Skip to main content

Posts

Di Antara Hayalan, Waktu, dan Yang Sia-sia Belaka

Aku, lagi-lagi menemui waktu.
Terbentang di hadapanku,
dari ujung ke ujung cakrawala,
bahkan jauh melampauinya.
Namun bisakah aku tahu,
sejauh apa waktu terbentang?
Sebelum habis ia kukenyam,
aku kan habis lebih dulu.Pada dasarnya kita ini cuma mengicip-icip waktu.
Kita hidup dalam waktu
seperti ikan-ikan menyelami lautan.
Dan waktu adalah kesementaraan yang seolah-olah sempat kita miliki
hanya untuk kita tukarkan dengan berbagai hal yang sia-sia belaka.
Sia-sia,
namun selalu rela kita tukarkan
dengan semua waktu yang seolah-olah sempat kita miliki.Dan demi segala yang berlangsung akibat pertukaran itu,
antara waktu yang tidak benar-benar kita miliki
dan segala hal yang sia-sia belaka,
kita ciptakan sebuah hayalan
bernama kehidupan.Kematian, dengan demikian, adalah kegagalan kita dalam menciptakan hayalan-hayalan itu.~Aku teringat pada suatu peristiwa yang hanya sempat kualami dalam dunia yang tercipta dari kata-kata.
Tidak dapat kuingat betul kata-kata yang menyusunnya, namun peristi…
Recent posts

Rembulan Beku yang Separuh Terbenam di Lautan

* Sepanjang pengetahuanku, satu-satunya orang yang pernah menyanyikan lagu “Yesterday” dari The Beatles, dan mengganti sebagian liriknya dengan lirik karangannya sendiri (dan menyanyikannya dengan logat Kansai yang sangat kental) hanya seorang pemuda bernama Kitaru. Dia biasa menyanyikan lagu itu sambil berendam dalam bathtub di kamar mandinya.
Yesterday
Is two days before tomorrow
The day after two days ago…
Seperti itulah kira-kira bagian awalnya, seingatku. Sebab terakhir kali kudengar ia menyanyikannya sudah lama sekali sehingga aku tidak terlalu yakin. Lirik yang dikarang Kitaru sama sekali tidak berhubungan dengan lirik aslinya, bahkan cenderung absurd, seolah memang tidak mengandung makna apa-apa. Melodi melankolis lagu aslinya, dipadukan dengan logat Kansai yang bernada riang yang sama sekali tidak selaras dengan muatan emosi lagu itu, adalah sebuah kombinasi yang sangat aneh. Semacam usaha penuh keberanian untuk memberontak terhadap segala sesuatu yang konstruktif. Paling tidak…

Progo Bawah (Walkthrough)

Sungai Progo (atau yang masyarakat lokal sebut sebagai Kali Progo) merupakan salah satu sungai terbesar di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Berhulu di Gunung Sindoro, sungai ini mengalir sepanjang sekitar 140 kilometer menuju laut selatan Jawa. Dari lereng Sindoro, Progo mengalir ke tenggara melintasi Kabupaten Temanggung, lalu berbelok ke selatan melintasi Kabupaten Magelang, kemudian memasuki wilayah Provinsi DIY sungai ini mengalir terus ke selatan menjadi batas antara Kabupaten Sleman dan Kulon Progo, hingga akhirnya bermuara di Samudera Indonesia.

Sepanjang alirannya, Progo menjadi muara dari banyak sungai yang berhulu di beberapa gunung lainnya, antara lain Kali Tangsi yang mengalir dari Gunung Sumbing, Kali Elo yang mengalir dari Gunung Merbabu, serta Kali Pabelan yang mengalir dari Gunung Merapi. Ini membuat volume air Sungai Progo, ketika memasuki wilayah DIY, menjadi sangat melimpah, terutama pada musim hujan yang biasanya memasuki puncaknya pada awal tahun…