Pages - Menu

20260307

Menduga Letak Jeram-Jeram Sungai Boh Dari Buku Shooting The Boh

Saya pernah menulis tentang tiga sungai berjeram di Kalimantan yang saya pikir menarik diarungi [bisa dibaca di sini]. Salah satu sungai yang dibahas adalah Sungai Boh, khususnya segmen lembah sempit (gorge) sepanjang sekitar 35 km yang pada tampilan citra satelit terlihat paling banyak menyimpan jeram.

Tak lama setelah mempublikasikan tulisan itu, saya menemukan buku Shooting The Boh, sebuah memoar oleh Tracy Johnston, terbitan tahun 1992. Buku ini menceritakan pengalaman penulisnya ketika turut serta dalam ekspedisi penjelajahan Sungai Boh yang diadakan oleh Sobek Expeditions, sebuah perusahaan adventure travel yang didirikan oleh Richard Bangs, dkk., dalam rangka menjajaki kemungkinan mengembangkan sungai tersebut sebagai salah satu tujuan trip arung jeram komersial. Pengarungan dengan tiga perahu karet (raft)—dua oar boat dan satu paddle boat—oleh 12 orang, dipimpin Dave Heckman itu dilakukan pada bulan Agustus tahun 1991 (perihal tahun pengarungan, saya merujuk sebuah artikel di Substack sebab saya tidak bisa menemukan informasi itu di dalam buku ini), dan disebut-sebut sebagai first descent—pengarungan pertama yang pernah dilakukan—yang berhasil menembus segmen lembah sempit Sungai Boh itu.

Sampul depan buku Shooting The Boh

Sebelum mereka, disinggung pula dalam buku ini, sebenarnya sudah ada dua kali upaya untuk mengarungi sungai tersebut. Yang pertama, digagas oleh seorang ekspatriat asal Britania bernama Dave Ferguson (alias: Taman Kahang) bersama empat penduduk lokal menggunakan perahu Zodiac (perahu karet berlantai papan kaku yang buritannya bisa dipasangi mesin) pada tahun 1987. Namun mereka tidak berhasil menembus segmen gorge tersebut karena jeram-jeramnya dinilai terlalu besar dan berbahaya, meskipun waktu itu debit airnya sedang kecil. Yang kedua, oleh ALLWET (All Women's Exploratory Team), yang difasilitasi oleh Sobek Expeditions, juga pada tahun 1987, untuk sebuah episode serial dokumenter petualangan Spirit of Adventure di saluran TV ABC bertajuk Headhunter's Legacy. Namun mereka memutuskan tidak jadi mengarunginya setelah scouting menggunakan helikopter memperlihatkan jeram-jeram yang sangat besar dan panjang di sungai itu.

Rekaman acara TV ABC bertajuk Headhunter's Legacy yang diunggah di YouTube. Di sini juga diceritakan sekilas mengenai upaya pengarungan yang dilakukan Dave Ferguson, di menit 23:45 - 25:00.

Berdasarkan sumber informasi lain yang pernah saya temukan, ada dua orang/kelompok lain yang tercatat pernah mengarungi Sungai Boh. Yang pertama, merujuk rubrik Profil di majalah Jejak edisi Januari 2017, (Alm.) Sinarmas Djati dkk. (saya berasumsi dia tidak sendiri), seorang pionir arung jeram Indonesia dan sesepuh Mapala UI, pernah mengarungi Sungai Boh pada tahun 1979. Dan yang kedua, berdasarkan sebuah artikel di blog kareumbi.wordpress.com, Wanadri juga pernah mengarungi Sungai Boh pada tahun 1987. Sayangnya, tidak saya temukan informasi lebih detil mengenai kedua pengarungan itu, termasuk segmen mana yang mereka arungi.

Sejauh yang dapat saya temukan hingga kini, hanya buku Shooting The Boh inilah yang menyajikan gambaran mengenai segmen gorge Sungai Boh yang penuh jeram itu, meski tak terlalu detil dan lengkap. Maka di tulisan ini saya akan mencoba menyusun kembali kepingan gambaran tentang sungai itu yang diperoleh dari buku ini, dan membandingkannya dengan tampilan citra satelit Apple Maps di situs satellites.pro, untuk membuat dugaan letak jeram-jeram di dalamnya.

Beberapa Kejanggalan

Karena sudah sering mengamati tampilan citra satelit Sungai Boh, terutama waktu menulis tentang tiga sungai berjeram di Kalimantan yang saya pikir menarik diarungi itu, dalam benak saya sudah ada bahan-bahan informasi yang sedikit banyak mempengaruhi pembayangan saya atas sungai dan jeram-jeram yang diceritakan dalam buku ini ketika membacanya. Meski demikian, ketika membaca, secara umum saya mendapati kesan bahwa jeram-jeram yang diceritakan ternyata jauh lebih besar dari yang mulanya saya bayangkan.

Jeram besar pertama yang mereka jumpai dan kemudian mereka arungi, misalnya, digambarkan sebagai dua buah drop setinggi 20 kaki (sekitar 6 m): “There are two big drops, about twenty feet, but it’s impossible to portage around it and we think we can run it.” (hal. 64). Mencoba membayangkan drop setinggi itu, saya teringat Tutea Falls, sebuah jeram berupa air terjun setinggi tujuh meter (sekitar 23 kaki) di Sungai Kaituna, Selandia Baru. Tutea Falls memang dikenal sebagai air terjun runnable komersial tertinggi di dunia yang sudah sering diarungi dengan perahu karet [referensi]. Tetapi membayangkan dua air terjun hampir setinggi itu, di sungai yang lebih besar, berturut-turut dalam satu rangkaian jeram, apalagi jeram yang baru pertama kali ditemui, bagi saya terasa lebih wajar dinilai unrunnable. Beda cerita kalau ternyata yang dimaksud 20 kaki itu adalah tinggi keseluruhan jeram, yang berarti bahwa masing-masing drop tingginya 10 kaki (sekitar 3 m). Atau jika drop yang dimaksud tidak benar-benar berupa air terjun vertikal, melainkan turunan landai. Ini akan lebih masuk akal. Sayangnya, kebanyakan deskripsi teknis semacam itu di dalam buku ini memang tidak cukup rinci, dan kadang-kadang terasa kurang masuk akal bagi saya.

Mencoba bersangka baik tanpa harus menuduh informasi dalam buku ini sebagai kebohongan (bagaimanapun, penulis telah menyatakan di bagian acknowledgement bahwa: "everything on these pages is as true as I have been able to make it"), saya masih bisa memaklumi bahwa, sering kali, persepsi manusia memang kurang bisa diandalkan untuk menghasilkan data yang secara objektif cukup presisi. Belum lagi bila persepsi itu dibayangi emosi, misalnya rasa takut ketika melihat jeram besar yang akan diarungi. Oleh karena itu, saya cenderung menganggap gambaran teknis yang bagi saya kurang masuk akal seperti itu sebagai penguat kesan kualitatif saja.

Contoh lain adalah ketika penulis menggambarkan pengarungan hari pertama mereka yang begitu lambat hingga terasa membosankan dengan: "we were moving downriver at about twenty yards an hour" (hal. 63). 20 yard per jam, setara sekitar 18,3 meter per jam, rasanya terlalu lambat, bahkan meski memperhitungkan waktu yang mereka habiskan untuk scouting jeram, sehingga bagi saya, kurang masuk akal untuk ditelan mentah-mentah kecuali dianggap sebagai semacam majas hiperbola belaka. Masih ada beberapa bagian lain di mana saya merasa deskripsi buku ini tidak cukup meyakinkan, biasanya soal jarak, sehingga saya kadang-kadang mengabaikannya bila deskripsi itu tidak dapat membantu—atau malah mempersulit—proses pencocokan dengan tampilan peta citra satelit.

Asumsi

Menyadari bahwa pengarungan mereka dilakukan lebih dari tiga dekade yang lalu, tentu sangat besar kemungkinan bahwa jeram-jeram yang digambarkan di buku ini memang sudah tak lagi persis sama dengan yang ditampilkan di citra satelit. Namun, saya mengandalkan asumsi bahwa meskipun seandainya memang telah terjadi perubahan pada jeram-jeram itu, jeram-jeram yang besar akan tetap besar dan jeram-jeram yang panjang akan tetap panjang, sehingga gambaran dari buku ini masih memungkinkan untuk dicocokkan dengan tampilan citra satelit yang ada sekarang. Asumsi ini mendapatkan dukungan dari secuplik rekaman jeram-jeram Sungai Boh yang di-scouting ALLWET dari helikopter dalam acara TV ABC (lihat menit 18:01 - 18:21), yang sebagian dapat saya identifikasi sebagai salah satu jeram terbesar yang bisa dilihat di tampilan citra satelit pada koordinat 1.242592 N, 115.352938 E.

Ada setidaknya lima tanda berupa bebatuan yang terlihat cukup sesuai antara tampilan citra satelit jeram di titik koordinat 1.242592 N, 115.352938 E dengan rekaman jeram yang terlihat dalam video Headhunter's Legacy menit ke 18:01. Ini menunjukkan bahwa bentukan jeram-jeram di Sungai Boh kemungkinan masih belum mengalami perubahan yang terlalu signifikan sejak tahun 1987, setidaknya sampai gambar citra satelit diambil.

Menandai Dua Jeram Terbesar

Jika memperhatikan tampilan citra satelit sepanjang segmen gorge Sungai Boh, terdapat dua rangkaian jeram yang terihat paling mencolok karena jeramnya kelihatan besar dan juga panjang. Yang pertama berada di titik koordinat 1.300207 N, 115.371438 E (sebut saja 'Jeram Panjang I'), dan yang kedua di 1.242592 N, 115.352938 E (sebut saja 'Jeram Panjang II'). Kedua jeram ini adalah jeram yang sejak awal membaca sudah saya nantikan kemunculannya dalam cerita pengarungan mereka, sebab rasanya mustahil bila jeram sebesar dan sepanjang ini tidak meninggalkan kesan—entah positif atau negatif—yang cukup layak diceritakan. Andai mereka mengarunginya, tentulah pengalaman itu akan menjadi sangat heroik dan layak diceritakan. Jika tidak diarungi, entah karena terlalu besar atau berbahaya, tentu akan menjadi lebih penting lagi untuk diceritakan.

Seperti yang saya perkirakan, dari empat jeram yang tidak mereka arungi, dua di antaranya digambarkan sebagai jeram yang sangat besar. Yang pertama, mereka jumpai pada hari keempat pengarungan. Digambarkan bahwa: "around the corner the entire river funnels into one tremendous waterfall" (hal. 120); dan "... the rapids ahead were over a mile long, with one hundred feet of drop. There was a short calm section at the end of it and then more big water as far as they could see" (hal. 122). Di jeram panjang itu terdapat bentukan (feature) yang mereka sebut 'The Boh Constrictor', berupa: "a series of huge pourovers [that] head for the big drop" (hal. 124).

Gambaran-gambaran mengenai jeram ini, saya pikir cukup sesuai dengan tampilan Jeram Panjang I yang terletak di titik koordinat 1.300207 N, 115.371438 E, dan bentukan jeram kedua tepat setelah jeram di titik koordinat tersebut, saya duga, adalah jeram yang disebut 'The Boh Constrictor'. Memang, kalau diukur pada peta, panjang rangkaian jeram ini tak sampai satu mil. Namun, sebagaimana telah saya kemukakan sebelumnya, pada kasus ini saya lagi-lagi harus menganggap hal itu sekadar sebagai penguat kesan bahwa jeram yang mereka hadapi itu memanglah sangat panjang. Mereka melewati jeram itu dengan berjalan kaki melalui darat, sementara perahu mereka dilarung (dihanyutkan) tanpa awak melalui jeram lalu kemudian dicegat di akhir jeram—sebuah teknik yang oleh Dave Heckman disebut 'ghostboating'.

Tampilan citra satelit Jeram Panjang I, salah satu jeram terbesar di Sungai Boh, yang terletak di titik koordinat 1.300207 N, 115.371438 E.

Jeram besar yang kedua mereka jumpai pada sore hari keenam pengarungan, dan meskipun tidak disebutkan soal panjangnya, ketika salah satu guide menggambarkan jeram itu, katanya: "The whole character of the trip has changed. What we’ve seen up until now—everything we’ve seen on the river until now—is child’s play. Up ahead are ten-, twenty-, thirty-foot waterfalls ... " (hal. 173-174). Tanpa harus menelan mentah-mentah detil teknisnya, deskripsi itu cukup jelas menekankan betapa jeram yang mereka hadapi saat itu adalah jeram yang jauh lebih besar dibanding semua jeram-jeram di atasnya, bahkan dibanding Boh Constrictor. Dan Jeram Panjang II yang terletak di titik koordinat 1.242592 N, 115.352938 E, pada tampilan citra satelit jelas terlihat sebagai jeram paling besar di seluruh segmen gorge Sungai Boh, lengkap dengan rangkaian drop besar dengan hole selebar sungai yang sepertinya mustahil dihindari. Untuk melewati segmen jeram ini, mereka melakukan portaging—membawa semua barang dan peralatan, termasuk perahu yang dikempeskan dan dilipat, berjalan kaki lewat darat sampai ke akhir jeram. Proses portaging itu memakan waktu sehari penuh pada hari ketujuh. Namun mereka baru melanjutkan pengarungan pada hari kesembilan karena pada hari kedelapan, selain sungai itu banjir, para guide masih kelelahan sehingga butuh tambahan waktu istirahat.

Tampilan citra satelit Jeram Panjang II yang terletak di titik koordinat 1.242592 N, 115.352938 E. Ini adalah rangkaian jeram yang terlihat paling besar dan panjang di seluruh segmen gorge Sungai Boh.

Menyusun Kepingan Kronologis

Setelah menandai kedua jeram terbesar itu di peta, saya mencoba mengidentifikasi jeram-jeram lainnya dengan cara mencocokkan tampilan citra satelit dengan gambaran sungai sesuai alur cerita pengarungan mereka secara kronologis. Meski banyak bagian yang tidak diceritakan, apalagi digambarkan dengan cukup jelas dan detil, cara ini saya pikir akan cukup membantu untuk setidaknya meletakkan potongan gambaran cerita yang sesuai dengan kemungkinan tempat terjadinya. Seperti menyusun keping-keping puzzle tak lengkap di atas sketsa atau bayang-bayang gambarnya.

Hari 1

[#01]
As we pushed off into the river I looked at my watch (10:15) and noted that in a few hours we would be entering a part of the world that perhaps only twenty humans had ever seen. (hal. 60)

[#02]
That morning rapids were not the problem; boredom was. We were moving downriver at about twenty yards an hour. Since no one knew what lay ahead, the guides had to stop at every rapid and scout it. That meant we had to get the boats into an eddy, tie them to a tree or rock, and wait while Dave, Mike, and Gary took off downriver to study the white water and come up with a plan for running it. (hal. 63)

[#03]
After lunch the guides came back from a long scout and motioned us to get into the boats. Gary told Sylvie and me to unstrap the white plastic helmets and put them on. “This is a big one,” he said.“There are two big drops, about twenty feet, but it’s impossible to portage around it and we think we can run it.” Later he told us that when they were scouting, Dave had said, “Let’s run it before we get scared. (hal. 63-64)

[#04]
I'd spilled at the top of the first waterfall and had gone down it and then down the second one. (hal. 72)

[#05]
I looked around at the dark green water, the black rock wall in back of me, the rank tangle of trees and leaves and vines over my head. (hal. 72)

[#06]
When I rounded the bend I looked up as if to applause, but there was only the dirty-brown Boh, the river taking another quick curve. (hal. 73)

[#07]
All three boats were surrounded by dark clouds of bees now, and the only thing we could think to do was try to outrun them. The guides started to oar and paddle faster, but when we pulled into camp—a pile of rocks, as Dave had predicted—they were still with us. (hal. 81)

[#08]
Mike, he said, had come up with a name for the rapids: “Bee no portage.” (hal. 83)

Jeram pertama yang bisa saya identifikasi adalah jeram besar yang mereka jumpai selepas istirahat siang di hari pertama pengarungan; jeram dengan dua drop setinggi 20 kaki yang sudah sempat dibahas. Narator menggambarkan bahwa: "There are two big drops, about twenty feet, but it’s impossible to portage around it." (hal. 64). Tanpa harus memercayai tingginya, bahwa jeram itu terdiri dari dua buah drop besar, adalah ciri utama yang cukup mudah dilihat pada tampilan citra satelit. Kebetulan, jeram pertama yang kelihatan paling mencolok di awal segmen gorge Sungai Boh adalah jeram di titik koordinat 1.371491 N, 115.379353 E, dan di jeram ini, dapat dilihat seperti ada dua buah drop berurutan.

Jeram di titik koordinat 1.371491 N, 115.379353 E yang saya duga adalah jeram besar dengan dua drop tinggi yang mereka temui menjelang sore hari pertama pengarungan. Oleh salah satu guide, jeram ini dinamai 'Bee No Portage'.

Jeram ini terletak sekitar 6,5 km dari Long Lebusan, desa di mana mereka menginap sebelum mulai mengarungi Sungai Boh. Diceritakan bahwa mereka mulai bertolak pukul 10.15 pagi, dan progress pengarungan mereka di hari pertama itu sangat lambat karena mereka selalu berhenti untuk melakukan scouting di setiap jeram yang mereka temui, dan baru menjumpai jeram besar dengan dua drop itu selewat istirahat makan siang. Di citra satelit terlihat ada cukup banyak jeram yang lebih kecil dan tidak terlalu mencolok sebelum jeram besar ini. Dengan memperhitungkan perkiraan waktu untuk scouting di jeram-jeram tersebut, saya kira sangat masuk akal jika mereka sampai di jeram besar ini setelah lewat siang hari.

Ketika mengarungi jeram itu, dua perahu mereka terbalik, dan mereka harus melakukan penyelamatan terhadap para awak yang jatuh sehingga waktu yang mereka habiskan untuk berurusan dengan kejadian itu dan kemudian memulihkan diri, tentulah cukup lama. Setelah jeram itu, tidak diceritakan lagi mengenai jeram lain di hari pertama itu. Hanya bahwa mereka kemudian tiba-tiba dikerumuni serangga sejenis lebah yang nampaknya tertarik pada keringat manusia dan terus mengikuti mereka sejak melewati jeram itu sampai ke tempat berkemah di malam pertama. Hal ini, saya pikir, menyiratkan bahwa mereka memang tidak menemui jeram lain yang cukup besar setelah jeram dengan dua drop berurutan yang kemudian oleh salah satu guide dinamai 'Bee No Portage' itu.

Hari 2

[#09]
As it turned out, we didn’t have to worry about running any rapids that day. The very first one we came to was so horrendous—two hundred feet of continuous, boiling white water— that the guides decided to play it safe. We would line the boats down the rapids rather than run them. And so they tied ropes to both ends of each boat and began the arduous process of getting them downstream by pushing and pulling them along the edge of the water. In eddies they would simply pull a boat downstream, and when there were no eddies they’d push it into the current and pull it out again with the ropes. Occasionally they’d have to lift and pull a boat entirely over a rock or log. (hal. 87-88)

[#10]
We made a little under two miles that day. (hal. 88)

[#11]
Getting the boats downstream was dangerous work. The men had to stand on slippery boulders and hold a boat against the current; they had to lift and carry the heavy boats while walking blindly over sharp rocks. All of them returned with skinned knees and ankles. (hal. 88)

[#12]
Camp that night, our second on the Boh, was another rock pile at another bend in the river, only a couple of miles from where we started. (hal. 91)

Maka ketika di pagi hari kedua pengarungan mereka diceritakan bahwa: "The very first [rapid] we came to was so horrendous—two hundred feet of continuous, boiling white water— that the guides decided to play it safe. We would line the boats down the rapids rather than run them" (hal. 87-88), dengan cukup yakin saya langsung menduga bahwa jeram yang dimaksud itu adalah jeram yang berada di titik koordinat 1.361848 N, 115.378503 E. Berdasarkan tampilan citra satelit, jeram di titik ini kelihatan hampir sama, bahkan sepertinya sedikit lebih besar dibanding jeram sebelumnya. Sebagaimana disebutkan dalam kutipan di atas, mereka memutuskan tidak mengarungi jeram itu. Alih-alih, mereka melakukan lining untuk melewatinya; mengikat kedua ujung perahu dengan tali tambatan panjang kemudian melarungnya tanpa awak melalui jeram sambil tetap memegang tali tambatan sehingga perahu tidak hanyut terbawa sungai dan mereka bisa menariknya kembali ke tepi sungai setelah jeram terlewati.

Jeram di titik koordinat 1.361848 N, 115.378503 E yang saya duga adalah jeram pertama yang mereka jumpai di hari kedua pengarungan dan tidak mereka arungi.

Disebutkan bahwa jarak pengarungan mereka pada hari kedua tak sampai 2 mil (sekitar 3 km). Namun, melihat gambaran jeram-jeram yang mereka temui di pagi hari berikutnya, saya menduga jarak sesungguhnya mungkin sedikit lebih pendek dari yang disebutkan. Sayangnya, selain proses lining di jeram itu—yang digambarkan penuh perjuangan yang cukup merepotkan dan sepertinya memakan waktu lama—tak diceritakan lagi mengenai jeram lain yang mereka temui di hari kedua pengarungan. Padahal, terlihat di citra satelit, terdapat setidaknya dua jeram cukup mencolok yang sepertinya lumayan besar setelah jeram yang saya duga mereka lining itu. Apakah mereka mengarunginya? Ataukah mereka tidak mengarunginya? Membaca kembali cerita pengarungan hari kedua mereka, saya terpagut pada kalimat pembuka: "As it turned out, we didn’t have to worry about running any rapids that day." (hal. 87). Pernyataan itu membuat saya berpikir—setelah menyadari bahwa yang diceritakan pada hari itu melulu soal perjuangan melakukan lining melewati jeram— bahwa mungkin mereka memang tidak mengarungi satu jeram pun pada hari itu.

Hari 3

[#13]
The next morning the guides were subdued when we gathered to eat instant oatmeal and coffee. “We hear something,” Mike said, nodding downriver. “A sort of thudding sound. Maybe a waterfall.” They took off to scout, warning us that it might be a long one, and we drifted apart to wait. (hal. 95)

[#14]
When the guides returned from the scout they were covered with mud and trickles of blood where they’d cut off leeches [...]. All three men looked like extras in a horror movie, their legs and arms smeared with gore. But they brought good news. The water downriver was “classy,” they said. The rapids were big, but there was a route through them and we should have a good Class IV run. (hal. 101)

[#15]
Just as the boats were all rigged and packed and we were ready to take off, Raymond [...] suddenly called out to Mike and pointed to his boat. It had sprung a slow leak. We couldn’t go anywhere until it was patched. (hal. 101)

[#16]
Patching involved heating up some glue and spreading it on a piece of rubber, then applying the patch to the boat and letting it dry. The whole process took an hour. (hal. 101)

[#17]
The rest of the morning was stop and go, but the rapids were runnable—turbulent but thrilling and without serious danger. (hal. 103)

[#18]
Just before stopping for lunch we took our first stretch of riffles—easy, Class II rapids—which meant the gradient of the gorge had reduced and the water wasn’t falling downhill so fast. And then the rock walls opened a bit and the river flattened out. (hal. 103)

[#19]
We ate a relaxed lunch [...]. While the guides went on another scout we talked for the first time about our plans for the following week.(hal. 103)

[#20]
The talk was animated for a while. Then it dawned on us that the scout was getting to be a long one—never a good sign—and we grew silent, stupefied again by the heat and the bees. And sure enough, when the guides finally returned, they reported that there were all sorts of obstacles downriver: a rock pile, some logs, and lots more rapids. They had decided we could run them, they said, but there wasn’t enough daylight left. We’d have to make camp early and spend at least one more night in the gorge. (hal. 104)

[#21]
Camp was once again on some rocks with no room to set up tents. This time we were just a few feet from the river, right next to a freshwater stream that tumbled down the canyon in back of us. (hal. 104)

Mengawali pagi hari ketiga, diceritakan bahwa para guide melakukan scouting sebelum mereka bertolak meninggalkan lokasi kemah. Scouting itu sepertinya memakan waktu cukup lama dan saya duga mencakup beberapa jeram di depan mereka. Setelah kembali, para guide melaporkan bahwa: "The water downriver was 'classy,' they said. The rapids were big, but there was a route through them and we should have a good Class IV run" (hal. 101).

Istilah 'classy' cukup sering dipakai di dunia arung jeram barat untuk menyebut segmen sungai yang jeram-jeramnya cukup besar dan menantang, berkisar kelas III hingga kelas IV, yang menuntut kemahiran teknikal tertentu dalam mendayung dan bermanuver, namun relatif tidak terlalu berbahaya untuk diarungi. Inilah jenis jeram yang dicari-cari para pengarung jeram, dan kalau sudah ketemu, bakal sering didatangi kembali.

Melihat tampilan citra satelit, jeram-jeram mulai dari jeram di titik koordinat 1.343809 N, 115.379476 E hingga sekitar 1,5 km setelahnya terlihat paling cocok untuk disebut "classy". Jeram-jeramnya relatif pendek tetapi terlihat lumayan besar, dan diselingi flat cukup panjang di antaranya. Jeram-jeram inilah, saya duga, yang mereka scouting pada pagi hari ketiga itu. Dengan kata lain, lokasi kemah malam kedua mereka berada tak jauh di atas jeram-jeram ini.

Tampilan citra satelit jeram di titik koordinat 1.343809 N, 115.379476 E (jeram paling atas pada gambar) dan beberapa jeram di bawahnya. Jeram-jeram ini, saya duga, adalah jeram-jeram yang mereka sebut 'classy'.

Setelah sempat menghabiskan sekitar satu jam untuk menambal salah satu perahu yang baru ketahuan bocor ketika hendak melanjutkan pengarungan, mereka pun mengarungi jeram-jeram "classy" itu. Mengenai jeram-jeram itu, narator menggambarkan bahwa: "... the rapids were runnable—turbulent but thrilling and without serious danger" (hal. 103). Kemudian, setelah melewati segmen itu, pada siang harinya, mereka mengarungi jeram-jeram kecil yang oleh narator digambarkan sebagai: "stretch of riffles—easy, class II rapids—which meant the gradient of the gorge had reduced and the water wasn’t falling downhill so fast" (hal. 103), sebelum kemudian beristirahat untuk makan siang. Jeram-jeram kelas II yang dimaksud itu, menurut dugaan saya berdasarkan tampilan citra satelit, adalah jeram-jeram di sekitar titik koordinat 1.326301 N, 115.373315 E. Setelah jeram-jeram kecil ini dapat dilihat ada beberapa jeram besar dan cukup panjang. Jeram-jeram itulah, sepertinya, yang di-scouting oleh para guide ketika mereka berhenti untuk istirahat dan makan siang.

Seperti ketika pagi, proses scouting siang itu juga diceritakan memakan waktu lama, sehingga saya duga mereka melakukan scouting cukup jauh, mungkin sampai beberapa jeram di depan. Sekembali dari scouting, para guide melaporkan bahwa: "... there were all sorts of obstacles downriver: a rock pile, some logs, and lots more rapids" (hal. 104), dan memutuskan bahwa mereka bisa mengarunginya. Tetapi karena hari sudah terlalu sore, mereka memutuskan untuk menggelar kemah, dan akan mengarungi jeram-jeram itu keesokan hari.

Hari 4

[#22]
That morning, our fourth on the river, was hot, clammy, and beautiful. (hal. 118)

[#23]
Our first bit of good news that day was that the rapids, which the guides had named Boh Dacious, Boh Derek, and Boh Diddley, were runnable. And in the morning we actually sped a couple of miles down the river, past flocks of butterflies on the riverbanks and a waterfall that looked like a cross between a Gauguin painting and an electric beer sign in a bar. (hal. 119)

[#24]
And then, about two hours into the morning run, we heard the unmistakable roar of white water. We pulled into an eddy and sat in the boats, silent. Gary knew he would have to do some hard walking to scout the river and was tight-lipped and furious. (hal. 119)

[#25]
Mimo went with them for a while but returned looking dejected. It looks impossible to me,” he said. “Around the corner the entire river funnels into one tremendous waterfall.” (hal. 119-120)

[#26]
This time the wait seemed endless; after three hours we knew our hopes of getting out of the gorge that day had been naive. (hal. 121)

[#27]
The guides sensed our gloom when they finally returned. They tried to be upbeat, but the rapids ahead were over a mile long, with one hundred feet of drop. There was a short calm section at the end of it and then more big water as far as they could see. [...] The good news was that we didn’t have to portage; Dave decided to send the boats down without passengers, just kick them into the rapids. He called it “ghostboating.” The danger was losing a boat, either in an unreachable eddy, a hole, or some kind of logjam. (hal. 122)

[#28]
While we endured the heat and the bees, the guides whack eda trail through the tangle of vegetation that somehow managed to flourish right on the steep sides of the gorge. They had to go almost a mile before they came to an eddy large enough to retrieve the ghostboats. (hal. 122)

[#29]
About three o’clock in the afternoon, Mike sent the first ghostboat down, and we all watched it pilot itself through a series of huge pourovers and head for the big drop—the Boh Constrictor, Mike had named it. (hal. 124)

[#30]
Tonight, the insects were already making their last call when Gary, Mike, and Dave came back from tying up the paddle boat downstream. They were exhausted. And tomorrow they would have to send two more ghostboats down, meaning we weren’t going to go anywhere at all until late afternoon. (hal. 126)

Di pagi hari keempat, mereka pun mengarungi jeram-jeram itu. Tiga di antaranya mereka beri nama: 'Boh Dacious', 'Boh Derek', dan 'Boh Diddley'. Tidak diterangkan lebih rinci soal jeram-jeram mana yang diberi nama tersebut. Namun, karena umumnya jeram-jeram yang diberi nama adalah jeram-jeram besar, saya menduga jeram-jeram tersebut secara berurutan adalah jeram yang berada di titik koordinat 1.324185 N, 115.371607 E; 1.318884 N, 115.371232 E; dan 1.303984 N, 115.371518 E; karena ketiga jeram itulah yang kelihatan paling besar di antara jeram-jeram lain di segmen yang menurut dugaan saya mereka arungi pada hari itu.

Tampilan citra satelit jeram-jeram yang secara berurutan saya duga adalah Boh Dacious [1.324185 N, 115.371607 E], Boh Derek [1.318884 N, 115.371232 E], dan Boh Diddley [1.303984 N, 115.371518 E]

Setelah itu, mereka menjumpai jeram besar dan panjang yang, sebagaimana sudah saya uraikan sebelumnya, saya yakini adalah Jeram Panjang I yang belokasi di titik koordinat 1.300207 N, 115.371438 E. Mereka melakukan ghostboating—perahu tanpa awak dilarung (dihanyutkan) lalu dicegat kembali di akhir jeram, sedangkan para awak berjalan lewat darat—untuk melewati jeram ini, tetapi cuma sempat menyelesaikan pelarungan satu perahu pada sore hari itu. Dua perahu lainnya mereka larung keesokan harinya.

Hari 5

[#31]
The plan this morning was for Mike to send the last two ghostboats down the river while the rest of us climbed partway up the side of the gorge and made our way downriver through the vegetation. If luck was with us, the boats wouldn’t get stuck and we could conceivably sail out of the gorge by late afternoon. (hal. 134)

[#32]
At times the edge of the trail dropped straight off to the river and I had an uninterrupted aerial view of the rapids that had stopped us. They seemed both monstrous and splendid. Although it was not terribly steep here, the gorge had narrowed down to a width of about twenty feet, and the river was funneling through it with tremendous force. In the middle was the keeper hole. It was a churning whirlpool, its center sunk perhaps five feet below its rim, and on either side were logjams and rock piles. I could see why Dave had said it was impossible to line the boats. (hal. 137-138)

[#33]
As Gary oared us downriver through the next few twists and turns, I looked for signs of the canyon walls widening, or an abandoned hut—anything to indicate that people had been able to get this far up the Boh from the Mahakam. But mostly the river felt eerie, as if we had reached the eye of the storm. The misty light fluttered through the trees; the water was a deep, dark green. Then we saw Mike up ahead pull over to an eddy and heard the ominous rumble of white water. Gary cursed, pulled into the eddy, and stormed out of the boat. It was to be his signature gesture: we’d reach some big rapids, and he’d storm out of the boat saying, “Shit!” (hal. 144)

[#34]
“We call this a pinball rapid,” Mike said. “It’s full of rocks and boulders but it’s runnable. It will just require a lot of fast maneuvering.” (hal. 145)

[#35]
Camp that night was a short way downriver on a boulderstrewn spit next to a small tributary stream. Because it was flat enough to actually pitch our tents, it looked like paradise, a sure sign that our luck was going to change. Later I found out that Dave had decided to camp there only because the guides were too exhausted to go any farther. It was a stream channel and we were totally susceptible to flooding. If it had rained hard that night, we might have lost the boats. Not that camp was actually pleasant. (hal. 149)

Di hari kelima, mereka melanjutkan pengarungan selepas siang hari, setelah menyelesaikan ghostboating dua perahu yang tersisa. Proses ghostboating-nya diceritakan penuh perjuangan dan drama, dan mereka baru bisa melanjutkan pengarungan setelah makan siang. Tak begitu lama melakukan pengarungan, mereka menjumpai sebuah jeram besar lagi. ""We call this a pinball rapid," Mike said. "It’s full of rocks and boulders but it’s runnable. It will just require a lot of fast maneuvering"" (hal. 145).

Jika mencermati proses ghostboating Jeram Panjang I yang diceritakan, saya menduga mereka memulai kembali pengarungan di titik koordinat 1.299476 N, 115.370205 E. Dan karena, berdasarkan alur cerita, jeram pinball itu sepertinya adalah jeram besar pertama yang mereka temui tak lama setelah memulai kembali pengarungan, dugaan saya mengarah kepada jeram yang berada di titik koordinat 1.298782 N, 115.368025 E. Jeram ini terlihat berbatu-batu dengan jalur yang menuntut manuver cepat, seperti yang disebutkan kutipan di atas. Ketika mengarungi jeram pinball itu, salah satu perahu mereka terbalik, dan mereka harus menyelamatkan salah satu awak yang hanyut cukup jauh.

Tampilan citra satelit dugaan lokasi jeram pinball [1.298782 N, 115.368025 E].

Setelah jeram pinball itu, tidak disinggung lagi mengenai jeram lain sampai mereka memutuskan untuk berkemah. Diceritakan bahwa jarak yang mereka arungi hari itu tidak begitu jauh, dan mereka menggelar kemah di dekat mulut sebuah anak sungai: "Camp that night was a short way downriver on a boulderstrewn spit next to a small tributary stream" (hal. 149). Anak sungai yang cukup jelas bisa dilihat di peta berada di sebelah kanan tepat di belokan sungai di mana terlihat ada jeram cukup panjang pada titik koordinat 1.296686 N, 115.365829 E. Jaraknya hanya sekitar 500 meter setelah Boh Constrictor. Sejujurnya, saya merasa titik ini berada terlalu dekat dari Boh Constrictor. Tetapi inilah satu-satunya lokasi di mana terdapat muara anak sungai, sesuai yang di deskripsikan, pada rentang jarak yang masuk akal untuk diarungi dalam waktu setengah hari.

Hari 6

[#36]
Miraculously, the river hadn’t risen all night, even though it had rained. (hal. 158)

[#37]
We were on the river early that morning since the guides reported that it had finally started to rise, and the first half hour or so restored our good moods. The rapids we sailed through were a pleasant Class III, and we took them perfectly. Mostly we drifted. Gary even remarked that the canyon up ahead seemed to widen and the walls were getting lower. (hal. 160-161)

[#38]
Gary oared into the eddy and tied up the boat without saying a word. Then he got out his knife and took off for a scout downstream despite his painfully swollen feet. The rest of us sat silently in the boats. (hal. 162)

[#39]
When the guides returned from the scout they were exhausted. Their hands were aching from chopping with machetes, their feet were raw from walking in wet shoes with foot rot, and they had blood trickling all over them from cutting off leeches. Mike had cut the entire top of his right tennis shoe open and was wearing a cupped rubber bandage that completely covered his big toe. (hal. 164)

[#40]
Gary reported that there was a six-foot waterfall in the middle of the river, and no way to get around it. We’d have to ghostboat the paddle boat again and line the oar boats down the opposite riverbank. (hal. 164)

[#41]
Dave had set up a traverse down the wall of the gorge to the end of the rapids, [...]. After a quarter mile or so we reached a rope that Dave had tied to a tree, and made a short rappel down to an enormous, flat rock ledge that jutted into the river. [...]. We had ringside seats to watch Mike, Gary, Stuart, Bill, and Mimo line the boats down the other side of the river, over rocks and a small waterfall. (hal. 169)

[#42]
Mike’s boat was the first to appear; he’d decided to avoid the main drop and take it down a “sneak,” a small waterfall at the edge of the current, perhaps four feet wide, that poured with some force over a ten-foot drop. At the bottom of it was a churning pool of white water and a good-sized rock. (hal. 169)

[#43]
Mike, Gary, and Raymond pushed the boat to the top of the sneak, and the boat tumbled down the waterfall into the pool, bounced back up, and almost made it completely over the top of the rock. Almost. Suddenly, in mid-flight, it stopped. We could see its front end hanging down the front of the rock, almost in the water, but the back tube was bent back in the other direction, pinned to the rock by tons of falling water. “It’s a wrap,” Dave said. “‘A classic wrap.” (hal. 169-170)

[#44]
We didn’t notice the water level until about twenty minutes later when Gary’s boat came around the bend. It was raining hard now, [...]. The river had completely submerged the boulder that Mike’s boat had wrapped on. It had risen at least five feet in twenty minutes. (hal. 171)

[#45]
[...] to get to the boats downstream we’d have to climb down from our ledge, using a rope, and jump into the river, which was now silty and rising fast. (hal. 171)

[#46]
And so we sped down the Boh under a leaden sky, heading, it seemed, into darkness. The gorge, rather than opening up, was getting narrower until finally the tree canopy completely enclosed us. (hal. 172)

[#47]
Then we heard a yell and saw Mike up ahead start to oar frantically, pulling hard to the right bank. [...] And we heard it: the whine of white water. The distant rumble (hal. 173)

[#48]
“Shit!” Gary’s face was red and contorted. “I am getting mad!” He grabbed his knife, tied up the boat, and took off with Mike and Dave to scout. The rest of us ate lunch under some trees (hal. 173)

[#49]
The guides came back after only a half hour or so, muddy, full of leeches, and strangely calm. Gary stood up in our boat and made an announcement: “The whole character of the trip has changed,” he said, his voice carefully controlled. “What we’ve seen up until now— everything we’ve seen on the river until now—is child’s play. Up ahead are ten-, twenty-, thirty-foot waterfalls, and the river is still rising. We’re going to have to pack everything up and head for high ground. This is a flood.” (hal. 173-174)

[#50]
The good news was that the rain had let up and it looked as if we could easily get to high ground right across the river. The river took a sharp curve just before the monster rapids, and the gorge at that point rose rather gently, it seemed, to a plateau at about three hundred feet. (hal. 176)

[#51]
“We'll cross the river, unpack the boats, and carry as much as we can up to high ground,” said Dave. “We’ll probably have to leave the boats in the river tonight. Let’s get moving.” (hal. 176)

[#52]
It’s a huge drop and there are house-size boulders. In low water the river could easily go under them. (hal. 176)

[#53]
The river had risen so far so fast, and was so loud and frightening, [...]. The twenty- and thirtyfoot waterfalls had filled up, and there were no big drops or eddies, no forks or sneaks, It was just one solid onslaught of water filled with branches and logs, racing down the canyon. (hal. 179)

Pada pagi hari berikutnya, yakni hari keenam pengarungan, debit air sungai mulai naik setelah malam sebelumnya turun hujan, dan disebutkan bahwa jeram-jeram pertama yang mereka arungi di pagi itu adalah jeram-jeram kelas III: "We were on the river early that morning since the guides reported that it had finally started to rise, and the first half hour or so restored our good moods. The rapids we sailed through were a pleasant Class III, and we took them perfectly" (hal. 160). Dapat dilihat pada tampilan citra satelit di bawah dugaan lokasi kemah mereka, sepanjang sekitar 1,5 km, terdapat setidaknya empat jeram yang cukup layak disebut jeram-jeram kelas III.

Setelah mengarungi segmen berjeram kelas III itu, pada suatu titik mereka lalu menjumpai sebuah jeram besar lagi. Para guide melakukan scouting, dan melaporkan bahwa "there was a six-foot waterfall in the middle of the river, and no way to get around it" (hal. 164). Mereka memutuskan melakukan lining dan ghostboating untuk melewati jeram itu. Ketika lining, digambarkan bahwa: "Mike’s boat was the first to appear; he’d decided to avoid the main drop and take it down a “sneak,” a small waterfall at the edge of the current, perhaps four feet wide, that poured with some force over a ten-foot drop. At the bottom of it was a churning pool of white water and a good-sized rock." (hal. 169). Perahu Mike sempat tersangkut ('wrapped') di batu di bawah drop itu, dan butuh waktu cukup lama untuk melepaskannya. Lalu, beberapa waktu kemudian, hujan turun lagi, dan debit air jadi semakin tinggi hingga "the river had completely submerged the boulder that Mike’s boat had wrapped on. It had risen at least five feet in twenty minutes" (hal. 171).

Pada tampilan citra satelit, jeram yang menurut saya terlihat paling sesuai dengan gambaran itu adalah yang terletak di titik koordinat 1.275697 N, 115.361113 E. Meski mungkin tidak begitu tinggi (digambarkan hanya sekitar 6 kaki atau 1,8 meter), air terjun atau drop ini terlihat melintangi seluruh lebar aliran sungai, mirip bendungan, dan arus air dibawahnya terlihat seperti hole yang besar. Selain itu, di tepi kiri drop juga terlihat bentukan seperti yang digambarkan sebagai jalur "sneak" yang di bawahnya terdapat batu di mana salah satu perahu yang di-lining sempat tersangkut. Batu itu memang tidak kelihatan di tampilan citra satelit karena debit air cukup besar, namun terdapat hole kecil yang cukup jelas menandakan bahwa memang ada batu di bawah permukaan air.

Tampilan citra satelit jeram yang terletak di titik koordinat 1.275697 N, 115.361113 E. Jeram ini (yang berada di tengah gambar), saya duga, adalah jeram six-foot waterfall yang tidak mereka arungi.

Setelah berhasil melewati jeram itu, sekitar tengah hari, mereka pun sampai di jeram yang digambarkan sangat besar, seperti yang paling besar di sungai itu, yakni yang saya yakini merupakan Jeram Panjang II yang telah saya ceritakan sebelumnya berada di titik koordinat 1.242592 N, 115.352938 E. Jika diperhatikan di peta, dengan dugaan-dugaan yang telah dibuat sejauh ini, jarak yang mereka arungi di hari keenam ternyata cukup jauh. Sekitar 7 km. Sedikit lebih jauh dibanding jarak yang mereka arungi di hari pertama. Hal ini sebenarnya terasa agak janggal, mengingat mereka sempat melakukan lining yang cukup memakan waktu di salah satu jeram, dan di sepanjang segmen itu juga ada beberapa jeram lain yang terlihat cukup besar. Tetapi bila mempertimbangkan kondisi debit air yang diceritakan telah mengalami peningkatan, yang berarti alirannya juga menjadi lebih laju dibanding hari-hari sebelumnya, hal ini masih cukup masuk akal. Adapun jeram-jeram selain drop yang mereka lining itu, meski memang lumayan besar, namun jalurnya kelihatan cukup jelas sehingga mereka mungkin tidak mengalami kendala ketika mengarunginya.

Hari 7 - 9

[#54]
At breakfast Dave announced that despite the rain the river had miraculously gone down during the night. Early this morning the guides had found the boats high and dry, hanging from their ropes at a 60-degree angle. Today we would make the portage, carry everything perhaps a half mile through the forest, shortcutting across a bend in the river to the bottom of the rapids. (hal. 187)

[#55]
Late in the afternoon, Bill, Stuart, Howard, and Raymond came down the trail carrying the first of the three rolled-up boats. (hal. 193)

[#56]
The next morning at breakfast Dave announced that the river had risen three feet during the night, and they’d had to retie the boats again. He’d decided not to run it at that level because it might be impossible to find an eddy. Also, the guides could use a day to rest and dry their feet. So unless the river fell by midmorning, we’d spend another day in camp. (hal. 196)

[#57]
By midmorning the river was still high and roaring monotonously all around us. The guides left early to go downriver on a long scout [...]. (hal. 198)

[#58]
At dinner that night [...] Dave reported that he had good news. The guides had made a long scout that morning and hadn’t seen any more unrunnable rapids. (hal. 206)

[#59]
The next morning Dave reported that the river had miraculously gone down during the night, even though it had continued, on and off, to rain. Mike and Gary were at the bottom of the rapids already, pumping air into the boats, and we were to pack up camp and carry everything down to them as soon as possible. The river was low and fast; today, our ninth day on the gorge [...]. (hal. 210)

[#60]
The first rapids of the day proved easily runnable, even though Mimo fell out of the paddle boat and had to be dragged back in. The white water looked rough, with plenty of hydraulic terrors—drops, chutes, and holes—but there turned out to be routes through them. It was nice to see Gary relaxed and confident. Then the river widened and we cruised through some riffles as the canyon walls angled out. (hal. 211)

[#61]
We’d still pull out every ten minutes or so, whenever we couldn’t see ahead, but now the scouts were brief. (hal. 211)

[#62]
After a twenty-minute scout, the guides returned and said we were in luck. The rapids were big, and full of huge standing waves, but there was a run. (hal. 212)

[#63]
"After lunch [...] the gorge changed even more dramatically. The water became extremely calm. Suddenly we could see reflections: the jungle rooted in the water, the spin of soft, gentle whirlpools, the bright flicker of the river goddess as she floated just below the current" (hal. 213)

[#64]
After a while, Mimo went downriver to see the rapids for himself and returned in about twenty minutes: “It’s immense,” he said. “There’s no way that I can see to run it. There’s a huge tree lying right across the river, and at the end of it there’s a waterfall with an enormous hole at the bottom. You should go look at it. It’s awesome.” [...] Gary returned and confirmed that the rapids were unrunnable. The only good news was that we didn’t have to portage: the guides could line the boats down the river alongside the rocks. It was possible, Dave said, that we might be able to clock some kilometers in the late afternoon and find a better camp. (hal. 214)

[#65]
The rapids were as bad as Mimo had reported, and by five thirty, just a half hour before nightfall, the guides had managed to get only one boat down. We’d have to make camp where we were for the night. Since we now knew better than to camp next to the river, we climbed to high ground and pitched our tents in the muddy forest litter in the dark. (hal. 215)

Setelah menyelesaikan portaging melewati Jeram Panjang II pada hari ketujuh, ditambah istirahat sehari penuh di hari kedelapan, mereka melanjutkan pengarungan pada hari kesembilan. Tidak cukup jelas digambarkan sejauh apa mereka melakukan portaging dan di mana mereka memulai kembali pengarungan. Namun diceritakan bahwa di pengarungan pada pagi hari kesembilan itu mereka melewati beberapa jeram yang cukup besar namun runnable. "The white water looked rough, with plenty of hydraulic terrors—drops, chutes, and holes—but there turned out to be routes through them" (hal. 211), narator menggambarkan jeram-jeram itu. Melihat tampilan citra satelit, saya menduga jeram pertama yang mereka arungi hari itu adalah jeram di titik koordinat 1.237698 N, 115.349181 E. Penampakannya cukup sesuai dengan deskripsi pada kutipan. Kelihatannya cukup menakutkan, banyak drop dan hole, namun terdapat jalur yang relatif aman untuk diarungi. Flat di atas jeram tersebut juga kelihatan cukup tenang dan panjang untuk dijadikan lokasi bertolak.

Kemudian diceritakan bahwa setelah itu, mereka melewati jeram-jeram kelas II, sempat singgah melakukan scouting singkat, kemudian melanjutkan pengarungan dan menemui sebuah jeram besar lagi. Dikatakan bahwa: "After a twenty-minute scout, the guides returned and said we were in luck. The rapids were big, and full of huge standing waves, but there was a run" (hal. 212). Jeram yang dimaksud itu, saya duga, adalah jeram di titik koordinat 1.233536 N, 115.333845 E. Di atas jeram ini ada segemen cukup panjang yang sepertinya adalah jeram-jeram kelas II, dan sebuah jeram agak besar tetapi pendek di tengahnya yang mungkin tergolong kelas III yang saya duga adalah jeram yang disebutkan sempat mereka scouting singkat.

Setelah itu, mereka istirahat makan siang, kemudian melanjutkan pengarungan lagi. Narator lalu menggambarkan: "After lunch [...] the gorge changed even more dramatically. The water became extremely calm. Suddenly we could see reflections: the jungle rooted in the water, the spin of soft, gentle whirlpools, the bright flicker of the river goddess as she floated just below the current" (hal. 213). Deskripsi ini, saya pikir, cukup sesuai dengan tampilan citra satelit di segmen sepanjang sekitar 3 km setelah jeram di titik koordinat 1.233536 N, 115.333845 E yang kelihatan tanpa jeram.

Kemudian, sore harinya, mereka menemui sebuah jeram besar lagi. Mereka memutuskan tidak mengarunginya, melainkan melakukan lining untuk melewatinya. Proses lining berlangsung lama dan baru menyelesaikan satu perahu ketika sore sehingga mereka harus berkemah di dekat jeram itu dan melanjutkan lining keesokan harinya.

Hari 10

[#66]
It had taken the guides over three hours to get Gary’s boat down the rapids by pulling and pushing it over enormous piles of rocks. Now there was one more boat to go: Mike’s. When Dave added up another three hours plus lunch, he announced that we would probably have to stay put today and make camp just below the rapids. (hal. 224)

[#67]
A short while later, Dave came up to us to report that Mike wanted to run the rapids alone in his boat. ‘Considering everything,” he said, “including how exhausted we are and our dwindling supplies, I agreed to let him.” (hal. 224)

[#68]
The rapids looked impossible to us, as Mimo had reported. They started out with a series of big waves, and then, in the middle, where an enormous tree had fallen across three quarters of the river, they became truly dangerous. If Mike hit the tree, he might be sucked under it. If he went around the tree, he’d have to go down a ten-foot drop where the river gushed around its roots and poured over a rock into a tremendous hole. (hal. 225)

[#69]
We floated slowly downstream, the guides standing up in the boats to see ahead, until suddenly we saw it: the middle of the mountain opened up a crack to reveal a steep, narrow canyon about twenty feet wide. The river funneled right into what looked like one of those horror-movie caverns where the walls begin to close and there’s no way to get out. I was shocked when Mike didn’t stop to scout it, but we entered the canyon cautiously, and instead of finding raging, foaming rapids, the river was eerily calm; (hal. 226).

[#70]
Suddenly, farther ahead, from Mike’s boat, we heard a great big whoop. It was Raymond. Or was it a monkey? Then we heard cheers from the paddle boat and saw Dave turn around and shout back to us, his hands cupped around his mouth: “Logging! To the right!” We looked over and Gary cried out, “Yes!” He threw back his head and let the oars flop. “We’re out!” “See that light green hillside?” he said. “It means a boat was able to come up the river and get the logs down. That means there are no more big rapids.” (hal. 228)

[#71]
We went about twenty-five miles on the Boh that afternoon, traveling as much in three hours as we had in ten days. (hal. 230)

[#72]
At about four o’clock we stopped to make camp in a broad, flat marshy area next to a tributary stream and a strip of sandy beach. (hal. 231)

Di hari kesepuluh, mereka melanjutkan proses lining perahu kedua. Kemudian salah satu guide bernama Mike mengusulkan untuk mengarungi jeram itu sendirian dengan perahu terakhir untuk mempersingkat waktu. Mereka mengizinkannya, dan dia berhasil mengarunginya. Mereka pun melanjutkan pengarungan. Tidak disebutkan adanya jeram lain lagi setelah itu, menyiratkan bahwa jeram yang di-lining dan diarungi Mike sendirian itu mungkin adalah jeram terakhir yang cukup besar di sepanjang segmen gorge Sungai Boh. Jika benar demikian, maka jeram itu mungkin adalah jeram di titik koordinat 1.211677 N, 115.316506 E. Meski tak terlihat ada ciri lain yang bisa dicocokkan dengan gambaran cerita, inilah jeram terakhir di segmen gorge Sungai Boh yang pada tampilan citra satelit kelihatan cukup besar. 

Setelah melewati jeram itu, di tengah pengarungan hari itu, mereka akhirnya melihat tanda-tanda aktivitas pembalakan (logging). Sore harinya mereka menggelar kemah di sebuah pantai dekat muara sebuah anak sungai yang menurut dugaan saya adalah di titik koordinat 1.197260 N, 115.182557 E.

Hari 11

[#73]
By midmorning the next day the Boh had turned into a generic jungle river: wide, flat, slow, and hot. (hal. 234)

[#74]
Around four o’clock it looked as if we’d have to camp one more night on the river, maybe two if we couldn’t pick up a river taxi before Long Bangun. But just as we were arguing over where to pull out, we saw a small landing for boats on the right side of the river, and in the undergrowth above it several huts. We pulled in, and Dave and Raymond got out to see if they could buy some food. A few minutes later we heard a motor in the distance and a longboat came into view. (hal. 235)

[#75]
In a few minutes, Dave reported that the captain had agreed to take us to Long Bangun. He was charging an outrageous amount of money—the equivalent of six hundred dollars—but Sobek, Dave said, would just have to eat it. We cheered. There was one other problem. There were some rapids below us that had to be run before dark, so we’d have to unload the rafts, derig and deflate them, roll them up, and get everything transferred to the longboat in a half hour. (hal. 235-236)

[#76]
And so we sped down the Mahakam to the roar of two motors, dragging a wake behind us like a long skirt. We made it through the rapids and for the first time since leaving Samarinda we saw the moon. (hal. 236) 

Pada sore hari kesebelas, sekitar pukul empat, mereka menjumpai dermaga dan beberapa pondok di sebelah kanan sungai. Menurut dugaan saya, itu adalah pondok penebang kayu yang kemungkinan berada di titik koordinat 1.067454 N, 115.076500 E. Di sini mereka bertemu sebuah long boat, dan kemudian menyewa long boat itu untuk mengantarkan mereka ke Long Bagun. Dikatakan bahwa di depan mereka masih ada jeram yang harus dilalui sebelum gelap. Jeram itu, saya duga, adalah jeram di titik koordinat 1.057168 N, 115.079557 E. Jeram ini sepertinya adalah yang dikenal sebagai Riam Huluq.

Menutup tulisan ini, berikut adalah lokasi-lokasi jeram dan titik kemah mereka menurut dugaan saya:

Apakah suatu saat nanti ada yang tertarik mengarungi sungai ini lagi?