Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2010

Nafas panjang, gelengan kepala, dan senyum yang menyindir..

Selamat sore, dunia. Selamat sore, alam semesata. Kau tampak indah sore ini, setelah tadi diguyur hujan berangin, meski anginnya tidak seribut kemarin; tak ada pohon tumbang, tak ada tiang listrik atau billboard yang rebah, dan tak ada gerobak tukang mi ayam yang terpelanting. Aku juga sebenarnya tidak berharap seperti itu. Terima kasih, atas udara segar yang kau sediakan, meski dengan sedikit rasa bersalah harus kucemari dengan asap rokok (maaf); demi diri yang tak lepas dari kekalutan dan kecemasan menghadapi hidup.
Wajahmu sore ini, mengingatkanku pada beberapa pertanyaan yang dengan sendirinya coba kujawab. Dan harus kuakui, bahwa jawaban itu sering membuatku menertawakan diri sendiri dalam hati. Tertawa yang menyindir.
[]
Seorang kawan pernah bertanya mengenai apa artinya menjadi pecinta alam. Jika mengingat pertanyaan itu, aku selalu harus menarik nafas panjang dan sedikit menggeleng dengan selintas senyum kecut di wajah. Kita menghancurkan apa yang seharusnya kita bangun.
[]
S…

(dalam resah, diri bertanya)

"kutulis ketika resah hadir bersama tanya, tentang hal-hal yang tak aku mengerti.."
Cahaya hanya untuk mereka yang buta
Yang tak melihat gelap
Menyelubungi mata di hati

Suara cuma buat mereka yang tuli
Yang tak mendengar sunyi
Bersenandung dalam nada-nada bisu

Lalu apa yang Kamu harapkan?
Bintang tak menunjuk ke utara atau ke selatan
Apa yang Kamu tunggu?

Bukankah terang terlihat dalam gelap?
Bukankah sunyi memperdengarkan suara?

Sebuah Kenangan

Jika masa lalu adalah semua yang telah hilang
Ku ingin waktu berhenti sampai di sini
Karena yang kumiliki hanya tinggal kenangan
Sebuah kenangan
Tentang berjuta hal
Tentang beribu wajah
Tentang sebuah kisah
Tentang cinta

Ku tak ingin kenangan itu hilang

Siapa...

Silakan dimaknai. Saya sendiri juga kadang bertanya-tanya apa maksud tulisan ini. Sebuah tulisan lama.. Bertahun-tahun yang telah lalu, aku masih ingat. Aku anak kecil yang tersesat di padang sabana yang luas karena mengejar bayang-bayang masa depan. Ia berlari begitu cepat sehingga kaki-kakiku yang pendek tak mampu mengejarnya. Hanya jejak-jejak hitam yang kuikuti.
Saat aku hampir menyerah, ada yang menyentuh pundakku. Aku berbalik dan mengangkat wajah, dan kulihat bayangan itu di depanku. Begitu gelap dan hitam.
“Siapa aku?”
Ia tak menjawab.
Ingin kusentuh, tapi tanganku terlalu pendek untuk bisa menjangkaunya.
Lalu dia menghilang.
Kini, aku berdiri di tempat yang sama. Di depanku, ia berada –bayangan itu.
“Siapa kau?”
Dan ia tidak juga menjawab.

Saat Hujan Turun

Akhir-akhir ini hujan turun setiap hari. Pagi cerah, sore hujan. Lalu teringat tulisan lama yang pernah kubuat di suatu sore berhujan... Saat hujan turun aku sedang membaca novel di beranda di depan kamar seorang temanku. Kakiku basah kena terpaan gerimis. Dan beberapa saat perhatianku teralihkan dari jalan cerita novel tersebut.

Saat hujan turun, titik-titik air jatuh ke genteng dan dalam sekejap hanya tinggal menyisakan noda gelap. Siang tadi matahari bersinar terik, maka genteng itu panas. Setetes air yang membasahi akan langsung diserap oleh genteng dan sebagian lagi menguap. Namun lama-lama seluruh genteng basah juga.

Saat hujan turun, seorang petani berteduh di bawah pohon mangga di pinggir sawahnya. Ia melepas caping dan duduk bersandar pada batang pohon itu. Cangkulnya diletakkan di samping, kemudian dia menylut sebatang rokok. Daun pohon mangga yang lebat melindunginya dari terpaan hujan. Mula-mula hanya dedaunan terluar saja yang basah, namun lama-kelamaan hujan menembus hin…

'Kebahagiaan'

Mungkin kamu pernah menghadapi banyak masalah dalam hidupmu. Dari masalah sepele, sampai masalah besar yang mengancam kehidupanmu. Kau mempertaruhkan hidupmu. Lalu ketika masalah itu membuatmu tertekan, tiba-tiba kamu mempertanyakan makna hidupmu. Apa sebenarnya yang ingin kamu capai dalam hidup ini?
Ada banyak alternatiif jawaban, seperti dalam sebuah soal pilihan ganda dalam ujian, bahkan lebih banyak lagi. Tetapi dalam pilihan mengenai hidup, tidak ada jawaban yang mutlak benar atau salah. Yang membedakan hanya konsekuensi yang mengikuti pilihan itu. Jika kamu memilih materi sebagai tujuan hidupmu, maka kamu harus bekerja keras untuk memperolehnya; dengan cara baik atau tidak baik, selama tujuan itu tercapai. Jika kamu percaya ada kehidupan setelah mati yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang taat beribadah, dan kamu hidup demi hal itu, maka kamu harus banyak-banyak beribadah selama hidupmu. Jika kamu percaya bahwa hidup akan berakhir ketika kita mati dan tidak akan ada hidup l…

(di)Antara Bumi dan Langit

Kadang merenungi, apa yang sebenarnya kulakukan? mengapa aku melakukannya? dan seperti kebanyakan orang, aku mencoba menaruh makna padanya..

Tembok di Pinggir Jalan