Skip to main content

Posts

Hari Terindah Untuk Bahagia

/
betapa bahagianya
menjalani kehidupan
hari ini
tanpa perlu merisaukan
hari esok

karena
hari esok
belum tentu ada

buat apa menyimpan angan-angan?
buat apa punya cita-cita?

hari ini adalah
hari terindah
untuk bahagia

dan sepertinya
orang paling bodoh di dunia
adalah orang yang bercita-cita
untuk bahagia


Jogja, 22 Juni 2018
Recent posts

Tak Perlu Ada

.
Kadang aku ingin menjadi angin
dan kan kubawakan kesejukan
kepadamu kalau lagi gerah

Kadang aku ingin jadi bayang-bayang
dan kan kutebarkan keteduhan
di sepanjang jalanmu pulang

Malam ini
aku ingin menjadi gelap
di langit kotamu

supaya kamu bisa melihat
gemintang bertaburan di angkasa,

aku ingin menjadi sunyi
di relung jiwamu

supaya kamu bisa mendengarkan
suara hatimu sendiri,

aku ingin menjadi segala sesuatu apa saja
yang tak perlu ada di benakmu

supaya kamu bisa tidur nyenyak
dan menemukan kembali
mimpi-mimpimu sendiri.

Begitulah ...


Jogja, 7 Juni 2018 21:57

sepanjang tepian sunyi

sepanjang tepian sunyi
kita menyeret langkah

(resah...)

desah ombak berbuih-buih mengulum desir pasir; waktu yang mengendap di tepi samudera dalam jiwa yang bergolak dilanda badai gumpalan-gumpalan kenangan; awan gelap menutupi harapan akan masa depan cerah yang selalu kita simpan di batas cakrawala; langit cerah, matahari senja, kilau-kemilau lautan teduh, dan suara pekik camar menyambar ikan buruan di ujung penantian yang selalu dijaga dengan penuh kesabaran di pucuk tiang layar sebuah kapal nelayan yang sedang sibuk menarik jalanya dengan segenap harapan akan tangkapan

sepanjang tepian sunyi
kita menyeret langkah

(amarah...)

alir waktu mengikis tangis sampai habis air mata di dunia yang tinggal menyisakan amarah berdarah yang menciprati setiap wajah dan menodai dinding-dinding istana cinta yang kini sepi tanpa penghuni sebab telah kita bunuh semua kemungkinan untuk menumbuhkan benih-benih kasih sayang dengan racun yang kita campurkan dalam kata-kata dan api yang kita kobarkan di uj…

Ritual

kutanam benih-benih sepi
di sudut-sudut kota yang ramai

kukunjungi setiap hari
bersama pagi dan mentari

dengan selaksa memori
dan kata-kata kusirami

semoga suatu nanti
kan tumbuh pohon-pohon tinggi

teduh berbuah puisi
dan damai di hati

Jogja, siang, 22 April 2018, 12:30

pulang

lembaran- lembaran kenangan
kupungut dari serakan bangkai waktu
kutempelkan pada dinding-dinding jalanan
dengan peluh, darah, dan air mataku

lalu aku berjalan pulang
kepadamu yang mengulurkan tangan
selalu, terpojok di sudut kota yang malang
tempat semua janji terlupakan
tenggelam di lubuk bayang-bayang

aku melangkah dengan kaki telanjang
tangan kosong, kepala kosong, hatiku kosong
bau mesiu bercampur debu di udara
suara desing peluru-peluru di udara

lalu ada koyak-moyak di dalam dada
tubuh rebah di atas tanah tinggal selongsong
kepadamu aku kembali tanpa membawa apa-apa
kecuali janji yang takkan rela lepas kupegang

Jogja, siang, 22 April 2018

?

tanda tanya dan air mata hati terbelah menetes darah
Jogja, pagi, 22 April 2018

penantian

kutuliskan kalimat-kalimat panjang
dari genggaman tangan sampai ke langit, menjulang
kata-kata kupintal menjadi benang
di ujungnya, kubiarkan tanya menggantung

(aku menanti)

di atas kolam rembulan terapung
ditemani setangkai bunga tertai
di tepian aku termenung
seorang diri menghayati sepi

(... menanti)

angin malam berlalu pulang
meninggalkan jejak-jejak sunyi
di atas daun-daun kering
di antara tangkai-tangkai ilalang
di dalam relung-relung diri

hidupku adalah penantian panjang
garis lengkung di atas titik; mengambang

aku adalah tanda tanya
begitulah, maka aku mengembara
mempertanyakan setiap kata
menagih jawaban yang baka


jogja, 21 april 2018, 20:01