelembutan quanta saja (itu pun dengan resolusi yang masih cukup tumpul). Sedangkan menyelaminya lebih dalam, hanya dapat dilakukan dengan bekal "percik-percik pengetahuan esoteris," yang pengungkapannya secara gamblang, dalam wadah kata-kata, hanya akan terasa begitu akrab dengan gejala-gejala kegilaan belaka.

Maka memang tidak akan dapat sepenuhnya dihindari lagi, bahwa setiap kali kita menyaksikan orang-orang yang mencemplungkan diri mereka ke dalam kawah gelap yang begitu sarat risiko (yang kita bahkan enggan membayangkannya), kita akan menganggap mereka sebagai orang-orang gila. Orang-orang sinting, yang kurang mampu menghargai hidup mereka sendiri sehingga harus mencari-cari risiko yang sesungguhnya tidak perlu (bahkan seharusnya dihindari) adanya dalam kehidupan ini.

Sementara pendapat macam itu mungkin memang tidak sepenuhnya patut disalahkan, itu pun mungkin tidak sepenuhnya benar juga. Namun mungkin ada baiknya bila kita menempatkan 'benar' dan 'salah' itu dalam tanda kurung epoche dan mengesampingkannya terlebih dahulu, kemudian berusaha mengurai makna dalam kata 'risiko' yang cukup sering kita gunakan.

Tanpa perlu terlalu banyak menguraikan contoh-contoh umum tentangnya, kurasa kita boleh langsung mencoba memahami 'risiko' sebagai kemungkinan terjadinya sesuatu yang tidak diharapkan (karena kita sangka itu buruk) di antara berbagai hal yang kita harapkan dalam konstelasi sengkarut sebab-akibat dalam domain kerangka referensi atas suatu perbuatan yang dilakukan, tanpa harus tergesa-gesa menilai seberapa parah (keburukan) akibatnya bagi diri kita. Dalam pengertian ini, maka terpeleset kulit pisang ketika sedang berjalan-jalan di pasar, patah hati akibat ditolak setelah mengungkapkan perasaan 'cinta' kepada adik kelas, atau patah tulang rusuk setelah mendarat dengan sudut yang sedikit kurang ideal ketika menerjuni sebuah air terjun setinggi 30 meter dengan kayak, adalah sama-sama merupakan risiko dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan untuk maksud tertentu.

Risiko-risiko itu bisa jadi terlihat dan terasa seolah-olah lebih mengerikan apabila kita mengalaminya dalam pengaruh atmosfer ekspektasi ideal dari "norma" buah hegemoni dalam standar peradaban yang berlaku masif di masyarakat. Terpeleset kulit pisang bisa cuma jadi bahan tertawaan saja dan mungkin sekadar menciderai "harga diri" orang yang terpeleset itu, meskipun tidak tertutup kemungkinan juga (walaupun seolah agak lebay, dan umumnya dipandang sebagai kesialan belaka) bahwa yang terpeleset itu bisa langsung mati di tempat.

Patah hati sehabis cinta ditolak bisa jadi diterima sebagai bumbu cita rasa perjalanan asmara dalam kehidupan--yang toh masih dan akan selalu layak dijalani-- saja, namun mungkin juga, bagi orang tertentu, menjadi tonggak permulaan hidup kelam di bawah bayang-bayang mega depresi dan keputusasaan yang menjadikan kehidupan yang dihayatinya seperti lebih buruk belaka daripada wajah derita kematian.

Dan menerjuni air terjun setinggi 30 meter dengan kayak, dengan menyadari sepenuh-penuhnya apa yang diharapkan beserta berbagai risiko (yang tak diharapkan) yang meliputinya dan bersedia menerima apapun hasil akhirnya, bisa jadi tidak lebih mengerikan daripada terpeleset kulit pisang atau ditolak kekasih dambaan. It's just a part of the "game" we called life. Though it still depends on how you choose to embrace the term 'life', and it's counterpart: 'death'. Dan itulah poin krusialnya. The image we have in our head about death.

Terlepas dari intensi di balik setiap tindakan kita, kematian akan (dan pasti) datang tanpa harus diundang dan meski berusaha dihadang. Itulah keniscayaan dalam kehidupan di dunia ini. Kau boleh berniat mati, pada suatu hari, namun tak mati, atau berusaha menghindarinya, pada hari yang lain, namun tetap saja bertemu dengannya. Pada akhirnya, kematian tak ubahnya peristiwa kosmis sebagaimana punahnya sebutir bintang dalam pusaran badai nebula atau sebuah ledakan supernova, maupun gugurnya sehelai daun dari tangkai pohon tak bernama di pedalaman hutan Kalimantan atau Papua.

Apabila memang ternyata ada yang patut disesalkan dari peristiwa bernama kematian manusia, itu adalah sikap yang dipilihnya terhadap berbagai faktor dan fakta kehidupan yang menghantarkannya ke depan pintu kematian. Dengan kata lain, bagaimana seseorang menghayati perjalanan hidupnya lah, dan bukan kematian itu sendiri yang--meminjam kata-kata Chairil Anwar (meskipun mungkin dalam konteks yang agak berselisih)-- menusuk kalbu. Di dalam sikap itulah, kiranya, terkandung hal yang lebih mengerikan (dan menyedihkan) daripada peristiwa yang kita namai 'kematian' itu sendiri.

Sedangkan para kayaker "gila" yang mendedikasikan waktu dan usaha mereka mencari jeram-jeram besar dan air terjun-air terjun tinggi untuk diarungi dan diterjuni itu (dan mungkin juga para pegiat olahraga berlabel "ekstrim" lainnya), pada hakikatnya yang paling mendasar, sesungguhnya tidak sedang mencari-cari "risiko yang tidak perlu" sebagaimana yang pada umumnya dicurigai. Kebetulan saja, apa yang mereka cari itu memang terselubungi oleh kabut dan semak-semak berduri yang kita kenal dengan nama 'risiko.' Dan untuk mencapainya, mau tak mau mereka mesti bergelut dalam upaya menyibak risiko tersebut. Maka mungkin memang wajar saja apabila orang-orang awam macam kita ini, yang tidak mampu melihat sesuatu di balik kabut dan semak-semak itu, mengira bahwa mereka hanyalah orang gila yang suka menyambangi remang kabut bersemak-semak duri saja.

Sebab jika memang kecurigaan itu benar adanya, maka Curug Mara Cigamea tentulah sudah tidak perawan lagi bagi para kayaker. Namun nyatanya, para "bocah" SEND itu tidak sampai berkesempatan menerjuninya meskipun sudah berkali-kali melihatnya di depan mata, sudah menginvestasikan sebagian anggaran perjalanan mereka untuk membangun jembatan tepat di titik seal launching yang ideal demi menghindari sebuah hole cukup ganas yang ngendon beberapa meter dari bibir air terjun, sudah menyelami kolam di dasar air terjun untuk memeriksa kedalaman titik pendaratannya, dan sudah merelakan 10 hari berlalu "sia-sia" demi menunggu momen kosmis yang pas, yang diharapkan akan menghadirkan "celah" yang cukup bagi mereka untuk meleburkan diri ke dalam tarian air terjun itu, yang pada akhirnya tetap tak datang.

Dari pengalaman menyaksikan proses yang "sia-sia" itulah aku jadi semakin mafhum bahwa meskipun "risiko-risiko" yang "mengerikan" memang senantiasa meliputi apa yang biasanya mereka lakukan dan selalu mereka upayakan untuk dilakukan, namun sungguh bukanlah semata-mata "risiko-risiko" itu yang mereka cari melainkan sesuatu yang tersembunyi di balik selubung tabirnya. Sesuatu yang bagi mereka adalah hal yang cukup berharga untuk dicari, meskipun harus dibayar dengan berbagai upaya yang menuntut kejelian dan kesabaran guna menyibak semak-semak berduri (baca: risiko) yang meliputinya itu untuk membuka jalan menggapainya. Berbekal intuisi yang hampir saban hari sepanjang tahun hingga mungkin sepanjang hayat mereka asah dalam laku latihan ritualistik di kuil tanpa dinding tanpa kanopi bernama pengalaman bertualang.

Kalau memang hal macam itu dapat dicapai hanya dengan modal keberanian naif (yang dengan kata lain adalah kenekatan) belaka, maka rasanya mustahil seorang yang sudah pernah mengarungi Malupa dan menerjuni Maule serta Puma, dan mereka yang sudah pernah menerjuni Big Banana dan Alexandra, akan berpikir sepanjang itu di hadapan Mara Cigamea. Bagiku, fakta tersebut adalah petunjuk penting akan suatu fenomena terselubung, bahwa di balik semua yang mereka lakukan itu memang terdapat sebuah proses mental emosional dan bahkan mungkin pula sampai ke taraf spiritual transendental yang tidak sesederhana yang kita sangka.


Yogyakarta, April & November 2020
Share:

Kayak Loop dan Sebuah Catatan Singkat Tentang Playboating dalam Konteks Kayaking Arus Deras



Masih juga stuck dalam usaha setengah-setengah untuk membenahi trik yang satu ini. Sebuah loop yang, setelah diamat-amati secara saksama, agak berbau space godzilla tanpa sengaja.

PR:
1) Mendarat lebih flat,
2) Melompat lebih tinggi,
3) Mencoba melakukan trik ini ketika down river di wave train dan menjadikannya macho move,
4) Mencoba melakukan trik ini dalam hole atau wave yang cukup retentive namun relatif "aman."

Kalau diruntuti, ternyata masih cukup banyak alasan untuk terus berlatih main kayak. Alasan yang paling mendasar, tentu saja, adalah sebagaimana kata EJ (Eric Jackson), "the fun factor," yang saya rasa masih senada dengan filosofi "I like sk8"-nya Ricky Glaser (kebetulan saya baru saja nonton video di kanal YouTube Braille Skateboarding edisi 15 November).

**




Dalam 'CANOE FREESTYLE 2019 – RULES APPENDICES', didefinisikan bahwa "Loop [or Front Loop] is a front flip initiated and finished between a horizontal angle of -20° and +20°," loop adalah gerakan salto depan yang dimulai (diinisiasi) dan diakhiri dalam batasan arah orientasi "sudut horisontal" antara -20° dan +20°."




'Sudut horisontal' yang dimaksud adalah sudut pada bidang imajiner mendatar (horisontal) sejajar dengan bidang permukaan air sungai di mana arah haluan (bow) kayak ketika front surfing atau back surfing ditetapkan sebagai titik 0°.

Sederhananya, loop hanya masuk hitungan kalau arah yang menjadi hadapan kita ketika memulai trik itu, kurang lebih, sama dengan yang kita hadapi ketika mengakhirinya. Kalaupun agak melenceng, masih dapat masuk hitungan kalau melencengnya tidak lebih dari 20° ke kiri atau 20° ke kanan relatif terhadap arah yang dihadapi ketika memulai trik itu.

Tapi "it doesn't have to be so complicated" kata Ricky Glaser. Tidak harus serumit itu, selama kau merasa senang dan menikmatinya. Kembali lagi pada fun factor yang menurut EJ adalah "biang kerok" utama evolusi kayak dan kayaking.



**

Kayak freestyle berkembang dan menjadi "sub-disiplin" dari whitewater kayaking (kayaking arus deras) beriringan dan terkait erat dengan proses evolusi bentuk dan desain kayak arus deras. Kayaker yang merasa agak bosan dengan sekadar mengarungi sungai, pada suatu ketika, mencoba bermain-main di suatu bagian sungai atau jeram tertentu (wave, hole atau eddyline) dan merasakan betapa menantang sekaligus menyenangkannya hal tersebut.

Ketika itu, kayak yang ada umumnya masih terbuat dari material komposit, semisal fiber glass, dan masih berbentuk "sangat" panjang (sekitar 4 meter atau lebih) sehingga gerakan trik yang memungkinkan untuk dilakukan masih sangat terbatas, mungkin, pada surfing, front ender, back ender dan pirouette saja. Demi memperluas kemungkinan gerakan yang bisa dilakukan, mereka pun berangan-angan menciptakan kayak yang jauh lebih pendek, maka kemudian lahirlah apa yang sekarang dikenal dengan kayak khusus jenis playboat.

Meski sudah menjadi "sub-disiplin" tersendiri, playboating atau freestyle kayaking masih sangat erat terhubung dengan whitewater kayaking secara umum. Berbagai gerakan dan manuver freestyle menjadi kepingan puzzle penting yang melengkapi skill kayaking arus deras tingkat lanjut untuk mengarungi sungai bertingkat kesulitan tinggi. Kemampuan melakukan manuver freestyle dasar semisal surfing di wave maupun hole atau endering adalah skill yang seringkali "menolong" kayaker arus deras dalam menghadapi hole ketika mengarungi sungai. Jika kita perhatikan, semua kayaker arus deras papan atas adalah juga seorang freestyle kayaker yang tidak "ecek-ecek."

Mengarungi jeram, pada prinsipnya, adalah mengenai bagaimana seorang kayaker mampu menguasai diri serta mengendalikan manuver kayak yang ditungganginya agar dapat beradaptasi terhadap tuntutan yang dihadirkan oleh bentukan jeram. Penguasaan diri dapat berupa kemampuan untuk tetap tenang, tidak panik, dan mengatasi emosi (umumnya rasa takut) yang dialami ketika menghadapi jeram secara positif, dan sebagainya. Kemampuan menguasai diri tersebut adalah pondasi penting untuk dapat mengendalikan manuver kayak di tengah-tengah "kekacauan" jeram. Seberapa tenang seorang kayaker ketika sedang dalam keadaan terbalik di jeram, misalnya, akan sangat berpengaruh terhadap seberapa besar kemungkinan dia berhasil melakukan eskimo roll.

Dengan demikian, maka playboating dapatlah dipandang sebagai sebuah metode khusus untuk bermain (karena memang menyenangkan) sekaligus melatih kemampuan "penguasaan diri dan pengendalian kayak" (exercising control) seorang kayaker dalam mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan situasi di jeram. Ketika terjebak hole, misalnya, kayaker yang terbiasa jungkir bolak-balik dan surfing ketika playboating, secara umum tentu akan merasa lebih tenang dan mudah menguasai diri dan kayaknya untuk kemudian melakukan manuver guna membebaskan diri dari jebakan tersebut.

Untuk dapat mengarungi sungai-sungai bertingkat kesulitan tinggi, bekal playboating skill saya rasa cukup-- bahkan mungkin sangat-- penting untuk dimiliki. Setidak-tidaknya, agar kita lebih tenang menghadapi jeram-jeram yang dengan mudah membuat kita pontang-panting dan terbolak-balik.

Kira-kira begitu sih.
Share:

Sepakat

ini kali
tiada bertemu arti

tapak-tapak kelabu
di ranah tanah tabu

ketika jenak kita berhikmat
terbuai jeda di ujung lenguh nikmat

melainkan sisa jejak lendir
dalam tubuhmu pun mengalir
benih sejarah buahan takdir
memaksa kita mulai berpikir

namun tak pernah kita sanggup
bersepakat dengan hidup

kecuali
perihal mati


Yogyakarta, 21 Oktober 2020
Share:

Bus

Itu bocah ingusan
Bermimpi di tepi jalan
Melambai-lambaikan tangan
Menghadang silau lampu kendaraan

Hingga pada suatu malam hujan
Datanglah yang selalu ia nantikan

Sebuah bus kota tua

Dari dalam matanya
Merebak bunga cahaya

Bertatap muka dengannya
Seorang jurumudi penuh baya
Membuka pintu di simpingnya
Dengan wajah merekah jenaka

Si bocah naik tanpa perlu bertanya
Jurumudi tak merasa harus berkata

Bulan penuh di atas awan

Ia tengok lewat jendela
Kota yang ditujunya
Tepat di lubuk kaldera

Seketika itulah mimpinya
Raib disapu serbu razia
Rombongan polisi pamong praja
Penjaga mandat semboyan mulia
Tata tentrem kerta raharja



Yogyakarta, 21 Oktober 2020
Share:

Metaversi Realita Ditinjau Dari Bangku Kayu Sebuah Warung Kopi

Di sebuah kafe antah-berantah. Aku duduk sendiri di bangku kayu dekat jendela kaca yang masih bersih kinclong nyaris tanpa noktah. Kupandangi jalanan di luar lewat celah antara daun-daun tanaman palem dan kamboja sekarat ("bersabarlah, musim hujan akan segera tiba digiring embus angin hangat kibasan rambut La Nina yang baru saja selesai mandi di lautan teduh," kataku padanya dalam hati).

Lalulintas mulai ramai. Sedang ada proyek pengerjaan trotoar yang memaksa ruas jalan utama itu mengalami penyempitan dan menyebabkan arus kendaraan agak terhambat, yang dengan sekejap memantik percik emosi para pengendara yang tak ingin terlambat tiba di ribaan kuil sakral penganut agama kapitalisma kasta menengah. Dan suara-suara klakson pun jadi lebih sering terdengar. Bahkan di dalam ruang tertutup kafe itu, suara klakson dapat terdengar jelas dan bergaung meraung-raung hingga ke dalam hatiku yang kebetulan memang sedang kosong melompong.

Orang-orang di luar sana seperti tak terusik oleh suara-suara klakson itu. Mereka tetap melakukan apa yang mereka lakukan dengan asik dan khusyuk sebagaimana biasa tanpa sedikit pun tersirat gelagat rasa terusik di paras, seakan-akan semua orang memakai penyumbat liang telinga kecuali aku.

Driver ojol berhenti di bahu jalan untuk memeriksa notifikasi aplikasi penerima orderan. Orang tua dan anak-anak jalanan menyeberangi jalan raya dengan santai memotong masifnya arus kendaraan. Tukang becak nangkring di zona larangan parkir yang disulap menjadi pangkalan tempat menunggu keputusan sidang nasib sembari menyedot asap kretek racikan sendiri dan mengisi kolom-kolom lengang di buku TTS lusuh bersampul gambar wajah perempuan pembangkit gairah hidup. Para pekerja proyek yang diimpor dari negeri seribu satu gunung tandus dengan penuh penghayatan mencungkili blok-blok semen dan beton permukaan bumi lapak kaki lima berbercak cemar air kencing dan minyak jelantah menggunakan linggis bekal mereka sendiri. Sementara di langit, mega-mega kelabu meneduhi kota, menggantung biang wabah gundah berupa pertanyaan tak kasat mata tentang apakah hujan benar-benar akan turun hari itu.

Suara lonceng berdenting mengubur sisa jejak gema dentuman besar jerit tangis bayi alam semesta di mulut rahim ketiadaan yang, setelah berjuta-juta tahun menghayati hampa-sepinya eksistensi nirhayat, kini mulai dilanda komplikasi penyesalan akut disertai anemia kronis bercampur presbiopia, degradasi rungu, demensia, osteoporosis, serta kyphoscoliosis (bak simbah-simbah kampung seberang kali di desaku yang di masa gadisnya tak pernah mengalami anugerah kenikmatan main TokTik) yang tak ketinggalan pula dipungkasi dengan taburan topping gejala-gejala quarter life crisis berakar nooetis yang ke empat kalinya, berbalut selubung sengkarut xenofobia, psikososiopati, dan berbagai jenis disrupsi psikotika dan neurotika yang belum sempat terjerumuskan ke dalam kubang frasa deskriptif panduan diagnostika DSM-XLVI dari APA sembari berdoa agar supaya Israfil tak kan pernah lupa di mana sangkakala itu disimpannya selama menikmati esensi kebosanan anakronis sepanjang periode gabutnya ini, pintu kaca terbuka meloloskan gaduh serta polusi asap debu berbau realitas harian rakyat jelata ke dalam sejuk sedan ruang syahdu seluas kamar mandi istana negara berpendingin AC 17,0845 PK, seorang perempuan berparas jelita melenggang masuk mencaplok separuh lebih jatah kuota penghayatanku atas dunia, langkahnya pelan seakan-akan kakinya yang jenjang dan ramping putih mulus berseri terawat ekstrak kulit manggis itu sedang menyeret berkarung-karung biji benih ragu imajiner hasil panen ilegal di kebun belakang rumah kekasihnya yang tajir lagi tampan dan punya banyak simpanan di mana-mana, setelah sekilas menyapukan pandang mata ke seisi ruang lengang yang hanya berisi aku dan sisa-sisa lamunanku tadi, ia menatap papan hitam tempat terpampangnya bekas torehan batang padat hasil pembakaran kalsium karbonat yang disiram asam sulfat dan diimbuhi pewarna-warni bak pelangi di pojok cakrawala tempo hari--

(ya, tempo hari, ketika seorang wanita lain yang telah sekian lama menghuni dunia fantasiku tiba-tiba mendeklarasikan kedaulatan dan kemerdekaannya atas diri dan hidupnya sendiri dalam rangka mengamini secara amat sangat lugu dan naif doa-doa harapan yang santer digaungkan di linimasa dinding teras dan beranda rimba raya media sosial daring oleh para pejuang pemuja ideologi faeminisma radikal garis terdepan berprestasi, lantas menenggak secangkir ramuan campuran pestisida, insektisida, herbisida, kopi esens sasetan, sianida, arsenik, dan penyanitasi tangan abal-abal tanpa label sertifikasi izin edar BPOM maupun kelaikan syariati MUI, menyayat pergelangan tangannya sendiri dengan keris pusaka punya bapak warisan kakek moyangnya yang sukses diselundupkan dalam tote bag tie dye swakaryanya sewaktu turut serta meramaikan workshop program kerja KKN PPM tematik seorang kawan karib seprodinya, kemudian terjun dari tubir pagar pembatas tepi jembatan layang jalur bebas hambatan yang dahulu kala digadang-gadang akan mampu mengatasi problema kemacetan akut bin kronis sebuah kota di tepi utara pulau jawa pada masa pemerintahan gubernur X dan mendarat mulus di liang kubur di sisi makam buyut moyangnya)--

yang menjelma daftar menu andalan kafe itu, seakan-akan sedang menelisik langit malam untuk mencari seperangkat rasi bintang tertentu yang menyimpan separuh sobekan kitab garis nasibnya di dunia, cukup lama, sementara jari-jari kedua tangannya menjalin gelagat resah di depan rok putihnya yang dalam realita alternatif di semesta angan-anganku, berkibar-kibar laiknya bendera duka cita paska wafatnya seekor tukik yang bengek terjerat sisa-sisa jaring partikelir senyawa polimerisasi fosil belantara taman bermain kaum dinosaurus di batas pantai selatan yang kelak menjelma dalam bait lagu koplo termahsyur, dan sang barista ramah itu tetap setia menampung waktu yang seperti terbuang sia-sia ke dalam gerigi rahang entropi semesta tua dengan senyum paling hangat di wajahnya yang lebih dingin dari puncak Vinson di Antarktika.

Yogyakarta, 21 Oktober 2020
Share:

Bukan Masalah

 Adalah jarak, yang menimbulkan penghayatan akan masalah dalam kehidupan manusia.

Namun, rasa-rasanya, kehidupan yang tanpa permasalahan, hanyalah sebuah utopia belaka. Mungkin pula, permasalahan memanglah sebuah keniscayaan dalam kehidupan manusia. Hidup tanpa masalah, adalah hidup yang mandeg. Tiada yang memicu gerak, tiada perubahan, tiada dinamika, tiada waktu, tiada ruang, tiada bidang, tiada garis, tiada apa-apa. Tiada. Aku bahkan tak dapat membayangkan, bagaimanakah ketiadaan itu. Bahkan, imajinasi yang --konon katanya-- tanpa batas, tetap saja tak mampu menyentuh sesuatu yang tak ada.

Demikianlah, sehingga masalah tak perlulah dipermasalahkan adanya. Keberadaanmu, keberadaanku, keberadaan kita, sudahlah merupakan keberadaan yang --an sich-- bermasalah. Sedangkan mempermasalahkan permasalahan adalah sebuah kebodohan yang --rasanya-- tidak begitu diperlukan, kecuali, mungkin, bagi orang-orang pandai.

Dan jarak, dapatlah dibayangkan adanya, jika --dan hanya jika-- ada paling tidak dua titik. Titik-titik itu, terserah ingin kau sebut sebagai apa. 'Aku' dan 'kamu', 'aku' dan 'selain-aku', 'subjek' dan 'objek', 'das sein' dan 'das sollen', 'kenyataan' dan 'harapan', 'kata' dan 'makna', 'sekarang' dan 'nanti', 'kemarin' dan 'hari ini', 'kita' dan 'mereka', terserah! Di antara dua titik itulah terbentang benang masalah. Dan benang-benang itulah yang --pada taraf selanjutnya-- terangkai menjadi panggung pentas tarian kehidupan, menjadi kanvas lukisan alam semesta, menjadi sunyi yang menggaungkan bunyi, menjadi sepi yang menjelmakan puisi, menjadi hampa yang memuaikan rindu.

Dan itu baru tinjauan analogi dengan satu dimensi saja. Padahal --lagi-lagi-- konon katanya, semesta ini berada pada jejaring kelindan sepuluh, sebelas, bahkan dua puluh enam dimensi (menurut teori saintifik paling mutakhir). Aih! Betapa peningkatan kecanggihan ilmu pengetahuan, agaknya, selalu dibarengi dengan meningkatnya permutasi dan kombinasi permasalahan. Apakah itu mencerminkan tabiat alamiah manusia? Bahwa kita memang lebih berbakat menciptakan permasalahan ketimbang mengeliminirnya. Tetapi, tentu saja, itu tak masalah, bukan? Permasalahan membuat hidup lebih dinamis, meskipun, terlampau dinamis bisa juga berarti kaos. Namun, sekali lagi, itu tak masalah, kan?

Begitulah kira-kira adanya. Dan beruntungkah orang-orang awam yang tak sempat menghayati dimensi keberadaannya melebihi ada dalam garis, bidang, ruang, dan waktu sahaja? Dan yang tak menghayati masalah pada waktu, pada ruang, pada bidang dalam hidupnya?

Yogyakarta, 31 Agustus 2020

Share:

Angan-angan

pada lembaran lusuh yang kausobek
dari halaman angan-angan itulah, kita
pernah bersama-sama kelana ke negeri kata-kata

di negeri kata-kata itulah, kita
pertama kali kenalan dengan angan-angan
untuk mulai membuka lembaran baru bersama-sama

Yogyakarta, 27 Mei 2020
Sebuah sajak eksperimental yang ditulis berdasarkan resep Sajak Sapardian dari Hasan Aspahani
Share: