Skip to main content

Posts

Telur

Kau sedang dalam perjalanan pulang ketika kematian menjemputmu.

Sebuah kecelakaan mobil. Tidak terlalu parah, namun tetap fatal. Kau mati meninggalkan seorang istri dan dua orang anak. Sebuah kematian yang tanpa rasa sakit. Para petugas medis darurat sudah berusaha maksimal untuk menyelamatkan nyawamu, namun pada akhirnya tetap tak berhasil. Tubuhmu benar-benar hancur, jadi memang lebih baik kau mati, percayalah.

Dan ketika itulah kau bertemu denganku.

"A... apa yang telah terjadi?" kau bertanya. "Di mana ini?"

"Kau sudah mati," kataku terus terang. Tiada gunanya bertele-tele.

"Tadi ada truk dan... dan... truk itu selip..."

"Yap," kataku.

"A... aku sudah mati?"

"Yap. Tapi jangan khawatir. Semua orang juga akan mati," kataku.

Kau memandangi sekeliling. Tiada sesuatu apapun. Cuma kau dan aku. "Tempat apa ini?" Kau bertanya. "Inikah akhirat?"

"Kurang lebih," kataku.

"Apakah kau adala…
Recent posts

KRIM

Kuceritakan kepada kawan mudaku tentang sebuah peristiwa yang terjadi ketika aku berusia delapan belas tahun. Entah mengapa aku menceritakannya. Itu terjadi begitu saja selagi kami mengobrol. Betapa pun semua itu terjadi sudah lama sekali. Semacam sejarah usang yang bahkan hingga saat ini tak pernah dapat kutarik sebuah kesimpulan apapun darinya.

“Waktu itu aku sudah tamat SMA, tetapi belum kuliah,” aku menjelaskan. “Bisa dikatakan aku seperti seorang ronin akademik, seorang pelajar yang gagal di ujian penerimaan universitas dan sedang menunggu kesempatan untuk mencoba lagi. Segala sesuatu mengenai nasibku terasa belum begitu jelas,” lanjutku, “namun semua itu tidak terlalu kuhiraukan. Aku yakin aku bisa diterima di universitas swasta yang lumayan bagus kalau mau. Tetapi orang tuaku bersikeras agar aku mencoba mendaftar di universitas negeri, jadi kuikuti ujian seleksi, meskipun aku tahu bahwa aku akan gagal. Dan, tentu saja, aku pun gagal. Ujian nasional penerimaan universitas waktu i…

-Mu

Pada sebuah pertemuan
Antara ilalang dan rembulan

Pikiranku jauh melayang
Menembus gugusan bintang-bintang

Perasaanku dalam terbenam
Di dasar batu-batu karang
Ditelan gelombang lautan pasang

Dan aku menghilang
Dalam kelebat bayang-bayang

-Mu

Bintan, 16 Juni 2019 malam

Malam Di Sini

Di sini rembulan benderang melebihi terang lampu-lampu jalanan di kota-kota yang penuh persimpangan.

Nyanyian jangkrik melebur dingin dinding-dinding sunyi yang mengepung jiwa-jiwa sepi dalam fana pikirannya.

Membebaskan ribuan kunang-kunang terbang mengembara di belantara bayang-bayang dunia yang jatuh di langit tanpa cakrawala.

Mengubur kata di bawah bangkai huruf-huruf tak dikenal. Menenggelamkannya ke dalam lautan suara tak terdengar.

Di sini malam begitu pekat melarutkan perasaan dan impian dalam pusaran waktu yang terpaut di jejak rembulan.

Angin sedang berkelana entah ke mana, meninggalkan nyiur tanpa lambaian dan laut tanpa gelombang.

Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara petir menggelegar. Di sini badai bisa datang dan pergi kapan saja.

Begitu saja.

Bintan, 17 Mei 2019 (malam)

Lilin

Dia adalah nyala lilin yang tabah
menerangi rembulan.

Ditemaninya gelap malam yang diam-diam selalu mencuri-curi pandang kepada rembulan dari bawah dahan pohon-pohon cemara yang berbisik ke telinga-telinga sepi perihal kabar yang terbawa angin dari negeri-negeri jauh.
Negeri-negeri yang hanya dapat dikunjungi melalui mimpi-mimpi yang mengambang di antara lelah dan lelapmu.
Yang selalu kan kau ingat meski tak pernah dapat kau ceritakan.
Yang selalu dapat membuatmu tiba-tiba tersenyum tanpa alasan.
Yang selalu dapat membuatmu tersadar betapa jantungmu senantiasa berdetak di luar kehendakmu.


Jogja, Februari - 3 April 2019

Sebuah Lanskap Tentang Kota

Ini adalah cuplikan kecil dari lukisan berjudul Blooming Flower karya Yoyo Siswoyo yang dipajang di galeri Kiniko Art dalam rangka Solo Exhibition-nya yang bertajuk "Dari Timur ke Barat". Di antara semua lukisan yang dipajang di galeri itu, saya merasa paling suka melihat yang ini. Bukan berarti lukisan ini memang yang paling bagus di antara yang lainnya. Mungkin, kebetulan saja saya merasa lebih dapat mencerna lukisan yang satu ini dibanding lukisan lainnya. Walaupun, kalau ditelisik dari judul lukisannya sendiri, apa yang saya lihat pada lukisan ini ternyata tidak begitu sesuai juga dengan judul tersebut.

Kalau menyaksikan lukisan ini secara utuh sebagai satu kesatuan (tanpa terlebih dahulu mengetahui judulnya), saya seperti menyaksikan lanskap sebuah kota dari suatu ketinggian. Mungkin lebih tepat dikatakan sebagai bayang-bayang sebuah kota dengan latar belakang langit putih.

Saya melihat ada tiang-tiang antena yang menjulur di atas puncak-puncak gedung. Saya melihat ada…

Pertemuan Pertama

Kalau coba mengingat-ingat lagi berbagai hal yang sudah terjadi, aku selalu mendapati betapa semua ini adalah sebuah kenyataan yang aneh. Sebab aku tak bisa ingat kapan pertama kali aku menemukan kehadiranmu dalam hidupku. Aku tak ingat kapan kita pernah berkenalan secara wajar sebagaimana layaknya sebuah perkenalan antar dua manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Samar-samar aku seperti ingat bahwa kita pernah sekelas, entah di mata kuliah apa. Bahwa kadang-kadang kita berpapasan di perjalanan antara gedung kuliah dengan fakultas, atau di koridor remang-remang di antara kelas-kelas perkuliahan. Atau kadang-kadang aku melihatmu sedang berjalan di kejauhan. Tapi semua itu begitu samar-samar adanya sehingga aku tidak bisa tidak curiga bahwa itu cuma khayalanku saja.

Tetapi, bukankah harus ada sebuah titik permulaan bagi setiap garis? Tidak terkecuali garis yang ditorehkan takdir tentang kita. Mungkin aku sekedar luput merekamnya dalam ingatanku saja.

Tapi tak pelak, itu membuat semua ini …