Pages - Menu

20260121

Meraba Gurat Luka Di Antara Kerut-Keriput Topografi Kalimantan - Tiga Sungai Berjeram & Imajinasi Pengarungannya: Sungai Boh, Sungai Belayan, & Sungai Krayan

Mencermati topografi wilayah pegunungan di pedalaman Pulau Kalimantan cukup memusingkan. Ada sangat banyak sungai di Pulau ini, bercabang-cabang dan berkelok-kelok di antara bebukitan dan pegunungan, seperti alur kerut-keriput di permukaan kulit orang-orang lanjut usia. Menelusurinya satu demi satu untuk mencari segmen-segmen berjeram bisa menghabiskan sangat banyak waktu.

Tetapi waktu luang adalah sesuatu yang berlimpah di tangan saya akhir-akhir ini. Dan karena sesuatu hal, saya tidak bisa menggunakan waktu luang itu untuk pergi ke mana pun, maka saya menjelajah ke dunia maya. Mulanya, seperti kebanyakan orang kurang kerjaan, saya berseluncur menunggangi gelombang algoritma di samudra linimasa media sosial. Tetapi segera merasa bosan dengan apa-apa yang disodorkan. Atau mungkin lebih seperti merasa tak berdaya, bagai menjadi segumpal buih yang diombang-ambingkan gelombang, terhempas ke sana ke sini oleh arus wacana dalam cuaca artifisial yang sarat nuansa rekayasa.

Akhirnya saya memutuskan untuk menjelajahi internet dengan cara lama. Ambil sesuatu ide atau gagasan dari dalam kubangan rasa ingin tahumu, lalu jadikan ide itu sebagai suluh penerang jalan yang kan membantumu menapaki jalur-jalur setapak di antara kerimbunan semak belukar dan belantara informasi di internet. Dalam hal ini, ide tentang sungai-sungai berjeram yang mungkin menarik untuk diarungi menjadi nyala penerang di benak saya.

Di Google Maps saya, sudah ada cukup banyak titik yang ditandai. Titik-titik itu adalah lokasi sungai-sungai berjeram atau air terjun yang saya pikir mungkin akan menarik bila diarungi, suatu saat nanti—entah kapan (oleh entah siapa). Titik-titik itu kebanyakan berkumpul di tiga pulau: Sumatra, Sulawesi, dan Jawa. Beberapa ada di Papua, namun karena kemungkinan untuk saya akan pernah bertualang ke sana rasanya cukup kecil dibanding pulau lainnya, saya agak menahan diri untuk menambah jumlah titik itu. Sementara di Pulau Kalimantan, belum satu pun titik yang saya tandai. Hampir seperti Papua, meski Kalimantan masih lebih mungkin untuk saya singgahi, akses menuju daerah pedalamannya terasa masih terlalu sulit dan mahal sehingga rasanya agak malas mencari-cari sungai berjeram di pulau ini.

Baru ketika saya mencoba mengikuti alur perjalanan ekspedisi Wanadri ke Sungai Kayan beberapa waktu yang lalu, saya mulai tertarik melihat-lihat sungai-sungai di Kalimantan. Mulanya saya hanya mencoba menemukan letak jeram-jeram di Sungai Kayan, khususnya letak segmen Giram Embun yang legendaris itu. Kemudian saya coba mengikuti rute perjalanan mereka untuk mengakses sungai tersebut. Ketika itulah saya tanpa sengaja melihat ada dua gurat lembahan dalam yang kelihatan cukup mencolok, seperti bekas torehan luka yang dalam, di antara kerut-keriput kontur perbukitan dan pegunungan pedalaman Kalimantan. Memeriksa tampilan citra satelitnya, saya melihat jeram-jeram yang sangat menggoda di aliran sungai di bawah lembah-lembah itu. Kalimantan sepertinya jadi cukup menarik dijelajahi.

Mengesampingkan kemungkinan aksesnya yang sulit dan berbiaya mahal, saya pun menghabiskan waktu luang dengan mencoba menyisir daerah pegunungan di pedalaman pulau terbesar ketiga di dunia ini lewat peta digital di dunia maya, seperti orang buta meraba-raba tekstur permukaan sebuah benda asing, mencoba mencari sesuatu yang berkesan. Beberapa hal yang saya jadikan kriteria penting untuk memandu pencarian sungai-sungai berjeram adalah:

  1. Karena faktor utama yang mempengaruhi terbentuknya jeram adalah gradien aliran sungai, maka daerah berketinggian atau berkontur pegunungan adalah daerah paling besar peluang untuk menemukannya. 
  2. Selain gradien, tentu harus ada air untuk menciptakan jeram; dan untuk mendapatkan kecukupan debit air, daerah tangkapan air (daerah aliran sungai) di bagian hulu yang cukup luas adalah faktor penting untuk diperhatikan. 
  3. Berdasarkan pengalaman saya mencermati sungai-sungai berjeram, segmen lembahan dalam yang diapit lereng curam adalah tempat di mana sering kali jeram-jeram banyak terbentuk.

Poin ketiga itu mendapat penguatan dari lokasi di mana segmen Giram Embun berada di Sungai Kayan, serta dua sungai berjeram yang juga—secara kebetulan—saya temukan setelahnya.

"Tekstur" topografi pegunungan di pedalaman Kalimantan sebagaimana terlihat pada mode tampilan medan (terrain view) Google Maps. Segmen Giram Embun Sungai Kayan (yang ditunjuk panah merah) berada di gurat lembahaan dalam yang terlihat sangat mencolok.

Mode tampilan medan (terrain view) Google Maps menjadi andalan saya untuk mencari lokasi yang memenuhi kriteria di atas. Setelah itu, tampilan citra satelit (satellite view) dapat digunakan untuk mengonfirmasi apakah betul di situ memang ada jeram. Untuk wilayah-wilayah pedalaman, citra satelit Google Maps sering kali kurang detil resolusinya. Saya biasanya mengandalkan citra satelit Bing Maps dan Apple Maps yang bisa diakses pakai browser di smartphone Android sebagai alternatif sekaligus pembanding. Untuk mengukur panjang sungai, situs satellites.pro dengan tampilan citra satelit Apple Maps jadi favorit saya, di samping Google Maps yang bisa pula menampilkan garis elevasi atau ketinggian suatu tempat di atas permukaan air laut

Sejauh ini, ada beberapa sungai berjeram yang kelihatan sangat menarik, dapat saya temukan. Di antaranya, yang saya pikir layak dijelajahi dan memungkinkan untuk diakses adalah Sungai Boh, Sungai Belayan, serta Sungai Krayan.

Sungai Boh

Rute perjalanan yang ditempuh para atlet tim ekspedisi Wanadri ke Sungai Kayan pada Juni 2025 bermula dari Kota Samarinda. Mereka menggunakan kapal (taksi air Mahakam) menyusuri Sungai Mahakam ke arah hulu sampai di Long Bagun. Dilanjutkan dengan long boat (perahu panjang bermesin) menyusuri Sungai Boh sampai di Camp KM 122. Lalu berganti moda menggunakan mobil 4x4 untuk sampai ke Desa Data Dian di hulu Sungai Kayan.

Camp KM 122 adalah sebuah bangunan yang dulunya merupakan kantor milik PT. Sumalindo Lestari Jaya (SLJ) II yang berada di sebuah ruas jalan bekas akses pembalakan (logging) di kilo meter (KM) 122 dari Long Bagun. Sebuah jembatan rangka baja yang menyeberangi Sungai Boh ada di sini. Meski terdapat jalan akses darat dari Long Bagun sampai ke sini, kondisinya mungkin cukup buruk sehingga tim ekspedisi Wanadri lebih memilih menggunakan jalur sungai untuk mencapai Camp KM 122 ini (Artikel ini, dan video ini saya kira cukup menggambarkan bagaimana kondisi ruas jalan tersebut).

Sekitar 12 km (atau 15 km bila mengikuti aliran sungai) ke arah timur dari titik ini, bila kita mengamati tampilan medan Google Maps, terlihat sebuah gurat lembahan dalam yang terentang panjang dari utara ke selatan. Di sepanjang dasar lembah dalam itulah aliran Sungai Boh, bila diamati lewat citra satelit, terlihat memiliki banyak jeram.

Pada tampilan medan Google Maps, dapat dilihat bagaimana segmen lembah sempit (gorge) Sungai Boh memiliki daerah tangkapan air yang luas di bagian hulunya.

Mengamati topografi wilayah Kecamatan Sungai Boh, terlihat bahwa wilayah ini sesungguhnya adalah sebuah daerah aliran sungai yang sangat luas yang air limpasannya “dibuang” ke Sungai Mahakam melalui sebuah saluran drainase alami yang bernama Sungai Boh. Batas geografis yang mengelilingi Kecamatan Sungai Boh adalah pegunungan. Di sisi utara ada barisan pegunungan dengan ketinggian sekitar 2000-an mdpl (meter di atas permukaan laut). Dari lereng-lereng selatan pegunungan ini sungai-sungai mengalir ke selatan, satu demi satu bergabung menjadi aliran Sungai Boh, menuju sebuah daerah lubuk cekungan di mana permukiman kelihatan paling terkonsentrasi. Di sini sungai-sungai dari berbagai penjuru bergabung memasuki Sungai Boh: Sungai Lebusan dari timur, Sungai Ogap dari tenggara, dan Sungai Mahak dari barat. Dari sinilah aliran Sungai Boh kemudian terus mengalir ke selatan, memasuki lembah sempit (gorge) di mana jeram-jeram besar menunggu.

Mencoba mencari informasi lebih banyak tentang sungai ini, sejauh yang dapat saya korek-korek pada kerak permukaan internet alias sebatas menggulir beberapa halaman daftar hasil temuan mesin pencari Google, Sungai Boh pernah diarungi setidaknya dua kali. Yang pertama, oleh (Alm.) Sinarmas Djati, dkk. (saya berasumsi dia tidak mengarunginya seorang diri), seorang pionir arung jeram sesepuh Mapala UI, pada tahun 1979 (sumber: rubrik Profil Majalah Jejak Edisi Januari 2017). Yang kedua oleh tim dari Wanadri, pada tahun 1987 (sumber: kareumbi.wordpress.com). Namun tidak dapat saya temukan informasi lebih detil mengenai kisah pengarungan itu maupun gambaran mengenai jeram-jeram di Sungai Boh. Ini mungkin baru bisa didapatkan melalui korespondensi langsung dengan organisasi atau para pelaku yang terlibat dalam pengarungan itu.

Mengkhayalkan sebuah skenario kasar dalam kepala, meniru rute dan moda transportasi yang digunakan Wanadri menuju Data Dian sepertinya adalah pilihan yang cukup—jika tidak paling masuk akal, sebab rute mereka itu menyusuri Sungai Boh ke arah hulu, melewati daerah cekungan di mana desa-desa di Kecamatan Sungai Boh paling terkonsentrasi. Selepas Desa Mahak Baru, ada jalan bercabang ke kiri (utara) yang mengarah ke pedalaman Apau Kayan melewati Desa Agung Baru, dan ke kanan (timur) yang mengarah ke Desa Data Baru dan Desa Long Lebusan. Terdapat jalan akses menuju Sungai Boh di Desa Data Baru, atau sebuah jembatan rangka baja yang menyeberangi Sungai Boh sebelum mencapai Desa Long Lebusan yang dapat dijadikan titik mula pengarungan segmen lembah sempit (gorge) Sungai Boh.

Namun, bila mencermati peta, agak ke hulu sebenarnya terdapat segmen pendek (sekitar 1,5 km) yang memiliki beberapa jeram (mungkin mencapai grade 3+) yang cukup sayang bila dilewatkan, yakni di antara Desa Agung Baru dan Desa Data Baru ketika aliran Sungai Boh mengitari sisi timur sebuah bukit. Segmen ini mungkin bisa dijadikan segmen pembuka atau pemanasan sebelum mengarungi segmen utama di lembah sempit di bawahnya. Untuk mengarunginya, bisa dimulai dari Desa Agung Baru, atau dari pinggir ruas jalan yang berdekatan dengan aliran sungai di selatan desa jika ingin memulai sedekat mungkin dengan segmen berjeram.

Tampilan citra satelit segmen sepanjang sekitar 1,5 km di Sungai Boh, antara Desa Agung Baru dan Desa Data Baru. (lihat tampilan satelit ini)

Alternatif lain, khususnya bila menggunakan kayak, pengarungan sepertinya bisa juga dimulai dari Desa Mahak Baru dengan mengarungi sekitar 10 km aliran Sungai Mahak sebelum memasuki aliran Sungai Boh. Ada segmen sepanjang 7 km dengan penurunan elevasi sekitar 40 m yang mungkin cukup menarik diarungi di sungai ini. Di citra satelit terlihat beberapa jeram pada sungai ini, namun sebagian besar sungai tidak terlihat karena lembah alirannya yang sempit tertutupi kanopi pepohonan lebat.

Tampilan citra satelit Sungai Mahak antara Desa Mahak Baru dan Sungai Boh. Tak banyak jeram bisa terlihat, namun segmen ini mungkin cukup menarik diarungi sebagai pemanasan. (lihat tampilan satelit ini)

Memasuki lembah sempit Sungai Boh, sepanjang sekitar 8 km pertama setelah muara Sungai Mahak, ada sekitar 10 jeram. Umumnya jeram-jeram pendek dengan flat (aliran yang tidak berjeram) panjang di antaranya. Setelah itu, sepanjang sekitar 18 km selanjutnya, jeram-jeram yang ada terlihat didominasi oleh jeram panjang. 18 km ini kelihatannya adalah crux atau bagian yang paling krusial. Setelah itu, sekitar 9 km selanjutnya, jeram-jeram mulai jarang terlihat, sungai perlahan berbelok ke barat, dan 15 km sisanya kemudian didominasi flat sampai ke Camp KM 122.

4 gambar di atas adalah tampilan citra satelit segmen lembah sempit (gorge) Sungai Boh di beberapa titik bagian awal, sepanjang sekitar 8 km pertama selepas pertemuan Sungai Mahak. Jeram-jeram yang ada terlihat relatif pendek-pendek dengan jeda flat cukup panjang di antaranya. Setelah itu, seperti dapat dilihat pada gambar di samping kanan dan di bawah ini, jeram-jeram menjadi semakin panjang dan rapat.
Gambar terakhir di bawah ini adalah penampakan citra satelit serangkaian jeram panjang yang kelihatannya merupakan salah satu (segmen) jeram paling krusial di lembah sempit Sungai Boh. Untuk bisa mengarungi jeram ini, debit air yang tidak terlalu besar sepertinya adalah salah satu faktor penting.

Sepanjang 35 km segmen lembah sempit mulai dari pertemuan Sungai Mahak, Sungai Boh diapit oleh lereng yang curam, bahkan mungkin tebing. Pengarungan sepanjang ini bisa saja diselesaikan dalam durasi sehari penuh jika debit air optimal dan dilakukan tanpa berhenti. Tetapi untuk sungai yang belum pernah diarungi sebelumnya, proses scouting (meninjau jeram yang akan diarungi dari darat atau tepi sungai untuk menentukan jalur yang dapat dilewati) dan penerapan strategi keselamatan (safety) sebelum mengarungi jeram biasanya memakan waktu jauh lebih banyak ketimbang pengarungan itu sendiri. Apalagi bila ditambah proses pengambilan gambar/video dan pendokumentasian. Hemat saya, 3-5 hari adalah jangka waktu yang lebih masuk akal untuk menyelesaikan segmen 35 km ini bila segalanya berjalan cukup lancar. Dan 15 km sisanya, sampai Camp KM 122, sepertinya bisa ditempuh dalam setengah hari.

Camp KM 122 kelihatannya adalah titik yang paling ideal untuk mengakhiri pengarungan. Dari sini, kita bisa menggunakan long boat (yang sudah dipesan sebelumnya, ketika berangkat) untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Long Bagun. Akan lebih baik lagi seandainya kita bisa menjalin komunikasi dengan pengemudi long boat selama pengarungan, misalnya dengan telepon satelit atau radio, supaya waktu dan titik penjemputan bisa disesuaikan dengan lebih fleksibel. Misalnya kalau kita mau minta dijemput sebelum Camp KM 122 untuk memangkas waktu pengarungan dan menghemat tenaga, atau setelahnya bila segmen di bagian hilir setelah Camp KM 122 dianggap masih cukup sepadan untuk diarungi. Melanjutkan pengarungan hingga Long Bagun pun sebenarnya bisa jadi opsi, meski jaraknya sangat jauh (sekitar 125 km lagi dari Camp KM 122).

Sungai Belayan

Selain Sungai Boh, anak Sungai Mahakam lainnya yang mempunyai segmen yang memiliki banyak jeram adalah Sungai Belayan yang berada di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Sungai ini mengalir dari pegunungan dan dataran tinggi di utara wilayah Kecamatan Tabang yang berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Utara, ke selatan melintasi Kecamatan Kembang Janggut, Kecamatan Kenohan, dan bermuara ke Sungai Mahakam di Kecamatan Kota Bangun.

Kalau diamati secara teliti pada peta topografi atau tampilan medan Google Maps, terdapat beberapa segmen pada daerah aliran sungai ini yang bergradien dan kelihatannya berjeram. Setidaknya ada dua segmen pada aliran sungai utama, dan tiga segmen di tiga anak sungai yang berbeda yang masuk dari barat.

Tampilan medan (terrain view) Google Maps aliran Sungai Belayan (dan anak-anak sungainya). Warna oranye adalah segmen yang memiliki jeram.

Segmen yang pertama berupa lembahan sempit (gorge) sepanjang sekitar 17 km, berada di bagian hulu aliran sungai utama, dimulai dari titik koordinat [1.226865,115.916589] hingga titik koordinat [1.122631,115.855360]. Di citra satelit, mayoritas aliran sungai pada segmen ini tidak terlihat karena tertutupi kanopi pepohonan. Namun, pada beberapa bagian bisa terlihat ada jeram. Selain itu, kalau melihat perbedaan elevasi titik awal dan akhir, secara teoretis segmen ini seharusnya punya cukup banyak jeram. Permasalahannya, tidak terdapat jalan untuk mengakses segmen ini.

Tampilan citra satelit di beberapa titik pada segmen lembah sempit di bagian hulu Sungai Belayan. (lihat tampilan satelit ini)

Segmen kedua berada di salah satu anak sungai yang, menurut peta Wilayah Sungai Mahakam dari Kementerian PUPR (unduh file peta wilayah sungai Indonesia dari Kementerian PUPR di sini [±483MB]), bernama Sungai Tabang, yakni sepanjang sekitar 30 km dari titik koordinat [1.174887,115.651504] hingga ke pertemuan dengan Sungai Belayan di titik koordinat [1.0721173, 115.7790471]. Kalau mencermati topografi pada tampilan medan Google Maps, ada bagian di awal segmen di mana garis kontur bertumpuk-tumpuk memotong aliran sungai di sekitar titik koordinat [1.159398,115.700471] yang patut diyakini sebagai air terjun yang sangat tinggi. Besar kemungkinan air terjun tersebut tidak dapat diarungi (unrunnable). Jeram-jeram di bawah air terjun tersebut juga terlihat berkelanjutan nyaris tanpa jeda dengan gradien yang curam. Meski segmen di bawah air terjun itu mungkin saja masih bisa diarungi jika debit air tidak terlalu besar, namun, seperti halnya segmen pertama, segmen ini juga tidak memiliki jalan akses.

Tampilan citra satelit Sungai Tabang, salah satu anak Sungai Belayan. Jeram-jeram di sungai ini, di satu sisi terlihat sangat menggoda, namun di sisi lain seperti menebar intimidasi.

 Di samping kiri ini adalah bentukan yang patut dicurigai sebagai air terjun.

Di bawah adalah penampakan jeram-jeram sangat panjang dan bergradien curam di bawah air terjun tersebut. 

Segmen ketiga adalah creek (sungai berdebit air relatif kecil) sepanjang sekitar 13,3 km (atau 24,9 km, tergantung titik awal mana yang dipilih) pada sebuah anak sungai yang masuk ke Sungai Belayan dari barat di titik koordinat [1.0462350,115.7735687]. Di citra satelit, terlihat ada bekas jembatan yang mungkin dulunya adalah jalan akses pembalakan (logging) yang kini sepertinya sudah jarang digunakan di titik koordinat [1.034054,115.695570], yang mungkin saja masih bisa dijadikan titik akses untuk memulai pengarungan untuk segmen sepanjang 13,3 km sampai memasuki Sungai Belayan. Jika titik awal pengarungan dimulai agak ke hulu lagi, dari bekas jembatan di titik koordinat [1.0213830,115.6469400], panjang segmen bertambah 11,6 km. Di citra satelit, terlihat ada bagian berjeram sepanjang sekitar 2,8 km dengan perbedaan elevasi sekitar 60 m di awal segmen bagian hulu ini. Gradien sungai kelihatannya terkonsentrasi di bagian itu, sementara sisanya terlihat flat saja. Melihat perbedaan elevasinya, tidak tertutup kemungkinan bahwa di bagian itu terdapat air terjun yang tidak terlalu tinggi. Segmen sungai ini mungkin cukup menarik buat para kayaker petualang yang menyukai low-volume steep-creek dengan jeram-jeram slide (perosotan), dan air terjun.

Meski lebih kecil bila dibandingkan dengan segmen lainnya, segmen di anak sungai yang satu ini kelihatannya masih cukup memungkinkan untuk diarungi dengan perahu kayak. (lihat tampilan satelit ini dan tampilan satelit ini)

Segmen keempat berada di sebuah anak sungai lain, yang belakangan saya ketahui bernama Sungai Belinau (*lihat catatan tambahan #1), sepanjang sekitar 21,7 km dari titik koordinat [0.945531,115.662281] hingga titik koordinat [0.915963,115.769205]. Pada tampilan citra satelit Google Maps terlihat seperti ada jaringan jalan (kemungkinan adalah jalan akses pembalak) yang mungkin dapat digunakan untuk mengakses segmen sungai ini dari beberapa pilihan titik. Pilihan pertama dimulai dari titik koordinat [0.883447,115.558633] dengan mengarungi sekitar 33,5 km flat sebelum mencapai jeram pertama. Pilihan kedua dimulai dari titik koordinat [0.917407,115.574543] dengan mengarungi sekitar 25 km flat dari anak sungainya sebelum mencapai jeram pertama. Pilihan ketiga adalah dari titik koordinat [0.957470,115.689475], dengan mengarungi sebuah anak sungai kecil yang kelihatannya bergradien sangat curam sepanjang sekitar 4,3 km sebelum kemudian memasuki Sungai Belinau. Pengarungan bisa diakhiri di titik koordinat [0.915963,115.769205] atau titik koordinat [0.939114,115.794235] di mana pada citra satelit Google Maps terlihat ada jalan akses, atau diteruskan ke Sungai Belayan sampai di segmen berjeram berikutnya. Namun, mirip dengan segmen di Sungai Tabang, segmen ini sepertinya juga memiliki air terjun lumayan tinggi dan beberapa jeram yang entah runnable atau unrunnable. Meski kelihatannya cukup memungkinkan untuk diakses, scouting lebih detil mungkin diperlukan untuk menentukan apakah segmen ini cukup sepadan untuk diarungi (atau apakah kita cukup layak mengarunginya).

Seperti di Sungai Tabang, segmen berjeram di Sungai Belinau ini kelihatan sangat menggoda, namun sekaligus juga mengintimidasi.

Di sebelah kiri dandi bawah ini adalah penampakan jeram yang sepertinya merupakan air terjun. (lihat tampilan satelit ini dan tampilan satelit ini)

Di bawah air terjun itu masih ada jeram-jeram panjang yang kelihatannya cukup curam. (lihat tampilan satelit ini)

Segmen kelima, yang menurut saya paling menarik dan sangat memungkinkan untuk diakses, adalah sepanjang sekitar 18,5 km pada sungai utama (Sungai Belayan) di mana aliran sungai ini mengitari sisi barat Gunung Babi, yakni dari jembatan di titik koordinat [0.896154,115.919457] hingga jalan akses di titik koordinat [0.772567,115.898111]. Jeram-jeramnya kelihatan cukup besar dan panjang, dengan potensi debit air besar. Perkiraan saya, tingkat kesulitannya berkisar grade 4 hingga 5, dengan kemungkinan mencapai 6.

Tampilan citra satelit jeram-jeram panjang di Sungai Belayan segmen Gunung Babi. Meski panjang segmen "cuma" 18,5 km, jeram-jeram yang ada terlihat sangat menggoda untuk diarungi. (lihat tampilan satelit ini)

Tidak dapat saya temukan informasi lebih lanjut soal apakah Sungai Belayan (termasuk segmen Gunung Babi) ini sudah pernah diarungi sebelumnya, meskipun, berdasarkan informasi yang dapat saya temukan di internet, jalan akses untuk segmen Gunung Babi ini kelihatannya terbilang lumayan mudah untuk ukuran Kalimantan, terutama bila dibandingkan dengan jalan akses ke Sungai Boh, misalnya. Rasanya, meski segmennya tidak terlalu panjang, jeram-jeram besar dan panjang yang menanti di sungai ini seharusnya masih sangat layak untuk jadi tujuan ekspedisi arung jeram.

Dari informasi yang saya temukan, Tabang dapat dicapai dengan perjalanan darat dari Samarinda dengan durasi perjalanan sekitar seharian (tonton video ini sebagai gambaran). Dari Tabang ke jembatan titik mula segmen Gunung Babi di titik koordinat [0.896154,115.919457], perkiraan saya dapat ditempuh selama setengah hari, idealnya dengan mobil 4x4, mengingat kondisi jalan yang belum dikeraskan dan medannya yang menanjak (tonton video ini sebagai gambaran).

Meski panjang segmen berjeram cuma 18,5 km, namun, jika melihat jeram-jeramnya yang panjang dan kebanyakan berisi hole besar, proses scouting yang teliti dan penerapan strategi keselamatan (safety) yang memadai akan sangat dibutuhkan dan tentunya memakan waktu, apalagi jika ditambah proses pendokumentasian. Beberapa jeram bahkan mungkin akan memaksa kita portaging (mengangkat perahu dan berjalan lewat darat/tepi sungai untuk menghindari jeram yang terlalu sulit atau berbahaya untuk diarungi), terutama bila debit air besar. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, 1 hari mungkin tidak akan cukup untuk menyelesaikannya. Perkiraan saya, pengarungan segmen ini akan butuh waktu setidaknya 2-3 hari.

Pengarungan bisa diakhiri setelah segmen 18,5 km ini, dan dijemput di jalan akses di titik koordinat [0.772567,115.898111] entah dengan mobil 4x4 atau long boat. Atau, kalau dirasa cukup sepadan, pengarungan bisa diteruskan sejauh 39 km lagi dengan estimasi waktu sehari penuh untuk sampai di Tabang, meski isinya hanya tinggal flat, mungkin dengan satu dua jeram grade 2.

Bila melihat lokasi dan rute transportasi untuk mencapainya, pengarungan Sungai Belayan (segmen Gunung Babi) dan Sungai Boh mungkin bisa dijadikan satu rangkaian perjalanan. Terserah mana yang mau diarungi duluan. Tapi, saya pikir, lebih baik Sungai Belayan dulu, yang lebih dekat dari Samarinda dan segmennya lebih pendek. Setelah itu baru dilanjutkan ke Sungai Boh yang perjalanannya lebih jauh dan memakan banyak waktu. Berdasarkan perhitungan kasar saya, 20 hari sepertinya cukup untuk mengarungi kedua sungai ini, dengan skenario garis besar seperti berikut:

  • Hari 1: Perjalanan Samarinda - Tabang (tonton video ini sebagai gambaran).
  • Hari 2: Perjalanan Tabang - Jembatan Belayan (segmen Gunung Babi), langsung dilanjutkan dengan pengarungan, atau berkemah dulu.
  • Hari 3 - 5: Pengarungan Sungai Belayan (segmen Gunung Babi).
  • Hari 6: Pengarungan Sungai Belayan (sampai ke Tabang).
  • Hari 7: Perjalanan Tabang - Melak (tonton video ini sebagai gambaran).
  • Hari 8: Perjalanan Melak - Long Bagun (naik taksi Mahakam).
  • Hari 9: Perjalanan Long Bagun - Camp KM 122 - Desa Agung Baru (naik long boat, dilanjutkan dengan mobil 4x4).
  • Hari 10: Pengarungan segmen pemanasan Sungai Boh (Agung Baru - Data Baru), dilanjutkan perjalanan darat Data Baru - Mahak Baru.
  • Hari 11: Pengarungan Sungai Mahak, langsung dilanjutkan ke segmen lembah Sungai Boh.
  • Hari 12 - 17: Pengarungan Sungai Boh sampai Camp KM 122
  • Hari 18: Perjalanan Camp KM 122 - Long Bagun (naik long boat)
  • Hari 19 - 20: Perjalanan Long Bagun - Samarinda (naik kapal taksi Mahakam)

Sungai Krayan

Setelah mencermati Sungai Boh dan Sungai Belayan yang penuh jeram-jeram menggiurkan, saya jadi semakin penasaran mengulik Pulau Kalimantan lebih jauh lagi. Menggeser-geser tampilan medan (terrain view) wilayah pegunungan dekat perbatasan Malaysia pada Google Maps, mata saya menangkap dua cekungan dataran tinggi yang cukup luas di antara gugusan pegunungan, di pojok barat laut wilayah Provinsi Kalimantan Utara. Dari kedua cekung dataran itu terlihat ada gurat lembahan yang cukup dalam. Memeriksa tampilan citra satelitnya, benar saja, di lembah-lembah yang dalam itu mengalir sungai berjeram yang sepertinya lumayan curam.

Daerah di mana kedua cekung dataran itu berada dikenal sebagai Dataran Tinggi Krayan yang secara administratif kini terbagi menjadi lima wilayah kecamatan (Krayan, Krayan Barat, Krayan Selatan, Krayan Tengah, dan Krayan Timur) dan termasuk dalam wilayah Kabupaten Nunukan. Dari gugusan pegunungan di sekitar dataran tinggi itu mengalir sejumlah sungai yang mengairi lembah-lembah berpenghuni di antaranya. Satu demi satu sungai-sungai itu bergabung, menjadi dua aliran sungai yang cukup besar, kemudian, seperti menerobos barisan pegunungan, kedua sungai itu mengalir, yang satu ke tenggara, yang satu lagi ke timur laut, menciptakan celah lembahan dalam (gorge) yang bergradien curam, menuruni ketinggian, bergabung menjadi satu, dan terus mengalir ke tenggara melewati wilayah Kabupaten Malinau, lalu memasuki Sungai Sesayap yang bermuara ke Laut Sulawesi di kawasan delta di Kabupaten Tana Tidung, dekat Pulau Tarakan.

Tampilan medan Google Maps dua sungai dengan daerah tangkapan air cukup luas yang mengalir dari Dataran Tinggi Krayan menembus barisan pegunungan.

Mencari tahu toponim (nama bagi bentukan alam dan unsur geografis) sungai-sungai di wilayah ini memaksa saya harus mengais-ngais informasi dari berbagai sumber rujukan di internet, sebab situs tempat mengunduh peta rupa bumi Indonesia milik Badan Informasi Geospasial yang biasanya jadi rujukan saya tidak menyediakan peta wilayah ini. Sedangkan peta wilayah Sungai Sesayap dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) hanya menampilkan toponim untuk sungai yang pertama, yakni Sungai Bruwen, sementara sungai yang kedua dijejalkan menjadi satu sungai dengan label 'Sungai Sesayap'.

Setelah mencekoki mesin pencari dengan berbagai kombinasi kata kunci, baru akhirnya saya dapati beberapa artikel "ilmiah" yang menarik dan cukup informatif untuk menjawab rasa ingin tahu saya. Pertama, sebuah artikel tahun 2023 dari Ulce Oktrivia, dkk. tentang situs megalitik Batu Pun di daerah Krayan, yang di dalamnya terdapat peta yang kebetulan memuat nama-nama sungai di daerah dataran tinggi tersebut. Peta dalam artikel tersebut mengonfirmasi—meski dengan agak kabur— toponim Sungai Bruwen untuk sungai yang pertama dan menginformasikan toponim sungai yang kedua, yakni Sungai Krayan.

Potongan peta wilayah Sungai Sesayap dari Kementrian PUPR (kiri) dan peta dari artikel Ulce Oktrivia, dkk. (kanan). Di peta PUPR, sungai yang mengalir dari barat laut ke tenggara dinamai 'Sungai Bruwen' (lingkaran merah). Di peta dari artikel Oktrivia, dkk., sungai yang sama dinamai (kira-kira) 'Pa Beruen' ('pa'='sungai'; lingkaran merah). Meski tulisannya kabur, saya kira bunyinya tidak akan terlalu jauh dari bunyi 'bruwen' sehingga saya anggap penamaan itu masih cukup selaras. Sedangkan sungai yang mengalir dari selatan/barat daya ke timur laut, dalam peta dari Oktrivia, dkk. dinamai 'Pa Krayan' (lingkaran biru).

Dari artikel Ulce Oktrivia, dkk. itu juga dapat diketahui bahwa di antara Sungai Krayan pada bagian hulu dan Sungai Sesayap di hilir, sesungguhnya terdapat segmen aliran sungai yang dinamai Sungai Mentarang, sebagaimana disebutkan di halaman kedua (halaman no. 120) di artikel itu:

“Sungai Krayan sebagai bagian dari sub-sub daerah aliran sungai (DAS) Sesayap [….] mengalir dari sebelah barat Long Layu, ibukota Kecamatan Krayan Selatan dan kemudian masuk ke Sungai Mentarang yang bermuara di Sungai Sesayap.” (hal. 120)

Jika kita melakukan pencarian di internet menggunakan mesin pencari (misalnya Google Search) dengan kata kunci ‘Sungai Mentarang’, akan diperoleh banyak hasil. Ini mengindikasikan bahwa Sungai Mentarang memang ada dan dikenal oleh masyarakat luas. Salah satu tema yang muncul dari hasil pencarian itu adalah tentang proyek pembangunan bendungan PLTA Mentarang Induk yang akan membendung dua sungai yaitu Sungai Mentarang dan Sungai Tubu (lihat artikel ini). Bila melihat kembali peta Wilayah Sungai Sesayap dari Kementerian PUPR, terdapat sebuah anak sungai yang bernama Sungai Tubu, yang masuk ke sungai utama dari selatan. Memeriksa lokasi di sekitar pertemuan sungai ini pada Google Maps, memang terdapat titik yang ditandai sebagai PLTA Mentarang. Dari tampilan satelit di lokasi tersebut juga terlihat tanda-tanda seperti sedang berlangsungnya suatu proyek pembangunan. Semua informasi ini, bagi saya, cukup untuk menyimpulkan bahwa aliran sungai utama di titik itu memang adalah Sungai Mentarang. Pertanyaan selanjutnya: dari titik mana hingga titik manakah segmen sungai utama ini yang menyandang nama Sungai Mentarang?

Adalah artikel kedua yang saya temukanlah yang akhirnya bisa menjawab pertanyaan itu dengan cukup memuaskan, yakni sebuah analisis topografis dan geomorfologis terhadap bentang alam Dataran Tinggi Krayan dan Kelabit oleh Werner F. Schneeberger, tertahun 1945. Di dalam artikel tersebut terdapat peta yang menampilkan toponim pegunungan dan sungai-sungai di bagian utara Kalimantan, khususnya di sekitar Dataran Tinggi Krayan yang jadi fokus pengamatan Schneeberger.

Peta Dataran Tinggi Krayan & Kelabit dari artikel Schneeberger (hal. 546-547) ini adalah peta yang paling lengkap menampilkan toponim sungai-sungai dan pegunungan di sekitar Dataran Tinggi Krayan yang dapat saya temukan. Dari peta ini dapat diketahui nama sungai-sungai berjeram yang dibahas di sini: 'Pa Beroewen' (yang saya ambil sebagai 'Sungai Bruwen'), 'Pa Kerayan' (sebagai 'Sungai Krayan'), dan 'Sungai Mentarang'.

Di antara semua peta wilayah ini yang bisa saya temukan, peta dari Schneeberger ini adalah yang paling lengkap toponimnya. Toponim pada peta ini juga cukup selaras dengan yang ada di peta dari Oktrivia, dkk. Oleh karena itu, saya jadikan peta ini sebagai rujukan untuk toponim-toponim sungai dan pegunungan, dengan penyesuaian ejaan.

Berdasarkan itu, maka dalam pembahasan ini, Sungai Krayan ('Kerayan' dalam peta Schneeberger) adalah aliran sungai yang dimulai dari titik pertemuan Sungai Bude ('Boede' dalam peta Schneeberger) dengan aliran sungai dari barat, di sebelah selatan Long Layu pada titik koordinat [3.5895870,115.6917432], sampai di pertemuan Sungai Kinaya ('Kinayo' dalam peta Schneeberger) di sebelah selatan Long Berang pada titik koordinat [3.7330563,116.1483923]. Dari titik itu dan seterusnya hingga memasuki Sungai Sesayap di pertemuan Sungai Malinau pada titik koordinat [3.5228508,116.5266037] adalah aliran Sungai Mentarang. Adapun Sungai Bruwen ('Berouwen' dalam peta Schneeberger) adalah anak Sungai Krayan, yang bermula dari pertemuan Sungai Lutut ('Loetoet' dalam peta Schneeberger) dan Sungai Raye ('Raya' dalam peta Schneeberger) di dekat Desa Pa' Raye pada titik koordinat [4.0091481,115.7761289] hingga memasuki Sungai Krayan di titik koordinat [3.9449579,115.9234402].

Sejauh pencarian saya, belum dapat saya peroleh informasi soal apakah Sungai Krayan maupun Sungai Bruwen sudah pernah diarungi sampai ke Sungai Mentarang. Sulitnya mengakses Dataran Tinggi Krayan lewat darat mungkin adalah salah satu faktor yang jadi penghambat. Menurut informasi yang saya dapatkan dari internet, sampai sekitar tahun 2021, ruas jalan darat untuk akses menuju Krayan dari Kota Malinau masih belum layak untuk ditempuh dengan kendaraan. Bahkan dengan sepeda motor trail pun sangat sulit dilalui [tonton playlist YouTube ini]. Pernah ada rombongan yang bisa tembus menggunakan kendaraan 4x4, namun dengan bantuan alat berat [tonton playlist YouTube ini]. Sampai sekarang, belum saya dapatkan informasi apakah jalan tersebut sudah diperbaiki dan lebih layak dilalui kendaraan atau belum. Pesawat perintis nampaknya masih jadi satu-satunya moda transportasi yang bisa diandalkan.

Untuk akses dari dan ke desa-desa di daerah pedalaman sepanjang aliran Sungai Mentarang, menggunakan perahu bermesin (long boat) dengan menyusuri sungai ini juga nampaknya masih jadi pilihan andalan masyarakat ketimbang melalui jalan darat. Desa paling hulu yang dapat dijangkau dengan moda transportasi ini, sepertinya adalah Desa Long Sulit yang berada di hilir Sungai Krayan [tonton playlist YouTube ini], dan Desa Long Berang di hilir Sungai Kinaya [tonton video ini].

Faktor lain yang saya duga turut membuat kedua sungai itu (Krayan dan Bruwen) belum pernah dijelajahi para pengarung jeram adalah keberadaan segmen-segmen yang mungkin terlalu sulit diarungi (bahkan bisa jadi unrunnable). Di Sungai Bruwen ada segmen sepanjang sekitar 6 km dari titik koordinat [3.9919449,115.8226424] hingga titik koordinat [3.9722813,115.8555860] dengan perbedaan elevasi sekitar 200 m. Sebagian besar aliran sungai sepanjang segmen ini terlihat menyempit, dan meski tak seluruhnya kelihatan dari citra satelit, dapat diperkirakan bahwa jeram-jeramnya sangat panjang dan rapat. Tak terlalu sulit pula dibayangkan kemungkinan terdapat air terjun di sini.

Tampilan citra satelit Sungai Bruwen berurutan dari hulu ke hilir. Tiga yang pertama dari Google Maps, menampakkan jeram-jeram di aliran sungai yang lebar pada bagian awal. Dan empat yang terakhir dari Apple Maps, menampakkan jeram-jeram berkelanjutan di segmen penyempitan sepanjang sekitar 6 km.

Segmen inilah mungkin yang oleh penduduk asli di sekitarnya dinamakan 'Lobang Kwor Asai', mengacu pada sosok pahlawan dalam legenda tentang proses terciptanya lembah Sungai Bruwen, sebagaimana digambarkan oleh Schneeberger ketika memaparkan analisisnya mengenai proses terkurasnya danau yang diduga pernah ada di dataran tinggi di hulu Sungai Bruwen:

"Beyond the junction the river, known as the Beroewen, enters a narrow gorge, called Lobang Kwor Asai by the natives. Downstream of this spectacular gorge the Beroewen Valley is narrow and deeply incised in steep sandstone ridges, with numerous waterfalls and rapids. [...] It is probable that through this gap a lake that had occupied the Loetoet Valley and the basins of Wailaya and Poetoek was emptied. During heavy rains the drainage capacity of the gorge is insufficient, and the Loetoet Valley is extensively inundated. This apparently is the reason for a native legend regarding the origin of the Beroewen gorge. It relates briefly that the mighty chief Kwor Asai, for the benefit of his people, who were short of ground for rice fields because of the great lake occupying the valleys, cleft the rock with one blow of his sword. The lake emptied itself through the gap, and the people began to make paddy fields in the wide flats that emerged from the water." (hal. 555-556).

Sebagaimana digambarkan Schneeberger, lembah sempit yang dialiri Sungai Bruwen itu bagaikan menerobos barisan pegunungan yang membujur dari utara ke selatan, dari Gunung Harun di utara hingga Gunung Nulin di selatan. Barisan pegunungan yang sama adalah yang juga diterobos oleh aliran Sungai Krayan di selatan Sungai Bruwen. Dan di segmen di mana aliran Sungai Krayan menerobos barisan pegunungan itu pula terdapat segmen jeram sepanjang sekitar 2 km dengan penurunan elevasi sekitar 80 m yang di tengahnya terdapat sebuah air terjun, yakni di titik koordinat [3.8635910,115.8813860]. Air terjun itu, saya duga, adalah air terjun yang sama dengan yang ditampilkan dalam video yang diunggah di akun Instagram Krayan Indonesia (@krayan_indonesia) dan sebuah video lain di kanal Youtube Balang Tepun, yang bernama Rueb Sebiling (*lihat catatan tambahan #2).

Tampilan citra satelit Apple Maps segmen Rueb Sebiling (kiri) dan beberapa jeram di bawahnya (kanan), sebelum pertemuan Sungai Bruwen.

Selain segmen Rueb Sebiling itu, sekitar 5 km setelah pertemuan Sungai Bruwen, aliran Sungai Krayan kembali memasuki sebuah segmen lembah sempit sepanjang 2 km yang, dari citra satelit, jeram-jeramnya kelihatan sangat teknikal dengan bagian-bagian yang sangat mungkin unrunnable dan dipungkasi dengan sebuah air terjun yang entah runnable atau unrunnable di titik koordinat [3.9252085, 115.9701733]. Total penurunan elevasi di sepanjang 2 km segmen ini adalah sekitar 100 m, di mana 60 m penurunan elevasi terkonsentrasi di 500 m terakhir menuju air terjun.

Tampilan citra satelit Sungai Krayan setelah pertemuan dengan Sungai Bruwen. Yang sebelah kanan adalah segmen lembah sempit (gorge) dengan jeram-jeram teknikal dan air terjun.

Segmen ini, ditambah segmen Rueb Sebiling di atasnya dan segmen Kwor Asai di Sungai Bruwen, adalah momok yang mungkin menjadi alasan mengapa sampai sekarang belum terdengar kabar tentang pengarungan sungai ini. Meski jeram-jeram di bawah segmen ini kelihatan lebih bersahabat untuk diarungi, tidak ada jalan lain untuk mengaksesnya kecuali dari wilayah Dataran Tinggi Krayan. Secara teori, lewat udara menggunakan helikopter atau membuka jalur menerabas gunung dan hutan mungkin bisa, tetapi tidak praktis.

Tampilan citra satelit jeram-jeram di Sungai Krayan, setelah segmen lembah sempit berjeram teknikal dan air terjun. Dibanding jeram-jeram di atasnya, jeram-jeram ini kelihatan jauh lebih bersahabat untuk diarungi.

Kiranya cukup jelas bisa terbayangkan bahwa untuk mencoba mengarungi sungai-sungai ini, selain biaya yang besar, dibutuhkan tim (kayaker) dengan kecakapan (skill) tinggi dan bekal pengalaman yang banyak. Sesuatu yang tidak bisa dikumpulkan dalam waktu singkat. Selain itu, perlu juga ada sedikit keyakinan bahwa meskipun ada banyak titik atau segmen yang mungkin tidak dapat diarungi, masih tersisa jeram-jeram yang cukup sepadan untuk dijelajahi di sepanjang aliran sungai. Bagaimanapun, tidak ada yang pasti terjadi sebelum ia benar-benar terjadi. Tidak ada yang pasti bisa dilakukan sebelum ia dilakukan.

Kecuali jika ruas jalan Malinau-Krayan sudah cukup layak ditempuh dengan kendaraan, pesawat perintis sepertinya masih akan menjadi satu-satunya moda transportasi yang layak untuk mengakses hulu kedua sungai itu. Kalau melihat lokasi dan penampakan bandara yang ada, Yuvai Semaring di Long Bawan sepertinya melayani penerbangan lebih sering, sedangkan S. Tipa Padan di Binuang, meski ada, sepertinya lebih jarang. Meski ada pula jalan akses darat dari Sarawak lewat Ba' Kelalan, namun ini bukan jalur penyeberangan perbatasan yang resmi sehingga akan sangat merepotkan untuk mengurus surat-surat legalitas. Jalur ini sepertinya hanya untuk orang-orang yang perlu menyeberang sementara dalam jangka waktu yang terbatas dan harus kembali lewat jalur yang sama (?).

Dilema yang mungkin dihadapi ketika merencanakan pengarungan sungai-sungai ini adalah pemilihan titik awal pengarungan: dari hulu Sungai Krayan, atau dari Sungai Bruwen? Titik awal yang ideal untuk Sungai Krayan, menurut saya adalah beberapa kilo meter ke utara dari Desa Ba' Liku, yakni di titik koordinat [3.8106029, 115.8437259] di mana aliran sungai dan ruas jalan mulai berpisah. Sebenarnya ada dua jeram yang kelihatan cukup besar di sekitar 20 km dan 40 km arah hulu (selatan) dari titik ini, serta segmen sekitar 5 km dengan beberapa jeram grade 2 - 3 di antaranya. Namun, selain itu, sepanjang 35 km lebih aliran sungai sisanya hanya ada flat sehingga mengarunginya mungkin tidak cukup sepadan. Kalau mau, kedua jeram itu mungkin lebih baik diarungi satu-satu secara terpisah, mengingat lokasinya cukup dekat dengan jalan.

Video ini memperlihatkan jeram yang berada di titik koordinat [3.734725, 115.864215], sekitar 20 km (mengikuti sungai) arah hulu (selatan) dari titik awal ideal pengarungan Sungai Krayan. Merujuk situs web Kemenpar, jeram ini bernama Rueb Beneh.
Video ini memperlihatkan jeram yang disebutkan di dalamnya bernama Hulu Giram, letaknya di titik koordinat [3.568543, 115.802314], sekitar 40 km (mengikuti sungai) arah hulu (selatan) dari titik awal ideal pengarungan Sungai Krayan.

Sedangkan untuk Sungai Bruwen, titik awalnya adalah di sekitar pertemuan Sungai Raye dan Sungai Lutut, dekat Desa Pa' Raye di titik koordinat [4.0091481, 115.7761289]. Dari segi jarak dari Long Bawan, titik awal Sungai Bruwen berada lebih dekat ketimbang Sungai Krayan, dengan kondisi jalan akses yang juga terlihat lebih baik (tonton video ini sebagai gambaran) ketimbang jalan menuju Kecamatan Krayan Tengah di mana bagian hulu Sungai Krayan mengalir (tonton video ini sebagai gambaran). Kecuali bila kita terbang langsung ke Desa Binuang atau bila menempuh jalur darat dari Malinau, titik awal Sungai Bruwen jelas lebih mudah diacapai dan lebih masuk akal untuk dipilih. Segmen Sungai Bruwen juga sepertinya memiliki lebih banyak jeram, dengan gradien rata-rata yang lebih curam dibanding hulu Sungai Krayan.

Tetapi, kalau melihat video Rueb Sebiling, ada kemungkinan bahwa air terjun tersebut bisa diarungi (pakai kayak). Melewatkan kesempatan untuk mengarunginya, rasanya bakal cukup disayangkan. Dengan "sedikit" perjuangan lebih, saya melihat ada cara untuk dapat mengarungi Sungai Bruwen (termasuk segmen paling menantang yang saya duga adalah Kwor Asai itu) dan Rueb Sebiling di Sungai Krayan. Yakni dengan pertama-tama mengarungi Sungai Bruwen sampai Desa Wa' Yagung, kemudian menempuh jalan darat kembali ke Long Umung lalu menuju Desa Ba' Liku untuk mengarungi Sungai Krayan sampai ke hilir dan memasuki Sungai Mentarang.

Pengarungan bisa diakhiri di Desa Long Sulit, lalu menempuh Sungai Mentarang dengan long boat sewaan sampai ke Malinau. Atau, pengarungan bisa dilanjutkan sampai Desa Harapan Maju, dekat lokasi bendungan PLTA Mentarang Induk bakal dibangun. Meski tidak terlalu banyak, jeram-jeram di Sungai Mentarang rasanya cukup menantang juga untuk diarungi (kelihatannya bisa mencapai grade 4 pada debit air besar). Ada kemungkinan sebagian jeram itu nantinya akan tenggelam jika bendungan PLTA yang kabarnya akan setinggi 235 m dan bakal jadi yang tertinggi di Indonesia itu selesai dibangun.

Aliran Sungai Bruwen (oranye), Sungai Krayan (kuning), dan Sungai Mentarang (biru) yang memiliki jeram-jeram yang menarik untuk diarungi pada tampilan medan Google Maps. Garis cokelat adalag ruas jalan darat yang saya kira bisa ditempuh untuk dapat mengarungi Sungai Bruwen dan Sungai Krayan (hulu).

Menurut perkiraan saya, pengarungan Sungai Bruwen sampai di Wa' Yagung sepanjang 16,5 km bisa memakan waktu 3-5 hari. 6 km segmen lembah sempit Kwor Asai kemungkinan bakal memakan paling banyak waktu, mengingat total elevation loss-nya serta jeramnya yang sangat rapat dengan kemungkinan adanya air terjun. Untuk Sungai Krayan dari Ba' Liku sampai Long Sulit sepanjang sekitar 63,5 km, perkiraan saya bisa memakan waktu 6-10 hari. Dan untuk segmen Sungai Mentarang dari Long Sulit hingga Harapan Maju sepanjang sekitar 65 km bisa diarungi selama sekitar 2-4 hari, tergantung besarnya debit air.

CATATAN TAMBAHAN

#1 (Tentang Toponim Sungai Belinau)

Video dari kanal YouTube Gandi Borneo

Di sebuah video di kanal YouTube Gandi Borneo yang saya tonton untuk mendapatkan gambaran kondisi ruas jalan dari Tabang ke jembatan Sungai Belayan (segmen Gunung Babi), di menit 12:58 ditampilkan sebuah papan bertuliskan nama tempat: "Sempadan Sungai Belinao KM 85". Di dekat situ ada jembatan yang menyeberangi sebuah sungai, yang menurut naratornya bernama Sungai Belinau (dalam hal ini, 'belinau' dan 'belinao' saya rasa mengacu pada hal yang sama saja). Pencarian dengan mesin pencari menggunakan kata kunci 'sempadan sungai belinau km 85' menghasilkan, di antaranya, sebuah dokumen yang di dalamnya (halaman 56) termuat titik koordinat "Sempadan Sungai Belinau KM 85" itu, yakni N: 00°56’22,93” dan E: 115°47’43,23” yang jika ditranslasikan ke format desimal adalah: [0.939703, 115.795342]. Penampakan sungai pada citra satelit di dekat titik itu (ada bagian sungai yang melebar seperti danau) juga mirip dengan yang terlihat di video. Dengan demikian, aliran sungai yang melewati jembatan dekat titik itu, kiranya memang adalah Sungai Belinau namanya.

#2 (Tentang Toponim Rueb Sebiling)

Di Google Maps terdapat sebuah jeram di Sungai Krayan, setelah pertemuan dengan Sungai Bruwen, yang sudah ditandai sebagai Rueb Sebiling (lihat ini). Namun, penampakan citra satelitnya sama sekali tidak mirip dengan penampakan air terjun di video yang diunggah akun Krayan Indonesia (@krayan_indonesia) di Instagram. Air terjun di video tersebut terlihat lebih mirip dengan air terjun yang berada di titik koordinat [3.8635910, 115.8813860]. Jika membaca keterangan (caption) di bawah video Instagram itu, disebutkan bahwa air terjun yang bernama Rueb Sebiling itu berada di [dekat] Desa Ba'Liku. 

Merujuk pada peta administratif Kecamatan Krayan Tengah dalam Peraturan Daerah Kabupaten Nunukan No. 11 Tahun 2015, titik permukiman Desa Ba’ Liku berada berdekatan dengan titik permukiman Desa Binuang, yang jika dihitung secara manual berada di sekitar titik koordinat [3°47'30.0"N 115°51'00.0"E] (3.791667, 115.850000 dalam format desimal). Apple Maps (lihat ini) dan Google Maps (lihat ini) mengenali titik tersebut sebagai Long Mutan. Namun, saya pikir Perda tersebut seharusnya lebih dapat dipercaya. Lagi pula, menurut peta wilayah Desa Ba’ Liku dalam Peraturan Bupati Nunukan No. 25 Tahun 2024, permukiman di dekat titik ini, sebagiannya masih berada dalam wilayah desa tersebut. Dengan demikian, rasanya cukup dapat diyakini bahwa permukiman pada titik tersebut memang sesungguhnya (paling tidak sebagiannya) adalah permukiman warga Desa Ba’ Liku.

Peta dalam Peraturan Daerah Kabupaten Nunukan No. 11 Tahun 2015
Peta wilayah Desa Ba' Liku dalam Peraturan Bupati Nunukan No. 25 Tahun 2024

Dibandingkan dengan jeram yang sudah ditandai di Google Maps itu, air terjun yang berada di titik koordinat [3.8635910, 115.8813860] ini berada lebih dekat dari Desa Ba' Liku yang kelihatannya merupakan desa terakhir yang dilewati jika ingin mengakses air terjun ini maupun jeram itu, baik melalui sungai atau menyusuri lembahannya. Di YouTube, dengan kata kunci 'rueb sebiling' dapat ditemukan dua video yang menampilkan air terjun yang sama dengan yang ada dalam video Instagram Krayan Indonesia itu. Video pertama, yang diunggah di kanal YouTube Hengky Black (ini) memperlihatkan bagaimana orang-orang menggunakan perahu menyusuri sungai kemudian berjalan kaki untuk menuju air terjun yang disebut Rueb Sebiling itu. Di video kedua, yang ada di kanal YouTube Balang Tepun (ini), bisa dilihat petunjuk lain, yakni sebuah batu yang sangat mencolok baik bentuk maupun letaknya pada detik 33 dan menit 01:57, yang cukup mengonfirmasi bahwa air terjun yang dinamakan Rueb Sebiling itu adalah air terjun yang berada di titik koordinat [3.8635910, 115.8813860].

Video dari kanal YouTube Hengky Black
Video dari kanal YouTube Balang Tepun