Skip to main content

Posts

MENERTAWAI KEBODOHAN SENDIRI

Suatu hari yang entah kapan di masa lalu, kita terbangun dari tidur dan menyadari ada yang telah hilang di dalam diri kita. Entah kapan persisnya peristiwa itu terjadi, tak ada yang benar-benar ingat. Mungkin sejak kita beranjak meninggalkan masa kanak-kanak dan melupakan mimpi-mimpi ajaib kita. Mungkin sejak kita mulai mengenal dunia ini dan menganggapnya sebagai satu-satunya yang nyata. Atau mungkin jauh sebelum itu. Tak ada yang ingat kapan tepatnya. Sama seperti setiap kali kita kehilangan benda apapun, kita tak pernah tahu kapan benda itu hilang. Kita hanya tahu bahwa kita telah kehilangan ketika kita membutuhkannya.

Maka demikianlah, sejak hari yang entah kapan itu, setiap hari kita terbangun dengan rasa kehilangan yang sama. Betapa kehidupan kemudian menjadi begitu muram, begitu kosong, begitu sia-sia, begitu tak layak dijalani, tak peduli seberapa banyak hal yang kita miliki dan kita peroleh di dalamnya. Seandainya kita bisa menemukannya kembali. Seandainya kita bisa merasakan…
Recent posts

Karma

...
(larut malam dalam sepi)

di bawah bayang-bayang rembulan
seorang perempuan di tepi jalan
duduk termangu di atas pikirannya sendiri
mendekap hati kecilnya di atas pangkuan

(darah menggenang di bawah kakinya)

punggungnya bersandar kelam di masa silam
matanya terpaku memandang ujung jalan
seperti menunggu habis waktu berlalu
sampai ada yang akan datang
menjemputnya pulang

*

"biar aku menemanimu menunggu"
dan ia membagi pikirannya denganku
dan aku duduk bersamanya di situ
dan ia menunjukkan hati kecilnya kepadaku
dan aku menancapkan belati di hati itu

(dan aku menggantikannya menunggu di situ)


Jogja, 20-21 Oktober 2018

Di Ambang Suatu Pagi

Gelap sembunyi di bawah bayang-bayang pohonan

Sepi menyendiri di dalam benakku

Sunyi bertapa di dalam hatiku

Kata-kata berguguran
jatuh dari pucuk kesadaran
terbuai dalam bisik rayuan
angin yang bercerita tentang lautan

Cahaya mengalir
menembus retak cakrawala pemahamanku
Wajahmu tergambar
di dinding-dinding ruang imajiner hatiku

Wajah yang tak pernah lagi dapat kuingat
namun selalu dapat kulihat
di relung jiwa setiap manusia
melalui sepasang jendela kaca
yang memantulkan bayangan dunia


Di hadapan kopi, antara tidur dan terjaga, di ujung suatu malam panjang.
Jogja, 18 Oktober 2018
dari seberang becak tanpa arah semau angin menenggelamkan luka seketika matahari pergi ke balik jeruji roda yang diam karena jarum-jarum waktu merajut air mata dari sudut di antara dua belas garis lengkung menembus kabut kesadaranmu yang mengambang di dasar genangan darah yang tercecer jatuh dari rambutmu setelah selesai kaubaca kata demi kata yang melahirkan huruf sebatang kara yang terperangkap di padang sunyi tanpa bunyi

adalah sebuah janji tergelincir jatuh dari pekatnya aroma tembaga kemudian mengering dan pecah berkeping-keping menorehkan luka di punggung seorang pelacur yang sedang tidur mati di atas pelangi hitam-putih yang terburai dari percikan malam setiap kali dua pasang mata saling menjilati api yang membasahi retak di dinding-dinding pembuluh nafas batin mereka masing-masing yang kian terasing di tengah-tengah kota yang selalu pesing dan berbau bising

ditelan rasa lapar yang merambat dari balik lembaran kertas koran pembungkus wajah penguasa

ditikam rasa takut yang terse…

Melupakan

ke dalam hutan,
aku berlari mencari
tempat untuk sembunyi.
ke tengah lautan,
aku berenang mencari
tempat paling sepi.
namun tak kutemukan
kecuali di hatiku sendiri.

maka di situlah kukuburkan
angan dan mimpi-mimpi
tanpa prasasti atau batu nisan
kecuali sebaris puisi
yang selesai
sebelum kau ucapkan
berakhir sebelum kau mulai

Jogja, Sepanjang September 2018

Narsisme

!
Selama ini selalu
kukatakan kepadamu
bahwa aku
mencintaimu

Hingga suatu ketika
aku terpeleset
jatuh ke dalam kolam*

Dan kutahu
semua itu
rupanya
dusta

Jogja, 15 Oktober 2018

*tadinya mau kasih catatan kaki, tapi gak jadi.

Learn to Fly

#

Pada mulanya
adalah tanya,

sebelum kau pergi
mencari jawaban selain sunyi
yang tak perlu lagi
menghadirkannya kembali;

tanya yang sama
seperti semula.

"Pada akhirnya
kau harus belajar untuk percaya"
katanya.

*

"Pikiranmu adalah belantara di mana kau mungkin tersesat berputar-putar di tempat yang sama selamanya, mengikuti lorong-lorong sempit logika di sela semak-semak berduri yang sesungguhnya adalah jalan setapak yang telah kau babat sendiri sebelumnya, dulu ketika kau melewatinya pertama kali, kedua, ketiga, atau entah yang ke berapa kali sebelum kali yang ini, hanya untuk menemui lagi pertanyaan yang sama dalam bentuk yang berbeda.

"Pada akhirnya kau harus belajar untuk percaya" katanya.

"Apa yang harus kupercayai?"

"Apapun itu, yang selalu ada di dalam hatimu.

"Kau bertanya dengan pikiranmu. Itulah yang selalu dilakukan pikiran; bertanya. Itulah yang paling mahir dilakukannya. Maka mengikuti pikiranmu untuk mencari jawaban selalu hanya akan memb…