Saya pernah menulis tentang tiga sungai berjeram di Kalimantan yang saya pikir menarik diarungi [bisa dibaca di sini]. Salah satu sungai yang dibahas adalah Sungai Boh, khususnya segmen lembah sempit (gorge) sepanjang sekitar 35 km yang pada tampilan citra satelit terlihat paling banyak menyimpan jeram.
Tak lama setelah mempublikasikan tulisan itu, saya menemukan buku Shooting The Boh, sebuah memoar oleh Tracy Johnston, terbitan tahun 1992. Buku ini menceritakan pengalaman penulisnya ketika turut serta dalam ekspedisi penjelajahan Sungai Boh yang diadakan oleh Sobek Expeditions, sebuah perusahaan adventure travel yang didirikan oleh Richard Bangs, dkk., dalam rangka menjajaki kemungkinan mengembangkan sungai tersebut sebagai salah satu tujuan trip arung jeram komersial. Pengarungan dengan tiga perahu karet (raft)—dua oar boat dan satu paddle boat—oleh 12 orang, dipimpin Dave Heckman itu dilakukan pada bulan Agustus tahun 1991 (perihal tahun pengarungan, saya merujuk sebuah artikel di Substack sebab saya tidak bisa menemukan informasi itu di dalam buku ini), dan disebut-sebut sebagai first descent—pengarungan pertama yang pernah dilakukan—yang berhasil menembus segmen lembah sempit Sungai Boh itu.
|
|
| Sampul depan buku Shooting The Boh |
Sebelum mereka, disinggung pula dalam buku ini, sebenarnya sudah ada dua kali upaya untuk mengarungi sungai tersebut. Yang pertama, digagas oleh seorang ekspatriat asal Britania bernama Dave Ferguson (alias: Taman Kahang) bersama empat penduduk lokal menggunakan perahu Zodiac (perahu karet berlantai papan kaku yang buritannya bisa dipasangi mesin) pada tahun 1987. Namun mereka tidak berhasil menembus segmen gorge tersebut karena jeram-jeramnya dinilai terlalu besar dan berbahaya, meskipun waktu itu debit airnya sedang kecil. Yang kedua, oleh ALLWET (All Women's Exploratory Team), yang difasilitasi oleh Sobek Expeditions, juga pada tahun 1987, untuk sebuah episode serial dokumenter petualangan Spirit of Adventure di saluran TV ABC bertajuk Headhunter's Legacy. Namun mereka memutuskan tidak jadi mengarunginya setelah scouting menggunakan helikopter memperlihatkan jeram-jeram yang sangat besar dan panjang di sungai itu.
| Rekaman acara TV ABC bertajuk Headhunter's Legacy yang diunggah di YouTube. Di sini juga diceritakan sekilas mengenai upaya pengarungan yang dilakukan Dave Ferguson, di menit 23:45 - 25:00. |
Berdasarkan sumber informasi lain yang pernah saya temukan, ada dua orang/kelompok lain yang tercatat pernah mengarungi Sungai Boh. Yang pertama, merujuk rubrik Profil di majalah Jejak edisi Januari 2017, (Alm.) Sinarmas Djati dkk. (saya berasumsi dia tidak sendiri), seorang pionir arung jeram Indonesia dan sesepuh Mapala UI, pernah mengarungi Sungai Boh pada tahun 1979. Dan yang kedua, berdasarkan sebuah artikel di blog kareumbi.wordpress.com, Wanadri juga pernah mengarungi Sungai Boh pada tahun 1987. Sayangnya, tidak saya temukan informasi lebih detil mengenai kedua pengarungan itu, termasuk segmen mana yang mereka arungi.
Sejauh yang dapat saya temukan hingga kini, hanya buku Shooting The Boh inilah yang menyajikan gambaran mengenai segmen gorge Sungai Boh yang penuh jeram itu, meski tak terlalu detil dan lengkap. Maka di tulisan ini saya akan mencoba menyusun kembali kepingan gambaran tentang sungai itu yang diperoleh dari buku ini, dan membandingkannya dengan tampilan citra satelit Apple Maps di situs satellites.pro, untuk membuat dugaan letak jeram-jeram di dalamnya.
Beberapa Kejanggalan
Karena sudah sering mengamati tampilan citra satelit Sungai Boh, terutama waktu menulis tentang tiga sungai berjeram di Kalimantan yang saya pikir menarik diarungi itu, dalam benak saya sudah ada bahan-bahan informasi yang sedikit banyak mempengaruhi pembayangan saya atas sungai dan jeram-jeram yang diceritakan dalam buku ini ketika membacanya. Meski demikian, ketika membaca, secara umum saya mendapati kesan bahwa jeram-jeram yang diceritakan ternyata jauh lebih besar dari yang mulanya saya bayangkan.
Jeram besar pertama yang mereka jumpai dan kemudian mereka arungi, misalnya, digambarkan sebagai dua buah drop setinggi 20 kaki (sekitar 6 m): “There are two big drops, about twenty feet, but it’s impossible to portage around it and we think we can run it.” (hal. 64). Mencoba membayangkan drop setinggi itu, saya teringat Tutea Falls, sebuah jeram berupa air terjun setinggi tujuh meter (sekitar 23 kaki) di Sungai Kaituna, Selandia Baru. Tutea Falls memang dikenal sebagai air terjun runnable komersial tertinggi di dunia yang sudah sering diarungi dengan perahu karet [referensi]. Tetapi membayangkan dua air terjun hampir setinggi itu, di sungai yang lebih besar, berturut-turut dalam satu rangkaian jeram, apalagi jeram yang baru pertama kali ditemui, bagi saya terasa lebih wajar dinilai unrunnable. Beda cerita kalau ternyata yang dimaksud 20 kaki itu adalah tinggi keseluruhan jeram, yang berarti bahwa masing-masing drop tingginya 10 kaki (sekitar 3 m). Atau jika drop yang dimaksud tidak benar-benar berupa air terjun vertikal, melainkan turunan landai. Ini akan lebih masuk akal. Sayangnya, kebanyakan deskripsi teknis semacam itu di dalam buku ini memang tidak cukup rinci, dan kadang-kadang terasa kurang masuk akal bagi saya.
Mencoba bersangka baik tanpa harus menuduh informasi dalam buku ini sebagai kebohongan (bagaimanapun, penulis telah menyatakan di bagian acknowledgement bahwa: "everything on these pages is as true as I have been able to make it"), saya masih bisa memaklumi bahwa, sering kali, persepsi manusia memang kurang bisa diandalkan untuk menghasilkan data yang secara objektif cukup presisi. Belum lagi bila persepsi itu dibayangi emosi, misalnya rasa takut ketika melihat jeram besar yang akan diarungi. Oleh karena itu, saya cenderung menganggap gambaran teknis yang bagi saya kurang masuk akal seperti itu sebagai penguat kesan kualitatif saja.
Contoh lain adalah ketika penulis menggambarkan pengarungan hari pertama mereka yang begitu lambat hingga terasa membosankan dengan: "we were moving downriver at about twenty yards an hour" (hal. 63). 20 yard per jam, setara sekitar 18,3 meter per jam, rasanya terlalu lambat, bahkan meski memperhitungkan waktu yang mereka habiskan untuk scouting jeram, sehingga bagi saya, kurang masuk akal untuk ditelan mentah-mentah kecuali dianggap sebagai semacam majas hiperbola belaka. Masih ada beberapa bagian lain di mana saya merasa deskripsi buku ini tidak cukup meyakinkan, biasanya soal jarak, sehingga saya kadang-kadang mengabaikannya bila deskripsi itu tidak dapat membantu—atau malah mempersulit—proses pencocokan dengan tampilan peta citra satelit.
Asumsi
Menyadari bahwa pengarungan mereka dilakukan lebih dari tiga dekade yang lalu, tentu sangat besar kemungkinan bahwa jeram-jeram yang digambarkan di buku ini memang sudah tak lagi persis sama dengan yang ditampilkan di citra satelit. Namun, saya mengandalkan asumsi bahwa meskipun seandainya memang telah terjadi perubahan pada jeram-jeram itu, jeram-jeram yang besar akan tetap besar dan jeram-jeram yang panjang akan tetap panjang, sehingga gambaran dari buku ini masih memungkinkan untuk dicocokkan dengan tampilan citra satelit yang ada sekarang. Asumsi ini mendapatkan dukungan dari secuplik rekaman jeram-jeram Sungai Boh yang di-scouting ALLWET dari helikopter dalam acara TV ABC (lihat menit 18:01 - 18:21), yang sebagian dapat saya identifikasi sebagai salah satu jeram terbesar yang bisa dilihat di tampilan citra satelit pada koordinat 1.242592 N, 115.352938 E.
|
|
|
| Ada setidaknya lima tanda berupa bebatuan yang terlihat cukup sesuai antara tampilan citra satelit jeram di titik koordinat 1.242592 N, 115.352938 E dengan rekaman jeram yang terlihat dalam video Headhunter's Legacy menit ke 18:01. Ini menunjukkan bahwa bentukan jeram-jeram di Sungai Boh kemungkinan masih belum mengalami perubahan yang terlalu signifikan sejak tahun 1987, setidaknya sampai gambar citra satelit diambil. |
Menandai Dua Jeram Terbesar
Jika memperhatikan tampilan citra satelit sepanjang segmen gorge Sungai Boh, terdapat dua rangkaian jeram yang terihat paling mencolok karena jeramnya kelihatan besar dan juga panjang. Yang pertama berada di titik koordinat 1.300207 N, 115.371438 E (sebut saja 'Jeram Panjang I'), dan yang kedua di 1.242592 N, 115.352938 E (sebut saja 'Jeram Panjang II'). Kedua jeram ini adalah jeram yang sejak awal membaca sudah saya nantikan kemunculannya dalam cerita pengarungan mereka, sebab rasanya mustahil bila jeram sebesar dan sepanjang ini tidak meninggalkan kesan—entah positif atau negatif—yang cukup layak diceritakan. Andai mereka mengarunginya, tentulah pengalaman itu akan menjadi sangat heroik dan layak diceritakan. Jika tidak diarungi, entah karena terlalu besar atau berbahaya, tentu akan menjadi lebih penting lagi untuk diceritakan.
Seperti yang saya perkirakan, dari empat jeram yang tidak mereka arungi, dua di antaranya digambarkan sebagai jeram yang sangat besar. Yang pertama, mereka jumpai pada hari keempat pengarungan. Digambarkan bahwa: "around the corner the entire river funnels into one tremendous waterfall" (hal. 120); dan "... the rapids ahead were over a mile long, with one hundred feet of drop. There was a short calm section at the end of it and then more big water as far as they could see" (hal. 122). Di jeram panjang itu terdapat bentukan (feature) yang mereka sebut 'The Boh Constrictor', berupa: "a series of huge pourovers [that] head for the big drop" (hal. 124).
Gambaran-gambaran mengenai jeram ini, saya pikir cukup sesuai dengan tampilan Jeram Panjang I yang terletak di titik koordinat 1.300207 N, 115.371438 E, dan bentukan jeram kedua tepat setelah jeram di titik koordinat tersebut, saya duga, adalah jeram yang disebut 'The Boh Constrictor'. Memang, kalau diukur pada peta, panjang rangkaian jeram ini tak sampai satu mil. Namun, sebagaimana telah saya kemukakan sebelumnya, pada kasus ini saya lagi-lagi harus menganggap hal itu sekadar sebagai penguat kesan bahwa jeram yang mereka hadapi itu memanglah sangat panjang. Mereka melewati jeram itu dengan berjalan kaki melalui darat, sementara perahu mereka dilarung (dihanyutkan) tanpa awak melalui jeram lalu kemudian dicegat di akhir jeram—sebuah teknik yang oleh Dave Heckman disebut 'ghostboating'.
|
| Tampilan citra satelit Jeram Panjang I, salah satu jeram terbesar di Sungai Boh, yang terletak di titik koordinat 1.300207 N, 115.371438 E. |
Jeram besar yang kedua mereka jumpai pada sore hari keenam pengarungan, dan meskipun tidak disebutkan soal panjangnya, ketika salah satu guide menggambarkan jeram itu, katanya: "The whole character of the trip has changed. What we’ve seen up until now—everything we’ve seen on the river until now—is child’s play. Up ahead are ten-, twenty-, thirty-foot waterfalls ... " (hal. 173-174). Tanpa harus menelan mentah-mentah detil teknisnya, deskripsi itu cukup jelas menekankan betapa jeram yang mereka hadapi saat itu adalah jeram yang jauh lebih besar dibanding semua jeram-jeram di atasnya, bahkan dibanding Boh Constrictor. Dan Jeram Panjang II yang terletak di titik koordinat 1.242592 N, 115.352938 E, pada tampilan citra satelit jelas terlihat sebagai jeram paling besar di seluruh segmen gorge Sungai Boh, lengkap dengan rangkaian drop besar dengan hole selebar sungai yang sepertinya mustahil dihindari. Untuk melewati segmen jeram ini, mereka melakukan portaging—membawa semua barang dan peralatan, termasuk perahu yang dikempeskan dan dilipat, berjalan kaki lewat darat sampai ke akhir jeram. Proses portaging itu memakan waktu sehari penuh pada hari ketujuh. Namun mereka baru melanjutkan pengarungan pada hari kesembilan karena pada hari kedelapan, selain sungai itu banjir, para guide masih kelelahan sehingga butuh tambahan waktu istirahat.
|
| Tampilan citra satelit Jeram Panjang II yang terletak di titik koordinat 1.242592 N, 115.352938 E. Ini adalah rangkaian jeram yang terlihat paling besar dan panjang di seluruh segmen gorge Sungai Boh. |
Menyusun Kepingan Kronologis
Setelah menandai kedua jeram terbesar itu di peta, saya mencoba mengidentifikasi jeram-jeram lainnya dengan cara mencocokkan tampilan citra satelit dengan gambaran sungai sesuai alur cerita pengarungan mereka secara kronologis. Meski banyak bagian yang tidak diceritakan, apalagi digambarkan dengan cukup jelas dan detil, cara ini saya pikir akan cukup membantu untuk setidaknya meletakkan potongan gambaran cerita yang sesuai dengan kemungkinan tempat terjadinya. Seperti menyusun keping-keping puzzle tak lengkap di atas sketsa atau bayang-bayang gambarnya.
| Hari 1 |
|
[#01] [#02] [#03] [#04] [#05] [#06] [#07] [#08] |
Jeram pertama yang bisa saya identifikasi adalah jeram besar yang mereka jumpai selepas istirahat siang di hari pertama pengarungan; jeram dengan dua drop setinggi 20 kaki yang sudah sempat dibahas. Narator menggambarkan bahwa: "There are two big drops, about twenty feet, but it’s impossible to portage around it." (hal. 64). Tanpa harus memercayai tingginya, bahwa jeram itu terdiri dari dua buah drop besar, adalah ciri utama yang cukup mudah dilihat pada tampilan citra satelit. Kebetulan, jeram pertama yang kelihatan paling mencolok di awal segmen gorge Sungai Boh adalah jeram di titik koordinat 1.371491 N, 115.379353 E, dan di jeram ini, dapat dilihat seperti ada dua buah drop berurutan.
|
| Jeram di titik koordinat 1.371491 N, 115.379353 E yang saya duga adalah jeram besar dengan dua drop tinggi yang mereka temui menjelang sore hari pertama pengarungan. Oleh salah satu guide, jeram ini dinamai 'Bee No Portage'. |
Jeram ini terletak sekitar 6,5 km dari Long Lebusan, desa di mana mereka menginap sebelum mulai mengarungi Sungai Boh. Diceritakan bahwa mereka mulai bertolak pukul 10.15 pagi, dan progress pengarungan mereka di hari pertama itu sangat lambat karena mereka selalu berhenti untuk melakukan scouting di setiap jeram yang mereka temui, dan baru menjumpai jeram besar dengan dua drop itu selewat istirahat makan siang. Di citra satelit terlihat ada cukup banyak jeram yang lebih kecil dan tidak terlalu mencolok sebelum jeram besar ini. Dengan memperhitungkan perkiraan waktu untuk scouting di jeram-jeram tersebut, saya kira sangat masuk akal jika mereka sampai di jeram besar ini setelah lewat siang hari.
Ketika mengarungi jeram itu, dua perahu mereka terbalik, dan mereka harus melakukan penyelamatan terhadap para awak yang jatuh sehingga waktu yang mereka habiskan untuk berurusan dengan kejadian itu dan kemudian memulihkan diri, tentulah cukup lama. Setelah jeram itu, tidak diceritakan lagi mengenai jeram lain di hari pertama itu. Hanya bahwa mereka kemudian tiba-tiba dikerumuni serangga sejenis lebah yang nampaknya tertarik pada keringat manusia dan terus mengikuti mereka sejak melewati jeram itu sampai ke tempat berkemah di malam pertama. Hal ini, saya pikir, menyiratkan bahwa mereka memang tidak menemui jeram lain yang cukup besar setelah jeram dengan dua drop berurutan yang kemudian oleh salah satu guide dinamai 'Bee No Portage' itu.
| Hari 2 |
|
[#09] [#10] [#11] [#12] |
Maka ketika di pagi hari kedua pengarungan mereka diceritakan bahwa: "The very first [rapid] we came to was so horrendous—two hundred feet of continuous, boiling white water— that the guides decided to play it safe. We would line the boats down the rapids rather than run them" (hal. 87-88), dengan cukup yakin saya langsung menduga bahwa jeram yang dimaksud itu adalah jeram yang berada di titik koordinat 1.361848 N, 115.378503 E. Berdasarkan tampilan citra satelit, jeram di titik ini kelihatan hampir sama, bahkan sepertinya sedikit lebih besar dibanding jeram sebelumnya. Sebagaimana disebutkan dalam kutipan di atas, mereka memutuskan tidak mengarungi jeram itu. Alih-alih, mereka melakukan lining untuk melewatinya; mengikat kedua ujung perahu dengan tali tambatan panjang kemudian melarungnya tanpa awak melalui jeram sambil tetap memegang tali tambatan sehingga perahu tidak hanyut terbawa sungai dan mereka bisa menariknya kembali ke tepi sungai setelah jeram terlewati.
|
| Jeram di titik koordinat 1.361848 N, 115.378503 E yang saya duga adalah jeram pertama yang mereka jumpai di hari kedua pengarungan dan tidak mereka arungi. |
Disebutkan bahwa jarak pengarungan mereka pada hari kedua tak sampai 2 mil (sekitar 3 km). Namun, melihat gambaran jeram-jeram yang mereka temui di pagi hari berikutnya, saya menduga jarak sesungguhnya mungkin sedikit lebih pendek dari yang disebutkan. Sayangnya, selain proses lining di jeram itu—yang digambarkan penuh perjuangan yang cukup merepotkan dan sepertinya memakan waktu lama—tak diceritakan lagi mengenai jeram lain yang mereka temui di hari kedua pengarungan. Padahal, terlihat di citra satelit, terdapat setidaknya dua jeram cukup mencolok yang sepertinya lumayan besar setelah jeram yang saya duga mereka lining itu. Apakah mereka mengarunginya? Ataukah mereka tidak mengarunginya? Membaca kembali cerita pengarungan hari kedua mereka, saya terpagut pada kalimat pembuka: "As it turned out, we didn’t have to worry about running any rapids that day." (hal. 87). Pernyataan itu membuat saya berpikir—setelah menyadari bahwa yang diceritakan pada hari itu melulu soal perjuangan melakukan lining melewati jeram— bahwa mungkin mereka memang tidak mengarungi satu jeram pun pada hari itu.
| Hari 3 |
|
[#13] [#14] [#15] [#16] [#17] [#18] [#19] [#20] [#21] |
Mengawali pagi hari ketiga, diceritakan bahwa para guide melakukan scouting sebelum mereka bertolak meninggalkan lokasi kemah. Scouting itu sepertinya memakan waktu cukup lama dan saya duga mencakup beberapa jeram di depan mereka. Setelah kembali, para guide melaporkan bahwa: "The water downriver was 'classy,' they said. The rapids were big, but there was a route through them and we should have a good Class IV run" (hal. 101).
Istilah 'classy' cukup sering dipakai di dunia arung jeram barat untuk menyebut segmen sungai yang jeram-jeramnya cukup besar dan menantang, berkisar kelas III hingga kelas IV, yang menuntut kemahiran teknikal tertentu dalam mendayung dan bermanuver, namun relatif tidak terlalu berbahaya untuk diarungi. Inilah jenis jeram yang dicari-cari para pengarung jeram, dan kalau sudah ketemu, bakal sering didatangi kembali.
Melihat tampilan citra satelit, jeram-jeram mulai dari jeram di titik koordinat 1.343809 N, 115.379476 E hingga sekitar 1,5 km setelahnya terlihat paling cocok untuk disebut "classy". Jeram-jeramnya relatif pendek tetapi terlihat lumayan besar, dan diselingi flat cukup panjang di antaranya. Jeram-jeram inilah, saya duga, yang mereka scouting pada pagi hari ketiga itu. Dengan kata lain, lokasi kemah malam kedua mereka berada tak jauh di atas jeram-jeram ini.
|
| Tampilan citra satelit jeram di titik koordinat 1.343809 N, 115.379476 E (jeram paling atas pada gambar) dan beberapa jeram di bawahnya. Jeram-jeram ini, saya duga, adalah jeram-jeram yang mereka sebut 'classy'. |
Setelah sempat menghabiskan sekitar satu jam untuk menambal salah satu perahu yang baru ketahuan bocor ketika hendak melanjutkan pengarungan, mereka pun mengarungi jeram-jeram "classy" itu. Mengenai jeram-jeram itu, narator menggambarkan bahwa: "... the rapids were runnable—turbulent but thrilling and without serious danger" (hal. 103). Kemudian, setelah melewati segmen itu, pada siang harinya, mereka mengarungi jeram-jeram kecil yang oleh narator digambarkan sebagai: "stretch of riffles—easy, class II rapids—which meant the gradient of the gorge had reduced and the water wasn’t falling downhill so fast" (hal. 103), sebelum kemudian beristirahat untuk makan siang. Jeram-jeram kelas II yang dimaksud itu, menurut dugaan saya berdasarkan tampilan citra satelit, adalah jeram-jeram di sekitar titik koordinat 1.326301 N, 115.373315 E. Setelah jeram-jeram kecil ini dapat dilihat ada beberapa jeram besar dan cukup panjang. Jeram-jeram itulah, sepertinya, yang di-scouting oleh para guide ketika mereka berhenti untuk istirahat dan makan siang.
Seperti ketika pagi, proses scouting siang itu juga diceritakan memakan waktu lama, sehingga saya duga mereka melakukan scouting cukup jauh, mungkin sampai beberapa jeram di depan. Sekembali dari scouting, para guide melaporkan bahwa: "... there were all sorts of obstacles downriver: a rock pile, some logs, and lots more rapids" (hal. 104), dan memutuskan bahwa mereka bisa mengarunginya. Tetapi karena hari sudah terlalu sore, mereka memutuskan untuk menggelar kemah, dan akan mengarungi jeram-jeram itu keesokan hari.
| Hari 4 |
|
[#22] [#23] [#24] [#25] [#26] [#27] [#28] [#29] [#30] |
Di pagi hari keempat, mereka pun mengarungi jeram-jeram itu. Tiga di antaranya mereka beri nama: 'Boh Dacious', 'Boh Derek', dan 'Boh Diddley'. Tidak diterangkan lebih rinci soal jeram-jeram mana yang diberi nama tersebut. Namun, karena umumnya jeram-jeram yang diberi nama adalah jeram-jeram besar, saya menduga jeram-jeram tersebut secara berurutan adalah jeram yang berada di titik koordinat 1.324185 N, 115.371607 E; 1.318884 N, 115.371232 E; dan 1.303984 N, 115.371518 E; karena ketiga jeram itulah yang kelihatan paling besar di antara jeram-jeram lain di segmen yang menurut dugaan saya mereka arungi pada hari itu.
|
|
|
| Tampilan citra satelit jeram-jeram yang secara berurutan saya duga adalah Boh Dacious [1.324185 N, 115.371607 E], Boh Derek [1.318884 N, 115.371232 E], dan Boh Diddley [1.303984 N, 115.371518 E] |
Setelah itu, mereka menjumpai jeram besar dan panjang yang, sebagaimana sudah saya uraikan sebelumnya, saya yakini adalah Jeram Panjang I yang belokasi di titik koordinat 1.300207 N, 115.371438 E. Mereka melakukan ghostboating—perahu tanpa awak dilarung (dihanyutkan) lalu dicegat kembali di akhir jeram, sedangkan para awak berjalan lewat darat—untuk melewati jeram ini, tetapi cuma sempat menyelesaikan pelarungan satu perahu pada sore hari itu. Dua perahu lainnya mereka larung keesokan harinya.
| Hari 5 |
|
[#31] [#32] [#33] [#34] [#35] |
Di hari kelima, mereka melanjutkan pengarungan selepas siang hari, setelah menyelesaikan ghostboating dua perahu yang tersisa. Proses ghostboating-nya diceritakan penuh perjuangan dan drama, dan mereka baru bisa melanjutkan pengarungan setelah makan siang. Tak begitu lama melakukan pengarungan, mereka menjumpai sebuah jeram besar lagi. ""We call this a pinball rapid," Mike said. "It’s full of rocks and boulders but it’s runnable. It will just require a lot of fast maneuvering"" (hal. 145).
Jika mencermati proses ghostboating Jeram Panjang I yang diceritakan, saya menduga mereka memulai kembali pengarungan di titik koordinat 1.299476 N, 115.370205 E. Dan karena, berdasarkan alur cerita, jeram pinball itu sepertinya adalah jeram besar pertama yang mereka temui tak lama setelah memulai kembali pengarungan, dugaan saya mengarah kepada jeram yang berada di titik koordinat 1.298782 N, 115.368025 E. Jeram ini terlihat berbatu-batu dengan jalur yang menuntut manuver cepat, seperti yang disebutkan kutipan di atas. Ketika mengarungi jeram pinball itu, salah satu perahu mereka terbalik, dan mereka harus menyelamatkan salah satu awak yang hanyut cukup jauh.
|
| Tampilan citra satelit dugaan lokasi jeram pinball [1.298782 N, 115.368025 E]. |
Setelah jeram pinball itu, tidak disinggung lagi mengenai jeram lain sampai mereka memutuskan untuk berkemah. Diceritakan bahwa jarak yang mereka arungi hari itu tidak begitu jauh, dan mereka menggelar kemah di dekat mulut sebuah anak sungai: "Camp that night was a short way downriver on a boulderstrewn spit next to a small tributary stream" (hal. 149). Anak sungai yang cukup jelas bisa dilihat di peta berada di sebelah kanan tepat di belokan sungai di mana terlihat ada jeram cukup panjang pada titik koordinat 1.296686 N, 115.365829 E. Jaraknya hanya sekitar 500 meter setelah Boh Constrictor. Sejujurnya, saya merasa titik ini berada terlalu dekat dari Boh Constrictor. Tetapi inilah satu-satunya lokasi di mana terdapat muara anak sungai, sesuai yang di deskripsikan, pada rentang jarak yang masuk akal untuk diarungi dalam waktu setengah hari.
| Hari 6 |
|
[#36] [#37] [#38] [#39] [#40] [#41] [#42] [#43] [#44] [#45] [#46] [#47] [#48] [#49] [#50] [#51] [#52] [#53] |
Pada pagi hari berikutnya, yakni hari keenam pengarungan, debit air sungai mulai naik setelah malam sebelumnya turun hujan, dan disebutkan bahwa jeram-jeram pertama yang mereka arungi di pagi itu adalah jeram-jeram kelas III: "We were on the river early that morning since the guides reported that it had finally started to rise, and the first half hour or so restored our good moods. The rapids we sailed through were a pleasant Class III, and we took them perfectly" (hal. 160). Dapat dilihat pada tampilan citra satelit di bawah dugaan lokasi kemah mereka, sepanjang sekitar 1,5 km, terdapat setidaknya empat jeram yang cukup layak disebut jeram-jeram kelas III.
Setelah mengarungi segmen berjeram kelas III itu, pada suatu titik mereka lalu menjumpai sebuah jeram besar lagi. Para guide melakukan scouting, dan melaporkan bahwa "there was a six-foot waterfall in the middle of the river, and no way to get around it" (hal. 164). Mereka memutuskan melakukan lining dan ghostboating untuk melewati jeram itu. Ketika lining, digambarkan bahwa: "Mike’s boat was the first to appear; he’d decided to avoid the main drop and take it down a “sneak,” a small waterfall at the edge of the current, perhaps four feet wide, that poured with some force over a ten-foot drop. At the bottom of it was a churning pool of white water and a good-sized rock." (hal. 169). Perahu Mike sempat tersangkut ('wrapped') di batu di bawah drop itu, dan butuh waktu cukup lama untuk melepaskannya. Lalu, beberapa waktu kemudian, hujan turun lagi, dan debit air jadi semakin tinggi hingga "the river had completely submerged the boulder that Mike’s boat had wrapped on. It had risen at least five feet in twenty minutes" (hal. 171).
Pada tampilan citra satelit, jeram yang menurut saya terlihat paling sesuai dengan gambaran itu adalah yang terletak di titik koordinat 1.275697 N, 115.361113 E. Meski mungkin tidak begitu tinggi (digambarkan hanya sekitar 6 kaki atau 1,8 meter), air terjun atau drop ini terlihat melintangi seluruh lebar aliran sungai, mirip bendungan, dan arus air dibawahnya terlihat seperti hole yang besar. Selain itu, di tepi kiri drop juga terlihat bentukan seperti yang digambarkan sebagai jalur "sneak" yang di bawahnya terdapat batu di mana salah satu perahu yang di-lining sempat tersangkut. Batu itu memang tidak kelihatan di tampilan citra satelit karena debit air cukup besar, namun terdapat hole kecil yang cukup jelas menandakan bahwa memang ada batu di bawah permukaan air.
|
| Tampilan citra satelit jeram yang terletak di titik koordinat 1.275697 N, 115.361113 E. Jeram ini (yang berada di tengah gambar), saya duga, adalah jeram six-foot waterfall yang tidak mereka arungi. |
Setelah berhasil melewati jeram itu, sekitar tengah hari, mereka pun sampai di jeram yang digambarkan sangat besar, seperti yang paling besar di sungai itu, yakni yang saya yakini merupakan Jeram Panjang II yang telah saya ceritakan sebelumnya berada di titik koordinat 1.242592 N, 115.352938 E. Jika diperhatikan di peta, dengan dugaan-dugaan yang telah dibuat sejauh ini, jarak yang mereka arungi di hari keenam ternyata cukup jauh. Sekitar 7 km. Sedikit lebih jauh dibanding jarak yang mereka arungi di hari pertama. Hal ini sebenarnya terasa agak janggal, mengingat mereka sempat melakukan lining yang cukup memakan waktu di salah satu jeram, dan di sepanjang segmen itu juga ada beberapa jeram lain yang terlihat cukup besar. Tetapi bila mempertimbangkan kondisi debit air yang diceritakan telah mengalami peningkatan, yang berarti alirannya juga menjadi lebih laju dibanding hari-hari sebelumnya, hal ini masih cukup masuk akal. Adapun jeram-jeram selain drop yang mereka lining itu, meski memang lumayan besar, namun jalurnya kelihatan cukup jelas sehingga mereka mungkin tidak mengalami kendala ketika mengarunginya.
| Hari 7 - 9 |
|
[#54] [#55] [#56] [#57] [#58] [#59] [#60] [#61] [#62] [#63] [#64] [#65] |
Setelah menyelesaikan portaging melewati Jeram Panjang II pada hari ketujuh, ditambah istirahat sehari penuh di hari kedelapan, mereka melanjutkan pengarungan pada hari kesembilan. Tidak cukup jelas digambarkan sejauh apa mereka melakukan portaging dan di mana mereka memulai kembali pengarungan. Namun diceritakan bahwa di pengarungan pada pagi hari kesembilan itu mereka melewati beberapa jeram yang cukup besar namun runnable. "The white water looked rough, with plenty of hydraulic terrors—drops, chutes, and holes—but there turned out to be routes through them" (hal. 211), narator menggambarkan jeram-jeram itu. Melihat tampilan citra satelit, saya menduga jeram pertama yang mereka arungi hari itu adalah jeram di titik koordinat 1.237698 N, 115.349181 E. Penampakannya cukup sesuai dengan deskripsi pada kutipan. Kelihatannya cukup menakutkan, banyak drop dan hole, namun terdapat jalur yang relatif aman untuk diarungi. Flat di atas jeram tersebut juga kelihatan cukup tenang dan panjang untuk dijadikan lokasi bertolak.
Kemudian diceritakan bahwa setelah itu, mereka melewati jeram-jeram kelas II, sempat singgah melakukan scouting singkat, kemudian melanjutkan pengarungan dan menemui sebuah jeram besar lagi. Dikatakan bahwa: "After a twenty-minute scout, the guides returned and said we were in luck. The rapids were big, and full of huge standing waves, but there was a run" (hal. 212). Jeram yang dimaksud itu, saya duga, adalah jeram di titik koordinat 1.233536 N, 115.333845 E. Di atas jeram ini ada segemen cukup panjang yang sepertinya adalah jeram-jeram kelas II, dan sebuah jeram agak besar tetapi pendek di tengahnya yang mungkin tergolong kelas III yang saya duga adalah jeram yang disebutkan sempat mereka scouting singkat.
Setelah itu, mereka istirahat makan siang, kemudian melanjutkan pengarungan lagi. Narator lalu menggambarkan: "After lunch [...] the gorge changed even more dramatically. The water became extremely calm. Suddenly we could see reflections: the jungle rooted in the water, the spin of soft, gentle whirlpools, the bright flicker of the river goddess as she floated just below the current" (hal. 213). Deskripsi ini, saya pikir, cukup sesuai dengan tampilan citra satelit di segmen sepanjang sekitar 3 km setelah jeram di titik koordinat 1.233536 N, 115.333845 E yang kelihatan tanpa jeram.
Kemudian, sore harinya, mereka menemui sebuah jeram besar lagi. Mereka memutuskan tidak mengarunginya, melainkan melakukan lining untuk melewatinya. Proses lining berlangsung lama dan baru menyelesaikan satu perahu ketika sore sehingga mereka harus berkemah di dekat jeram itu dan melanjutkan lining keesokan harinya.
| Hari 10 |
|
[#66] [#67] [#68] [#69] [#70] [#71] [#72] |
Di hari kesepuluh, mereka melanjutkan proses lining perahu kedua. Kemudian salah satu guide bernama Mike mengusulkan untuk mengarungi jeram itu sendirian dengan perahu terakhir untuk mempersingkat waktu. Mereka mengizinkannya, dan dia berhasil mengarunginya. Mereka pun melanjutkan pengarungan. Tidak disebutkan adanya jeram lain lagi setelah itu, menyiratkan bahwa jeram yang di-lining dan diarungi Mike sendirian itu mungkin adalah jeram terakhir yang cukup besar di sepanjang segmen gorge Sungai Boh. Jika benar demikian, maka jeram itu mungkin adalah jeram di titik koordinat 1.211677 N, 115.316506 E. Meski tak terlihat ada ciri lain yang bisa dicocokkan dengan gambaran cerita, inilah jeram terakhir di segmen gorge Sungai Boh yang pada tampilan citra satelit kelihatan cukup besar.
Setelah melewati jeram itu, di tengah pengarungan hari itu, mereka akhirnya melihat tanda-tanda aktivitas pembalakan (logging). Sore harinya mereka menggelar kemah di sebuah pantai dekat muara sebuah anak sungai yang menurut dugaan saya adalah di titik koordinat 1.197260 N, 115.182557 E.
| Hari 11 |
|
[#73] [#74] [#75] [#76] |
Pada sore hari kesebelas, sekitar pukul empat, mereka menjumpai dermaga dan beberapa pondok di sebelah kanan sungai. Menurut dugaan saya, itu adalah pondok penebang kayu yang kemungkinan berada di titik koordinat 1.067454 N, 115.076500 E. Di sini mereka bertemu sebuah long boat, dan kemudian menyewa long boat itu untuk mengantarkan mereka ke Long Bagun. Dikatakan bahwa di depan mereka masih ada jeram yang harus dilalui sebelum gelap. Jeram itu, saya duga, adalah jeram di titik koordinat 1.057168 N, 115.079557 E. Jeram ini sepertinya adalah yang dikenal sebagai Riam Huluq.
Menutup tulisan ini, berikut adalah lokasi-lokasi jeram dan titik kemah mereka menurut dugaan saya:
Apakah suatu saat nanti ada yang tertarik mengarungi sungai ini lagi?



%20with%20marker.jpg)








