Pages - Menu

Metafora yang Layak Direnungkan - Membaca 'Rumah Kertas'


Buku ini saya beli sudah lebih dari setengah tahun yang lalu. Dua—tiga halaman awal sudah sempat saya baca, pasca beli waktu itu, namun tak sanggup saya lanjutkan hingga selesai. Faktor utamanya adalah karena otak saya serasa harus bekerja satu setengah kali lebih keras untuk mengunyah kalimat-kalimatnya. 

Memang, membaca novel hasil terjemahan dari bahasa asing acap kali terasa “awkward”. Struktur kalimatnya kerap terasa kurang alamiah ketika dibaca. Diksi-diksinya pun kadang terasa kurang akrab di benak. Hal itu mungkin dikarenakan penerjemah berusaha menjaga agar terjemahannya tidak terlalu menyimpang dari struktur dan nuansa teks asalnya.

Memang ada makna-makna tersirat (tak tertulis) yang tak kalah penting dibanding kata-kata yang tersurat (tertulis) yang menjadikan sebuah karya sastra sebagai sesuatu yang utuh. Bagaimana menjaga agar yang tersirat itu tak hilang ketika yang tersurat (kata-kata dan struktur kalimat) dialihbahasakan, kiranya adalah tantangan terbesar yang membuat proses menerjemah bisa jadi sama sulitnya dengan—bahkan mungkin lebih sulit daripada—proses mengarang karya itu sendiri.

Adapun buku ini, meski tak lepas dari ke-“awkward”-an itu, namun, saya rasa masih jauh lebih mending daripada beberapa buku terjemahan lain yang pernah saya icipi dalam hidup ini, yang sampai memaksa otak saya bekerja hampir tiga kali lebih keras dari biasanya.

Kabar baiknya, novel ini cuma 76 halaman saja, yang membuatnya mungkin lebih cocok disebut novela. Inilah bahan pertimbangan yang membuat saya memutuskan membelinya waktu itu, meski menyadari bahwa berdasarkan pengalaman, buku-buku terjemahan sering kali tak terlalu enak dibaca.

Karena sedang lumayan senggang, saya pun mencoba kembali membaca buku ini. Pada awalnya memang masih terasa sama “awkward”-nya dengan dahulu, namun saya paksakan saja terus. Ceritanya sendiri sebenarnya cukup menarik. Terlebih karena yang diceritakan adalah sebuah “dunia” yang cukup aneh (dalam arti mengandung suatu hal baru yang cukup asing menurut standard pengalaman hidup saya) sehingga cukup merangsang rasa penasaran saya.

Terdiri dari empat bagian, bagian satu dan dua menurut saya adalah bagian yang terberat untuk dibaca. Ibarat perjalanan mendaki gunung, itu adalah bagian yang menanjak. Misteri yang cukup solid dibangun di awal cerita seperti kian memudar daya pikatnya seiring bergulirnya cerita.

Namun, menjelang akhir bagian ke dua, sebuah kenyataan kemudian terkuak, dan bagi saya terasa bagaikan petir menyambar di siang bolong. Di satu pihak, itu memperterang jawaban atas pertanyaan yang menjadi misteri sejak awal cerita. Di sisi lain, itu menghadirkan “dunia” baru yang diselimuti misteri yang lebih pekat lagi.

Misteri yang sungguh-sungguh "unik" dan "gila" (sebagamana disebutkan dalam resensi di sampul belakang buku ini), yang menjadikan sisa cerita kemudian terasa lebih ringan dibaca, meski di saat yang sama justru semakin dalam memasuki ranah pengalaman simbolik tanpa keterangan yang gamblang.

Ibarat perjalanan turun setelah berhasil mencapai puncak gunung; ia perlahan-lahan mengendapkan metafora-metafora yang lebih dari sekadar cerita tentang peluh, lelah, letih, terik matahari, dingin kabut, dsb., dalam diri. Pada akhirnya, judul ‘Rumah Kertas’ itu pun menjadi terasa kian bermakna, sebagai sesuatu yang nyata, sekaligus sebagai metafora yang sangat layak untuk direnungkan kembali.


April, 2022

Melankoli yang Ironis - Membaca 'Ibu Kota / Air Mata'


Membaca judul (dan ilustrasi) pada sampul buku ini, segera dapat diterka bahwa puisi-puisi di dalamnya bakal sangat kental dengan nuansa melankoli.

Melankoli yang ironis, menurut saya. Melankoli dalam peluk mesra Ibu Kota. Yang nampak jelas, sekaligus yang tersamar. Yang memuakkan, namun tak sanggup ditinggalkan. Yang dibenci, tapi selalu terkenang. Yang angkuh sekaligus rapuh. Yang menjanjikan harapan selagi menyajikan kekecewaan. Yang menyemai mimpi untuk dibunuhnya sendiri. Yang teramaikan oleh orang-orang kesepian, riuh ditenggelamkan kesunyian, terasing dalam bising.

Si Pengarang seperti coba mengungkap berbagai kegelisahan yang nampaknya sangat personal baginya. Namun, apakah kegelisahan-kegelisahan itu memang hanya merupakan kegelisahan baginya sendiri saja, ataukah sesungguhnya cukup relatable buat kebanyakan orang—terutama kalangan usia menjelang dewasa yang juga menggeluti Jakarta? Saya kira yang belakangan itu sangat dimungkinkan. Maka buku ini mungkin cukup layak dibaca.

Puisi-puisi dalam buku ini seperti menghadirkan tantangan bagi pembaca untuk menggali celah-celah kepekaan empatis dalam dirinya, melalui perjumpaan dengan bentuk-bentuk penghayatan realitas yang vulgar, dingin, muram, dan sedikit kasar.


April, 2022

Kudapan Berbudaya

Betapa kemudian terbayangkan, di sebuah kota yang begitu ramai, ada seorang yang diam-diam, di sela pekejaan utamanya, menebar jala ke udara,

menjaring serbuk-serbuk--atau mungkin biji-biji-- kesunyian dan melankolia dari keseharian yang menjemukan, mengolahnya dengan suatu cara yang nyaris rahasia,

mencampurnya dengan keluh kesah serta caci maki ke dalam adonan, lalu memanggangnya dalam tungku di atas bara amarah dan duka lara di bawah siraman cahaya lampu baca,

sehingga jadilah larik-larik sajak kudapan ringan siap kutip yang terkemas rapi dan menggemaskan di antara bingkai marjin yang lebar, dapat dipesan secara online agar segera diantarkan oleh kurir ke alamat mana saja sehingga bisa dinikmati siapa saja,

pada suatu pagi, sore, atau malam hari, dengan segelas air putih, teh, kopi, susu, sirup rasa buah, jus, minuman bersoda, atau alkohol, sambil berpura-pura jadi makhkuk berbudaya.


terinspirasi dari pembacaan 'Ibu Kota / Air Mata' 

April 2022

Membaca "Pentas Kota Raya" - Sebuah Impresi Singkat


Membaca 'Pentas Kota Raya' spontan mengingatkan saya pada Ahmad Tohari di satu sisi, dan Seno Gumira Ajidarma di sisi yang lain.

Tulisan-tulisan Fuad Hassan yang pernah saya cicipi sejauh ini cenderung bernada serius dan bernuansa akademis. Biasanya, berupa esai yang dikembangkan dari makalah-makalah yang pernah disampaikannya dalam kuliah, seminar, atau ceramah di berbagai tempat.

Meski dalam esai-esai tersebut gaya penuturannya pun memang sudah cukup luwes dan mudah dikunyah, dalam 'Pentas Kota Raya', keluwesan dan kerenyahan tersebut kian terasa ringan dan gurih di lidah.

Bentuk tulisannya mungkin masih cocok disebut esai. Tetapi, bagi saya, terasa lebih seperti prosa naratif berbetuk cerita pendek--bahkan mini--yang, bagaikan sebuah sungai kecil tepi sawah sebuah desa di suatu lereng gunung yang landai, mengalir lancar melambungkan percik-percik peristiwa imajinatif dalam balutan suara ricik yang seketika dapat menghadirkan sensasi segar dalam kepala (meski boleh jadi terasa getir dalam dada).

Lancar, tetapi tanpa nuansa ketergesa-gesaan sama sekali. Seperti bagaimana Ahmad Tohari biasa menggelar latar tempat dan suasana sebelum menggulirkan peristiwa yang hendak diceritakannya. Padahal yang dibahas dalam buku ini justru sangat akrab dengan gejala ketergesa-gesaan, yakni Jakarta.

Hampir serupa dengan esai-esai Seno Gumira Ajidarma, misalnya 'Affair' atau 'Tiada Ojek di Paris', 'Pentas Kota Raya' bagaikan hendak memotret Jakarta dalam sketsa kontras. Namun, bukan dengan manuver lincah nan akrobatik memainkan pisau-pisau analisis semiotika Barthes dan hegemoni kultural Gramsci, 'Pentas Kota Raya' menangkap realitas Jakarta secara agak lain. Yakni dengan menempatkannya dalam bingkai kebersahajaan dan kepedulian yang justru kerap tersisihkan bahkan tergusur darinya, lantas menerawangnya di bawah sorot lampu fenomenologi / eksistensialisme bercorak Heideggerian yang cukup terang meski tak begitu benderang. 

Terbit pertama tahun 1995, berbagai kenyataan yang dipotret buku ini mungkin sebagian, atau bahkan kebanyakan, sudah tak lagi aktual dan "relatable" dengan keadaan sekarang. Namun, sebagai sebuah pintu masuk menembus tembok realitas, gejala permukaan boleh tak sama lagi, tetapi pokok-pokok esensial yang mendasarinya bukan berarti sudah lain sama sekali.

Yang lebih menarik, bagi saya, bukan lagi apa yang digambarkan, melainkan bagaimana proses penggambaran itu berlangsung. Terlebih, sebagai orang yang asing dengan Jakarta, saya memang cuma bisa membayangkan kota itu sebagai bagian dari kisah-kisah negeri dongeng saja. Mungkin karena itu pula saya jadi merasa bahwa buku ini seperti kumpulan cerita-cerita mini.

Entah bagaimana bila yang membaca adalah orang yang memang sehari-hari berkecimpung dalam, dan menjadi bagian dari, Pentas Kota Raya itu sendiri. Cukup geli membayangkannya.


4 April 2022

Sungai Sekitar Gunung Lompobattang, Sulawesi Selatan #1 (Salo Baklasak - Salo Minrasak)

Berhubung saya kini telah kembali bermukim di Sulawesi Selatan, setelah kira-kira dua belas tahun tinggal di Yogyakarta, maka saya pun coba mencari-cari sungai-sungai alternatif yang potensial untuk menjadi tempat melakukan kegiatan olah raga petualangan kegemaran saya, yakni bermain kayak arus deras.

Sulawesi Selatan tentu memiliki banyak sekali sungai. Namun, karena pelaku kegiatan arung jeram di sini masih sangat sedikit, saya pikir, tentunya cukup banyak sungai-sungai berarus deras yang belum terjamah, apalagi terpetakan sebagai sungai berarus deras yang layak diarungi.

Tidak seperti di Yogyakarta (bahkan Pulau Jawa pada umumnya) yang memiliki banyak sekali kelompok pegiat petualangan termasuk arung jeram, baik dari kalangan mahasiswa pencinta alam maupun operator tur wisata, di Sulawesi Selatan, hampir tak pernah saya temui adanya kelompok yang melakukan kegiatan tersebut, kecuali satu-dua operator tur wisata di daerah Tana Toraja.

Sejak pertengahan dekade 1970-an, ketika kegiatan arung jeram mulai dikenal di Indonesia, hingga sekarang, Sulawesi Selatan memang sudah lumayan sering menjadi tujuan kegiatan ekspedisi arung jeram oleh kelompok-kelompok petualang dari Jawa, bahkan dari mancanegara. Sebutlah Sungai Lariang atau Sungai Sa'dang yang sudah terkenal itu. Atau sungai-sungai lainnya yaitu Sungai Karama, Sungai Uro, Sungai Rongkong, Sungai Maiting, Sungai Malua, dan Sungai Mata Allo yang juga sudah tercatat pernah diarungi oleh kelompok pengarung jeram dari Pulau Jawa maupun mancanegara.

Sungai-sungai yang telah saya sebutkan itu pada umumnya adalah sungai berdebit air besar (big volume/ big water river) yang tidak terlalu bergantung pada musim hujan untuk mejadikannya layak diarungi. Bagi operator tur wisata maupun mereka yang datang dari jauh, hal tersebut tentu menjadi faktor penting untuk dipertimbangkan. Sungai-sungai--yang dalam istilah akademisnya--"prennial" (mengalir sepanjang tahun) seperti itu boleh dikata adalah sungai yang ideal untuk berarung jeram, karena tidak harus bergantung pada musim hujan untuk mengunjungi dan mengarunginya.

Hal lain yang saya rasa juga terkait, adalah karena ekspedisi-ekspedisi arung jeram yang sejauh ini dilakukan oleh para kelompok petualang dalam negeri memang masih lebih berfokus pada arung jeram dengan perahu karet (yang umum disebut rafting). Bagi perahu karet, sungai-sungai yang layak diarungi tentu saja adalah yang relatif lebar dan airnya cukup tebal. Adapun pegiat arung jeram dalam negeri ini memang masih didominasi oleh pedayung perahu karet (rafter). Sementara pedayung kayak (kayaker) masih sangat sedikit jumlahnya.

Sebagai seorang yang menyebut diri kayaker, tak jarang timbul dorongan tersendiri dari dalam diri saya untuk mencari sungai-sungai yang mampu memaksimalkan potensi khas perahu kayak, yang menjadikannya "lebih" dari sekadar arung jeram. Ibarat penunggang sepeda motor, kalau bisa lewat jalan alternatif, mengapa harus lewat jalan raya? Demikianlah, maka saya pun jadi "gatal" memperhatikan peta, mencari-cari calon sungai-sungai alternatif yang siapa tahu layak diarungi, menandainya, lantas mengunjunginya ketika ada kesempatan.

Selain di bagian "perut", tempat bertemunya keempat "tentakel" Pulau Sulawesi, daerah lain di Sulawesi Selatan yang memiliki kontur pegunungan adalah di sekitar Gunung Lompobattang, sebelah timur Kota Makassar, atau daerah di sekitar Gunung Bulusaraung.

Mencari sungai yang memiliki jeram tentu wajib mempertimbangkan kontur rupa bumi, di antaranya, beda ketinggian (gradien) bagian hulu dan hilir aliran sungai. Tanpa gradien, tidak ada jeram. Oleh karena itu, sungai berjeram hampir selalu hanya ditemukan di wilayah sekitar pegunungan.

Di antara kedua gunung tersebut, Lompobattang sepertinya memiliki potensi yang lebih baik dibanding Bulusaraung. Ini saya simpulkan setelah sempat melihat-lihat beberapa sungai di sekitar Bulusaraung yang debit airnya kurang memuaskan. Membaca beberapa literatur di internet, saya temukan bahwa sepertinya hal itu dipengaruhi oleh struktur geologis kawasan tersebut yang merupakan kawasan karst. Konon katanya, sungai-sungai di wilayah karst kebanyakan memang "cenderung" bersifat intermittent (ada airnya pada saat musim hujan saja) bahkan ephemeral (ada airnya sehabis hujan saja), disebabkan oleh daya serap batuan kapur dasar sungainya.

Memang, itu hanya satu dari sekian faktor saja. Bukan tidak mungkin ada sungai potensial juga di daerah karst. Namun, mempertimbangkan kemungkinan lebih baik di seputar Lompobattang, saya pun coba lebih fokus di wilayah tersebut.

*

Sungai pertama yang saya sambangi adalah bagian hulu Salo (Sungai) Maros, yakni Salo Baklasak dan Salo Minrasak.

Potongan peta RBI skala 1:50.000, lembar 2010-64 (MALINO) | (https://tanahair.indonesia.go.id)

Ini adalah satu aliran sungai yang merupakan anak sungai Salo Maros. Hulunya di pegunungan sebelah utara Malino, mengalir ke barat membelah Desa Bontosomba dan Desa Bontomanurung, Kecamatan Tompobulu, Kab. Maros, sebelum bergabung dengan anak sungai lainnya menjadi Salo Maros yang akan melewati Kota Maros kemudian berakhir di Selat Makassar.



Sebagaimana yang tertera pada peta Google Maps di atas, beberapa titik yang sempat saya kunjungi adalah nomor (1), (2), (3), (4), (5), (6), dan (7). Titik nomor (9) tidak sempat saya kunjungi karena keterbatasan waktu serta kondisi jalan yang cukup "merepotkan". Sedangkan titik (8) yang pada peta aerial terlihat seperti sebuah air terjun tidak dapat saya kunjungi karena tidak menemukan akses jalan. [Silakan klik masing-masing titik untuk melihat beberapa foto dan vidio yang sempat saya ambil di titik tersebut.]


Kondisi jalan hingga jembatan S. Monruluk di titik (6)


Akses jalan menuju titik (1), (2), hingga (6) terbilang sangat baik. Berupa jalan beton yang kondisinya masih sangat mulus. Sedangkan untuk mencapai titik (7) dan (9), akses jalan mulai dari jembatan Salo Monruluk di titik (6) masih berupa jalanan tanah berbatu-batu yang cukup terjal dan sehabis terguyur hujan akan menjadi licin karena lumpur.



Kondisi jalan dari titik (6) menuju titik (7) dan (9)


Sungai ini dapat dibagi menjadi tiga bagian (section). Section 1 sepanjang 3 km dari jembatan (9) hingga jembatan (7) dengan perkiraan tingkat kesulitan (grade) 4 sampai 5 [jika memang air terjun (8) bisa diterjuni]. Section 2 sepanjang 3,5 km dari jembatan (7) hingga jembatan (2) dengan perkiraan grade 3 sampai 4. Adapun section 3 dari jembatan (2) hingga akses jalan di (1) sepanjang 4 km dengan perkiraan grade 2. Tentu saja, ini hanya sebatas perkiraan berdasarkan pengamatan lewat Google Maps maupun Bing Map, ditambah imajinasi saya sendiri.

'Oar' dan 'Paddle' – Tentang Gaya Mendayung dalam Arung Jeram

Seperti halnya tentang kano dan kayak, dalam khazanah arung jeram bermoda perahu karet atawa 'inflatable raft' –istilah kerennya, terdapat pula sebuah topik perbincangan yang pernah cukup membingungkan saya. Sebagaimana halnya dengan kano dan kayak, perkara ini pun mungkin tidak terlalu penting-penting amat adanya. Tulisan ini hanya sekadar upaya untuk mengurai kebingungan saya sendiri. Kebingungan yang sebenarnya sepele saja, tersebabkan oleh kurangnya pemahaman saya terhadap arti istilah-istilah dasar dalam khazanah arung jeram, khususnya rafting (istilah populer untuk menyebut kegiatan arung jeram bermoda perahu karet tersebut), di mana istilah-istilah yang dimaksud itu berkonteks.

Dalam khazanah teoretik tentang teknik-teknik mengarungi sungai dengan perahu karet, tersebutlah dua jenis style (yang mohon izin saya alih bahasakan sebagai ‘gaya’) dalam cara yang ditempuh perahu ketika bermanuver dalam rangka menghindari rintangan-rintangan yang terdapat di jeram. Gaya tersebut adalah ‘gaya oar’ –yang tak jarang pula disebut teknik dayung mundur, dan ‘gaya paddle’ –yang kadang disebut juga teknik dayung maju. Penyebutan gaya oar sebagai teknik dayung mundur, dan gaya paddle sebagai teknik dayung maju—meskipun kiranya memang tak salah—namun apabila tanpa disertai dengan ilustrasi lebih lanjut, akan cukup rawan menimbulkan pembayangan yang kurang tepat dalam benak pendengar atau pembaca yang budiman. Apalagi bila pendengar atau pembaca itu memang masih baru saja mengenal kegiatan yang disebut rafting ini, sebagaimana saya ketika pertama kali mendengar ceramah pembekalan teori terkait kegiatan ini.

Apakah teknik dayung mundur itu berarti bahwa kita mengarungi jeram dengan cara mundur dan membelakangi hilir sungai, sedangkan teknik dayung maju adalah sebaliknya? Ternyata bukan. Meskipun memang tidak dapat dihindari bahwa kadang kala perahu karet dapat terpaksa berputar sehingga bisa jadi meluncur mundur ketika sedang melewati jeram, kondisi tersebut hampir selalu bukanlah sesuatu yang disengaja adanya. Atau, apabila memang disengaja, itu sudah melalui berbagai pertimbangan yang cukup matang terkait risiko-risikonya.

Adalah sebuah prinsip penting, demi keselamatan, untuk senantiasa menempatkan rintangan-rintangan yang sedang dihadapi di sungai dalam ranah pengelihatan kita agar dapat senantiasa terawasi sehingga kita akan dapat bereaksi dengan segera terhadap rintangan-rintangan tersebut setiap saat ketika diperlukan. Melewati jeram dengan membelakanginya adalah sebuah kondisi yang berpotensi meningkatkan peluang terjadinya kecelakaan—alias berisiko—bagi perahu dan tentu juga kita yang menumpanginya. Dengan kata lain, mengartikan ‘teknik dayung mundur’ sebagai teknik mengarungi jeram dengan cara meluncur mundur membelakangi hilir sungai agaknya bertentangan dengan prinsip keselamatan tersebut, dan saya kira tidak layak untuk diamini.

Pembayangan yang demikian itu mungkin dikarenakan kita cenderung menganggap bahwa berperahu mengarungi sungai itu seperti mengendarai mobil di jalan raya; bahwa ketika kita mendayung maju, maka perahu akan meluncur maju, dan ketika mendayung mundur, perahu akan meluncur mundur. Namun, berbeda dengan ketika mengendarai mobil di jalan raya yang statis, ketika berperahu di sungai, air sungai yang menjadi landasan kita selalu bergerak mengalir dari hulu ke hilir. Membayangkan arung jeram seperti mengendarai mobil di jalan raya tidak cukup lengkap tanpa disertai dengan membayangkan jalan raya itu bagaikan ban berjalan (conveyor belt) atau travelator (elevator yang bergerak mendatar seperti yang biasanya ada di bandara-bandara besar yang memang luas). Kecuali ketika kita mengarungi bagian sungai yang alirannya tidak terlalu deras—yang biasanya disebut flat, berperahu di sungai hampir selalu berarti bahwa kita akan meluncur ke arah ke mana arus yang menjadi landasan kita itu mengalir, tak peduli kita mendayung perahu maju atau mundur. Terlebih ketika berada di jeram yang memang aliran airnya akan senantiasa deras sehingga tidak mungkin perahu akan dapat diluncurkan berlawanan arah dengan arah arus air—kecuali dengan memanfaatkan tenaga dorongan mesin, namun itu di luar konteks pembahasan kita.

Dalam dunia arung jeram, terdapat semacam suatu kesepakatan umum, yang mungkin sudah konvensional secara internasional, untuk menyebut arah berdasarkan arah aliran sungai sebagai patokan. Arah ke mana sungai mengalir disebut downstream dan arah dari mana sungai mengalir disebut upstream. Adapun kanan dan kiri biasanya mengacu pada arah sisi kanan dan kiri ketika kita menghadap downstream. Kanan sungai (river right / right bank) dan kiri sungai (river left / left bank), sebutan lengkapnya. Nomenklatur terkait arah ini penting diketahui, agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Ketika mengarungi sungai, dapatlah diyakini bahwa perahu akan hampir selalu terluncurkan ke arah downstream. Demikianlah, mengarungi sungai memang dapat pula dibayangkan sebagai menghanyutkan perahu mengikuti arah ke mana sungai mengalir. Meski demikian, proses tersebut tentu saja tidak selalu berarti terhanyut begitu saja dengan sepenuh-penuhnya kepasrahan pada kehendak aliran air sungai. Mendayung sesungguhnya adalah upaya yang dilakukan untuk menyesuaikan posisi, orientasi, dan –dalam taraf tertentu—arah luncuran perahu selama dalam keadaan terhanyutkan oleh aliran sungai itu. Bagaimanapun, jalur aliran air sungai memang tidak selalu hanya satu saja, apalagi di daerah berjeram. Di sinilah, terutama, perahu perlu dikendalikan dengan cara didayung, dalam rangka menyesuaikan posisi, orientasi, dan arah luncuran perahu tersebut agar senantiasa berada di “jalur yang benar” guna memperbesar peluang melalui jeram dan mencapai tujuan akhir dengan selamat.

Salah satu manuver dasar dalam arung jeram adalah ferrying. Itulah ketika haluan perahu diarahkan menyimpang dari arah aliran sungai sembari diberi percepatan dengan dayungan sehingga arah luncuran perahu pun akan menyimpang dari arah aliran atau arus sungai. Meskipun nyaris tidak mungkin untuk mendayung perahu dan meluncurkannya ke arah upstream ketika di jeram, meluncurkannya ke kanan dan kiri, relatif terhadap arah arus, masih mungkin untuk dilakukan. Secara teknis, ini dilakukan dengan memberi percepatan kepada perahu, yang berarti mendayungnya (biasanya maju atau mundur), sambil mengarahkan haluannya agak ke kanan atau ke kiri sungai sedemikian rupa sehingga arah resultan vektor perpindahan perahu jadi melenceng dari arah vektor arus sungai. Adapun ketika perahu didayung dalam rangka melakukan ferrying, orientasi arah haluan perahu, disebut sebagai ‘sudut ferry’ (ferry angle), biasanya disesuaikan relatif terhadap arah arus yang jadi landasan, dengan mempertimbangkan faktor-faktor antara lain: kecepatan arus sungai, kekuatan akselerasi total dayungan dari para awak pendayung, serta seberapa jauh kita hendak melencengkan arah vektor luncuran perahu dari arah vektor aliran sungai.

Apabila dibayangkan seperti mengemudikan mobil di jalan tol, ferrying adalah manuver untuk berpindah dari lajur satu ke lajur yang lain dalam rangka menghindari hambatan atau rintangan yang ada di depan. Dalam rangka tersebut, ada kalanya kita tinggal mengarahkan kemudi ke kanan atau ke kiri saja, namun ada pula kala di mana kita perlu mengurangi kecepatan. Downstream ferrying adalah ferrying yang dilakukan sambil mendayung perahu relatif ke arah downstream namun dengan sudut haluan tertentu sedemikian rupa sehingga arah luncuran perahu akan menyimpang dari arah arus. Ini seperti membelokkan mobil untuk berpindah lajur tanpa mengurangi kecepatan. Sedangkan upstream ferrying adalah ferrying yang dilakukan sambil mendayung perahu relatif ke arah upstream juga dengan sudut haluan tertentu sedemikan rupa sehingga arah luncuran perahu akan menyimpang dari arah arus. Ini seperti membelokkan mobil untuk berpindah lajur sambil mengurangi kecepatan.

Adalah ketika ferrying—khususnya upstream ferrying—inilah, akan terlihat gamblang ciri utama yang membedakan gaya paddle dan gaya oar.

Paddle’ dan ‘oar’, bila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia akan sama-sama menjadi ‘dayung’; sementara ‘paddling’ dan ‘rowing’ akan sama-sama jadi ‘mendayung’. Inilah, saya kira, salah satu biang kerok utama yang rawan melahirkan kebingungan. Kita mungkin lebih akrab dengan pemahaman bahwa dayung adalah ‘paddle’ dan mendayung adalah ‘paddling’, dan agak asing dengan ‘oar’ dan ‘rowing’ yang secara bahasa mungkin berarti sama saja, meskipun secara konsep cukup berbeda.

Sama-sama dayung, paddle dan oar adalah jenis dayung yang berbeda. Paddle adalah dayung yang digunakan dengan memegangnya dengan kedua tangan. Ia terpisah dengan perahu. Berbeda dengan oar yang merupakan dayung yang “terpasang” pada kedua sisi perahu dengan suatu sistem pengait dan mekanisme pivot tertentu, sehingga seseorang dapat menggunakan hanya satu tangan untuk mengendalikan satu dayung, dan satu orang dapat mengendalikan dua dayung yang terpasing masing-masing pada salah satu sisi perahu, bagai mengendalikan sepasang sayap atau sirip perahu. Dayung oar biasanya lebih panjang dan memiliki bilah (blade) yang lebih besar ketimbang dayung paddle. Dalam rafting, kedua sistem ini dapat diterapkan, dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Rafting di Indonesia, sejauh yang dapat saya amati, memang lebih populer dilakukan dengan paddle. Mungkin ini pula yang membuat kita kurang mengenal oar sebagai ‘dayung’ dan rowing sebagai ‘mendayung’ sehingga—terutama dalam konteks arung jeram—masih agak asing dengan gaya oar dan mudah terbingungkan ketika membandingkannya dengan gaya paddling. Meskipun demikian, pada praktiknya, saya kira ada kalanya pendayung-pendayung jeram di negeri ini juga sudah menerapkan “gaya oar” ketika mengarungi sungai, tanpa benar-benar menyadarinya. Itulah ketika perahu melakukan upstream ferry dengan didayung mundur sembari tetap menghadap downstream.

Upstream ferry yang dilancarkan dengan mendayung mundur sambil tetap menghadap downstream (boleh disebut ‘backward upstream ferrying’) agar dapat selalu mengawasi jeram yang menanti di depan, dalam pemahaman saya sejauh ini, adalah ciri utama yang menandai gaya oar. Manuver ini sesungguhnya memang lebih bertenaga bila dilakukan dengan perahu karet yang didayung menggunakan sistem rowing daripada paddling. Ini karena secara mekanis dan biomekanis, rowing memang lebih bertenaga ketika mundur (alias ke arah belakang pendayung) daripada maju. Sedangkan paddling memang lebih bertenaga ketika maju (alias ke arah depan pendayung) daripada mundur. Adapun ketika melakukan upstream ferry, perahu harus didayung berlawanan arah dengan arus, yang berarti memerlukan tenaga yang cukup besar agar dapat berefek optimal. Ini membuat upstream ferry dengan dayung mundur, secara natural menjadi manuver unggulan yang lebih cocok bagi pendayung oar. Sedangkan bagi pendayung paddle, itu merupakan suatu “kelemahan”.

Bagi pendayung paddle, upstream ferry akan jauh lebih mudah dilakukan dengan menghadapkan perahu ke arah upstream (forward upstream ferrying). Namun, meninjau kembali prinsip keselamatan yang sudah diutarakan tadi, menghadapkan perahu ke arah upstream akan mengurangi ranah pengelihatan kita terhadap jeram yang menanti di sisi downstream. Seperti halnya bagi pendayung oar, apabila mengingat bahwa tenaga optimal yang dimilikinya hanya dapat dikerahkan ketika mendayung mundur, mengarungi sungai dengan cara mundur tentu seharusnya menjadi sesuatu yang “wajar” baginya. Namun, karena itu harus dibayar dengan berkurangnya ranah pengelihatan terhadap jeram di sisi downstream, para pendayung oar pun tetap melakukan pengarungan dengan menghadap downstream. Bagaimanapun, mengarungi jeram dalam konteks petualangan memang bukanlah terutama mengenai kecepatan, melainkan bagaimana cara melalui berbagai rintangan yang ada dengan risiko seminimal mungkin, dan pengelihatan terhadap segala sesuatu yang berada di sisi downstream adalah salah satu hal fundamental untuk itu.

Kalau anda kebetulan adalah seorang yang sudah cukup mengakrabi arung jeram, prinsip yang sama berlaku ketika renang jeram. Salah satu alasan mengapa ketika renang jeram posisi tubuh kita harus telentang dengan kepala di sisi upstream adalah agar kita lebih mudah mengawasi sisi downstream, hal yang nyaris mustahil dilakukan bila kita berenang dengan tubuh telungkup atau tengkurap—apalagi kalau kepala kita juga berada di sisi downstream.

Tetapi, kalau itu memang suatu “kelemahan”, mengapa pendayung paddle kadang-kadang juga melakukan upstream ferry dengan mendayung mundur? Saya kira pertanyaan ini akan terbersit juga di benak pembaca yang kritis.

Meskipun mendayung mundur dengan paddle memang tidak akan sebertenaga mendayung maju, ada kalanya mendayung mundur untuk upstream ferry tetap menjadi pilihan yang lebih baik. Selain karena bisa tetap menempatkan sisi downstream dalam ranah pandangan, untuk melakukan upstream ferrying dengan dayung maju bagi pendayung paddle tentu memerlukan manuver berputar terlebih dahulu, mengingat normalnya para pendayung paddle selalu menghadap downstream, dan ini akan memakan waktu (juga tenaga) yang tidak sedikit. Waktu (dan tenaga) yang tidak sedikit itulah yang saya kira menjadi faktor pertimbangan krusial. Apabila waktu tersebut diperkirakan memang cukup untuk memutar perahu sebelum mencapai rintangan yang ingin dihindari, mungkin melakukan upstream ferry dengan mendayung maju akan jadi pilihan yang lebih baik, terutama ketika jarak ferry yang harus dilakukan memang cukup lebar dan arus yang diseberangi pun cukup kuat. Sebaliknya, apabila manuver berputar itu diperkirakan hanya akan lebih banyak membuang waktu (dan tenaga) sedang rintangan yang perlu dihindari sudah di depan mata dan ferry yang perlu dilakukan kebetulan tidak perlu banyak-banyak, upstream ferry dengan mendayung mundur akan jadi pilihan yang lebih baik.

Demikianlah, dalam arung jeram, setiap situasi akan selalu menghadirkan beragam tantangan yang masing-masing mengandung risiko serta reward tersendiri. Bagaimana kita menilai situasi yang dihadapi dan menentukan respon yang sebaiknya dilakukan, pun adalah suatu tantangan pada tingkatan tersendiri.

~ Agustus 2021

Ruang Tunggu Yang Sepi Dan Lengang

bagaimana kiranya akan bosan

mendengar siaran tentang kematian


bilamana pesan-pesanmu

kepadaku waktu itu

masih tersimpan rapi

dalam jejak-jejak histori


selalu kubaca kembali

lagi dan lagi, saban hari


betapa pun kita telah sepakat

rasa memang tak perlu mengikat

ibarat kata pepatah dari barat

kapal tercipta bukan untuk tertambat


engkau telah menjadi bintang

dan aku bocah tak bisa terbang

yang hanya punya sehelai benang

dan sebuah layang-layang usang


setiap hari menyiul angin

untuk mengajaknya bermain

menebar serbuk angan-angan

di atas padang tanpa bayangan


betapa kehidupan sungguh membosankan

tanpa pergulatan mewujudkan impian

namun, bagi yang tak kebagian harapan

itulah sejatinya tontonan hiburan

sembari menanti jemputan kematian


pada suatu senja yang rawan

di penghujung sebuah akhir pekan


hidup hanyalah sebuah penantian

di ruang tunggu yang sepi dan lengang

menanti pengumuman panggilan

dari corong-corong pelantang


"perhatian! perhatian!

kepada calon penumpang tujuan pulang,

dipersilakan naik melalui pintu kematian.

terima kasih."


~ Yogyakarta, 21 Juli 2021