Pages - Menu

20260914

Memungut Yang Tersisa Di Hulu Barito [Menelusuri Jejak Misi BUKE 2022]

Belum lama ini, dari bulan Juli sampai Agustus 2026, enam orang kayaker dari Britania Raya melakukan ekspedisi menjelajahi sungai-sungai berarus deras di wilayah dataran tinggi seputaran Danau Toba, Sumatera Utara. Mereka adalah tim BUKE (British Universities Kayaking Expedition), enam orang mahasiswa yang telah diseleksi dari berbagai kampus di Britania Raya untuk menyelenggarakan ekspedisi kayak arus deras ke daerah tujuan yang mereka tentukan sendiri. BUKE yang pertama diadakan pada 1983, sempat hilang, lalu muncul kembali sebagai kegiatan rutin dua tahunan sejak 2005 (sempat bergeser mundur satu tahun pasca pandemi Covid 19), dengan ide pokok: menyatukan para "kayaker jago yang kesepian" dari berbagai klub kayak di kampus-kampus dalam sebuah misi ekspedisi yang mereka susun dan eksekusi sendiri sebagai tim. Lebih lengkap, bisa dibaca di laman wikipedia mereka.

Melalui media sosial, utamanya Instagram, saya mengikuti penjelajahan mereka di Sumatera Utara. Ada cukup banyak sungai di dataran tinggi sekitar Danau Toba yang saya pikir mungkin menarik untuk diarungi pakai kayak telah saya tandai di aplikasi Google Maps, dan saya cukup penasaran untuk mengetahui apakah sungai-sungai itu akan mereka arungi, dan jika iya, bagaimanakah wujud jeram-jeramnya dari dekat. Empat di antara sungai-sungai itu ternyata mereka arungi. Beberapa cuplikan video dan foto jeram di sungai-sungai itu sempat dibagikan di media sosial. Setidaknya saya jadi tahu bahwa sungai-sungai itu memang punya segmen yang runnable dan cukup menantang. Sayangnya, belum banyak footage yang dipublikasikan. Mungkin mereka baru akan mempublikasikannya tahun depan sebagai sebuah film dokumenter, seperti setidaknya dua ekspedisi BUKE sebelumnya.

Empat tahun lalu, juga pada bulan Juli-Agustus 2022, tim BUKE pernah menjelajahi sungai-sungai di kawasan hulu Sungai Barito, Kalimantan Tengah. Saya menonton kembali film panjang tentang ekspedisi itu, berikut video-video pendek pelengkapnya, yang ada di kanal YouTube mereka. Lantas jadi terpikir untuk mencoba menganalisis dan menyusun ulang alur penjelajahan mereka guna membuat dugaan segemen sungai-sungai mana saja yang telah mereka arungi ketika itu.

[Ketika menyusun hasil analisis ke dalam tulisan ini, saya baru tahu bahwa di laman Wikipedia mereka itu ternyata sudah dipublikasikan lokasi-lokasi titik awal dan akhir sungai-sungai yang telah mereka arungi. Kalau butuh kepastian segera, saya sarankan anda langsung ke sana saja. Kalau mau buang-buang waktu dan paket data, bolehlah lanjut ke bawah.]

Film dokumenter ekspedisi tim BUKE 2022 di hulu Sungai Barito
Playlist video-video pendek--dari sudut pandang GoPro--pengarungan masing-masing sungai

Rekonstruksi & Analisis

Dari enam orang anggota tim BUKE 2022, tiga orang tiba di Indonesia lebih dulu. Mereka sepertinya berperan sebagai tim pendahulu (advance team) yang mengurus berbagai hal guna melancarkan proses penjelajahan mereka. Rute perjalanannya dimulai dari Jakarta. Mereka naik pesawat ke Balikpapan, lalu naik bus ke Samarinda, dilanjutkan dengan naik kapal taksi air Mahakam sampai Melak, kemudian lewat darat naik mobil 4x4 ke Puruk Cahu, ibu kota Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Setelah beberapa hari mengurus perizinan di Puruk Cahu, lalu mereka melanjutkan perjalanan darat ke daerah pedalaman kawasan hulu Sungai Barito, di mana sungai-sungai yang hendak mereka jelajahi berada.

Terhitung enam sungai mereka arungi dalam ekspedisi ini. Sungai Joloi (Sibilik Section), Sungai Busang, Sungai Sibunuk (The Secret Section), Sungai Barito [Sungai Murung] (1000 Rapids), Sungai Banana, dan Sungai Malua. Satu sungai yang mereka sebut bernama Sungai Babaut--salah satu target utama mereka--tidak jadi diarungi lantaran biaya yang diminta penduduk lokal untuk mengantar mereka ke sungai itu dinilai terlalu mahal. Selama sekitar satu bulan menjelajahi sungai-sungai tersebut, mereka menjadikan Desa Muara Joloi sebagai home base.

Sungai Joloi (Sibilik Section)

Sungai Joloi adalah yang pertama mereka (tiga orang tim pendahulu) arungi. Tidak terlalu sulit menemukan sungai ini di peta. Desa Muara Joloi, sebagaimana namanya, berada tepat di muara sungai ini, di sisi kanan, sebelah barat, tepat di titik pertemuan dengan Sungai Murung yang kemudian bergabung sebagai Sungai Barito. Dalam film panjang pada menit 04:22 - 04:35, setelah menempuh perjalanan darat dari Puruk Cahu, tiga orang tim pendahulu sampai di tepi (sisi kiri) sebuah sungai besar yang harus mereka seberangi. Jika mencermati penampakan keadaan sekitar yang sekilas terlihat di film pada rentang menit tersebut lalu membandingkannya dengan tampilan citra satelit Apple Maps di sekitar titik pertemuan Sungai Joloi dan Sungai Murung, dapat ditemukan cukup banyak kemiripan. Dengan cukup yakin saya menduga memang di situlah titik mereka mulai menyeberang.

Gambar pertama adalah tampilan citra satelit Apple Maps di sekitar pertemuan Sungai Joloi dan Sungai Murung (0.119408S, 114.103441E). Gambar kedua dan ketiga adalah tangkapan layar dari film panjang dokumenter ekspedisi BUKE 2022 pada sekitar menit 4:22 - 4:35. Dapat terlihat cukup banyak kesesuaian, mulai dari bentuk dan letak bangunan-bangunan (1 - 12), hingga pepohonan (A - F), yang menguatkan dugaan lokasi di mana tim pendahulu BUKE mulai melakukan penyeberangan.

Diceritakan dalam film panjang pada menit 04:34 - 05:02 bahwa, alih-alih menyeberang langsung ke Desa Muara Joloi, mereka malah menuju ke hilir dulu, “heading, kind of, away from where we want to go”, baru kemudian mendarat di sebuah desa yang disebut Tumbang Tuan. Di peta citra satelit, dapat terlihat sebuah permukiman sekitar 30 kilometer di selatan Muara Joloi, di sisi kanan sungai, yakni di titik koordinat 0.381287S, 114.067516E. Pada Google Maps maupun Apple Maps, daerah titik itu dikenali sebagai Tumbang Tuan. Jika menuliskan kata kunci “Desa Tumbang Tuan” di kolom pencarian YouTube, ada beberapa video pendek yang diambil dari udara (salah satunya: ini), menampakkan layout sebuah permukiman yang sangat mirip dengan tampilan citra satelit Apple Maps di titik koordinat tersebut. Cukuplah bagi saya untuk meyakini bahwa memang di situlah Tumbang Tuan yang dimaksud, tempat mereka mendarat.

Gambar pertama adalah tampilan citra satelit Apple Maps di sekitar titik koordinat 0.381287S, 114.067516E yang memperlihatkan sebuah permukiman. Gambar kedua dan ketiga adalah tangkapan layar dari sebuah video pendek di YouTube yang menampakkan Desa Tumbang Tuan dari udara. Terlihat cukup banyak kesesuaian (di sini saya menandai empat yang mencolok) yang menunjukkan bahwa permukiman di titik koordinat 0.381287S, 114.067516E adalah Desa Tumbang Tuan.

Di Tumbang Tuan, mereka menginap semalam karena tidak berhasil mendapatkan mobil sewaan untuk langsung mengantar menuju Sungai Joloi. Baru keesokan harinya mereka mendapatkan mobil, dan segera menuju Sungai Joloi untuk mengarungi segmen yang mereka sebut Sibilik Section (entah dari mana mereka mendapatkan nama 'Sibilik'). Dalam film panjang pada menit 16:48 - 16:58, pada pengarungan kedua di segmen sungai yang sama, diceritakan bahwa mereka memulai pengarungan dari tempat yang disebut “Camp B--which is top of the Sibilik Rapids Section”. Cukup dapat diyakini bahwa lokasi yang dimaksud adalah di titik koordinat 0.1451957S, 113.9127241E, yang di Google Maps terdapat pin penanda berlabel ‘Camp B DBK’. Dari Tumbang Tuan, terlihat jelas pada citra satelit, terdapat jalan menuju ke titik ini. Jika mencermati video pendek pertama di playlist (https://youtu.be/yPQ-C2-5cjA), dapat pula dilihat banyak kesesuaian. Terutama penampakan jeram pertama (yang mereka namai 'Salama Detang' [Selamat Datang]) yang cukup mirip dengan tampilan citra satelit Apple Maps di sekitar jeram di titik koordinat 0.126016S, 113.932318E. Juga air terjun di anak sungai yang sempat mereka scouting, yang mirip dengan tampilan citra satelit air terjun di titik koordinat 0.121006S, 113.931756E, tak jauh dari Jeram Selamat Datang. Hanya ada lima jeram di Sibilik Section Sungai Joloi ini, namun dengan debit air sungai yang cukup besar, jeram-jeram itu terbilang sangat menantang. Pengarungan mereka diakhiri di Desa Muara Joloi, yang untuk seterusnya selama menjelajahi sungai-sungai di daerah sekitar situ, mereka jadikan home base.

Dua gambar pertama menunjukkan beberapa kesesuaian antara air terjun yang sempat di-scouting oleh tim BUKE dalam pengarungan pertama Sibilik Section Sungai Joloi, sebagaimana yang ditampilkan dalam video pendek pertama di playlist, dengan tampilan citra satelit Apple Maps di sekitar titik koordinat 0.121006S, 113.931756E. Tiga gambar yang lain menunjukkan beberapa kesesuaian antara jeram pertama yang tampak dalam video pendek pertama di playlist dengan tampilan citra satelit Apple Maps di sekitar titik koordinat 0.126016S, 113.932318E. Air terjun tersebut berada di anak sungai tepat setelah jeram pertama.

Sungai Busang

Tiga orang anggota tim yang lain kemudian datang menyusul, lalu mereka bergegas berangkat untuk mengarungi Sungai Busang, cabang Sungai Joloi yang paling besar. Perjalanan mereka menuju titik awal pengarungan sempat molor karena kesalahan memilih jalan. Mereka sampai harus bermalam di sebuah permukiman terpencil, sebelum melanjutkan sisa perjalanan keesokan harinya.

Jika mencermati peta, ada dua titik yang memiliki jalan akses dan kelihatannya dapat dijadikan titik awal pengarungan sungai ini. Yang pertama di dekat Tumbang Jojang (0.097459N, 113.905090E), dan yang kedua di sebuah jembatan pada ruas jalan menuju Tumbang Tronoi (0.272818N, 113.915818E). Hampir semua jeram, termasuk jeram yang kelihatan paling besar [mungkin adalah Riam Baru yang diceritakan Sinarmas Djati di Majalah Jejak edisi Januari 2017], berada di bawah Tumbang Jojang, namun masih ada satu jeram cukup besar di antara Tumbang Jojang dan jembatan menuju Tumbang Tronoi.

Mencermati film panjang dan video pendek kedua di playlist, mereka sepertinya memulai pengarungan dari jembatan menuju Tumbang Tronoi (0.272818N, 113.915818E) itu. Jembatan itu terlihat cukup jelas di film (menit ke 07:21 - 07:35), dan cukup sesuai dengan tampilan citra satelit Apple Maps. Jeram pertama yang mereka arungi (lihat video pendek kedua di playlist, menit ke 00:05 - 00:18) juga cukup mirip dengan tampilan citra satelit jeram yang berada di antara jembatan itu dan Tumbang Jojang.

Jembatan di titik koordinat 0.272818N, 113.915818E pada citra satelit Apple Maps (gambar pertama) memperlihatkan tiga struktur tiang pancang yang bentuk dan posisinya cocok dengan sisa reruntuhan jembatan lama yang terlihat dalam film panjang pada menit 07:21-07:35 (gambar kedua).
Jeram pertama setelah jembatan, di titik koordinat 0.229356N, 113.917130E, terlihat memiliki beberapa kesesuaian dengan jeram pertama yang diarungi tim BUKE pada pengarungan Sungai Busang yang pertama, yang terlihat pada menit 00:05 - 00:18 dalam video pendek kedua di playlist. Perbedaan kondisi debit air membuat bebatuan yang ada di sungai sulit diidentifikasi, tetapi bentuk dan posisi bebatuan no. 2 dan 3 yang berada di pinggir sungai terlihat cukup sesuai.
Tampilan citra satelit Apple Maps jeram yang terlihat paling besar di Sungai Busang di titik koordinat 0.040254N, 113.851228E kelihatan sangat sesuai dengan jeram yang ditampilkan dalam film panjang pada menit 09:19. Tim BUKE menyebut jeram ini sebagai "the centerpiece" Sungai Busang. Menyambungkan dengan pernyataan Sinarmas Djati dalam wawancara dengan Majalah Jejak (edisi Januari 2017), mungkin inilah jeram yang disebutnya sebagai Riam Baru.

Pengarungan Sungai Busang itu berlangsung selama dua hari. Semua jeram besar mereka arungi di hari pertama. Di hari kedua, mereka mengarungi sebuah air terjun yang katanya setinggi delapan meter pada salah satu anak sungai, dan menamainya ‘Saranghae’. Air terjun itu, saya duga adalah yang berada di titik koordinat 0.031890N, 113.877934E, berdasarkan kemiripan tampilan citra satelit Apple Maps dengan yang terlihat di film (menit 11:02 - 11:55) dan video pendek kedua di playlist, serta letaknya yang digambarkan cuma sekitar “maybe 50 meters” (di film panjang menit 11:10 - 11:13) sehingga mereka bisa mencapai air terjun itu dengan mendayung melawan arus. Desa Muara Joloi lagi-lagi menjadi titik akhir pengarungan mereka.

Tampilan citra satelit Apple Mapas di sekitar titik koordinat 0.031890N, 113.877934E (gambar pertama) memperlihatkan sebuah air terjun yang bentuknya cukup sesuai dengan air terjun yang diarungi tim BUKE ketika mengarungi Sungai Busang pertama kali (gambar kedua) sebagaimana terlihat dalam film panjang di menit ke 11:36.

Sungai Sibunuk (The Secret Section)

Kemudian mereka bermaksud mengarungi Sungai Joloi lagi, kali ini dengan formasi tim lengkap. Untuk itu, mereka diantar naik perahu ke Tumbang Tuan, kemudian naik mobil menuju Camp B DBK. Namun, sebuah sungai yang harus mereka seberangi ternyata debit airnya cukup besar sehingga mobil mereka tidak dapat menyeberang. Mereka pun memutuskan kembali ke Tumbang Tuan, di mana mereka berencana akan bermalam untuk kembali mencoba menuju Sungai Joloi keesokan harinya, dengan mengarungi sungai itu.

Sungai yang, berdasarkan info dari orang lokal, disangka cuma berisi flat dan akan dapat diselesaikan dalam setengah jam saja itu--panjangnya memang hanya sekitar dua kilometer--ternyata menyimpan segmen berjeram yang digambarkan sebagai “extremely tight technical grade five boxed-in gorge” (di film panjang menit 15:20 - 15:25) yang membuat pengarungan mereka berlangsung sampai malam. Mereka menyebutnya ‘The Secret Section’, yang pada judul video pendek ketiga di playlist, dinamai Sungai Sibunuk. Sungai itu, saya yakin, adalah sungai di titik koordinat 0.337986S, 114.051820E. Penampakan jalan yang menyeberangi sungai pada citra satelit Apple Maps di titik koordinat tersebut kelihatan cukup mirip dengan yang terlihat di film panjang (menit 13:42 - 15:14). Selain itu, ada sepotong jeram yang tidak mereka arungi--mereka sebut sebagai "Toad In The Hole"-- diperlihatkan dalam video pendek ketiga di playlist (menit ke 01:10 - 01:25). Di jeram itu terdapat beberapa batu besar yang jika dicermati bentuk dan susunannya cukup mirip dengan tampilan citra satelit Apple Maps di titik koordinat 0.340395S, 114.068982E.

Penampakan jalan yang menyeberangi sungai pada citra satelit Apple Maps di titik 0.337986S, 114.051820E kelihatan cukup mirip dengan yang terlihat di film panjang (menit 13:42 - 15:14).
Citra satelit Apple Maps di titik koordinat 0.340395S, 114.068982E memperlihatkan bebatuan besar pada aliran sungai yang susunannya cukup mirip dengan bebatuan pada jeram yang di-portage tim BUKE sebagaimana terlihat dalam video pendek ketiga dalam playist, di menit 01:10-01:25.

Keesokan harinya, mereka berhasil mencapai Camp B DBK dan mengarungi Sungai Joloi dengan debit air ekstra besar.

Sungai Barito [Sungai Murung] (1000 Rapids)

Selanjutnya mereka berencana mengarungi sungai yang merupakan salah satu target utama mereka dalam ekspedisi ini, yang disebutkan bernama "Sungai Babaut" (di film panjang menit 19:48 - 19:54) [kalau tidak salah dengar]. Untuk itu, dari Muara Joloi, mereka harus menempuh perjalanan naik mobil 4x4 selama sekitar empat jam (disebutkan di film panjang menit ke 21:12) dan dilanjutkan dengan naik perahu motor menuju Desa Tumbang Tujang. Mengetik 'Desa Tumbang Tujang' di kolom pencarian Google Maps akan membawa kita ke sebuah permukiman di titik koordinat 0.2980495N, 114.433442E. Tampilan citra satelit Apple Maps di titik ini memperlihatkan tata ruang permukiman yang sesuai dengan rekaman drone dalam sebuah video YouTube yang katanya diambil di Desa Tumbang Tujang.

Tampilan citra sateli Apple Maps di sekitar titik koordinat 0.2980495N, 114.433442E memperlihatkan permukiman yang sesuai dengan tampilan rekaman drone  Desa Tumbang Tujang dalam sebuah video di YouTube .

Sebuah catatan yang ditampilkan sekilas dalam film panjang (di menit 23:35) menjadi petunjuk bahwa dalam perjalanan ke Tumbang Tujang, mereka berganti dari mobil ke perahu motor (disebut juga 'perahu klotok') di Kelasin. Jika memperhatikan Google Maps, di sebelah barat daya Tumbang Tujang, terdapat tulisan 'Kelasin' dan 'Kalasin' yang berdekatan. Kemungkinan adalah sebuatan untuk wilayah di sekitar tulisan itu. Namun tidak tampak ada permukiman di dekat tulisan itu. Permukiman terdekat berada di titik koordinat 0.26607N, 114.28146E. Rekaman drone dalam sebuah video YouTube (menit 25:48) memperlihatkan tata ruang permukiman yang cocok dengan tampilan citra satelit Apple Maps di titik tersebut, mengkonfirmasi bahwa permukiman itu memang adalah Desa Kalasin (yang sering pula disebut 'Kelasin').

Sebuah catatan yang ditampilkan sekilas dalam film panjang di menit 23:35 menjadi petunjuk bahwa ketika menuju Tumbang Tujang, mereka naik mobil sampai Kelasin [Kalasin] lalu berganti naik motor canoe [perahu mootor] dari Kelasin [Kalasin] ke Tumbang Tujang. Catatan ini juga mendukung dugaan bahwa mereka memulai pengarungan Sungai Busang dari jembatan dekat Tumbang Tronoi.
Perbandingan penampakan sebuah permukiman di titik koordinat 0.26607N, 114.28146E dalam citra satelit Apple Maps (gambar pertama) dengan penampakan Desa Kalasin dalam rekaman drone dalam sebuah video di YouTube (gambar kedua dan ketiga) menunjukkan sedikitnya tiga ciri mencolok yang sangat sesuai.

Dalam video YouTube yang merekam perjalanan serombongan pegawai dari Puruk Cahu menuju Desa Kalasin itu, mereka juga harus berganti kendaraan dari mobil ke perahu motor di lokasi yang disebut "Mohosu(ng)" [kalau tidak salah dengar], sekitar 30 menit sebelum mencapai Desa Kalasin (lihat mulai menit 14:30). Lokasi mereka berganti kendaraan itu cukup mirip dengan lokasi tim BUKE berpindah dari mobil ke perahu motor yang terlihat dalam film panjang (menit 20:22-20:35). Mencocokkan dengan tampilan citra satelit Apple Maps, saya menduga lokasi tersebut adalah di titik koordinat 0.237749N, 114.245803E. Dugaan ini diperkuat oleh sebuah peta tahun 1944 yang memuat wilayah ini dan menampakkan sebuah anak sungai bernama S. Mohosoeh tepat di lokasi yang--berdasarkan petunjuk-petunjuk bentukan geografis lainnya--kelihatannya sama.

Gambar pertama, diambil dari video perjalanan rombongan pegawai menuju Desa Kalasin, dan gambar kedua, diambil dari film panjang BUKE, memperlihatkan dua batang pohon di tepi sungai tempat mereka berganti moda transportasi dari mobil ke perahu motor, yang terlihat cukup mirip. Gambar ketiga adalah citra satelit Apple Maps yang memperlihatkan lokasi (di titik koordinat 0.237749N, 114.245803E) yang saya duga sebagai tempat mereka berganti moda transportasi. Gambar ketiga adalah citra satelit dengan cakupan lebih luas dan inset potongan peta lama yang memperlihatkan kesesuaian lokasi bedasarkan beberapa ciri geografis.

Di Tumbang Tujang, tim BUKE sepertinya berencana menyewa jasa penduduk lokal untuk mengantarkan mereka ke sungai yang disebut Sungai Babaut itu. Namun ongkos yang diminta ternyata dinilai terlalu mahal sehingga rencana itu terpaksa dibatalkan. Sebagai gantinya, mereka memutuskan kembali ke Muara Joloi dengan mengarungi Sungai Barito [Sungai Murung] selama tiga hari. Mereka menyebutnya 1000 Rapids Section--mungkin karena sungai itu mengalir menuju Kecamatan Seribu Riam [?]--meskipun nyatanya tidak banyak jeramnya.

Perbandingan tampilan citra satelit Apple Maps di titik koordinat 0.205507N, 114.268745E dengan footage drone dalam film panjang BUKE menit ke 24:17 mengkonfirmasi bahwa 1000 Rapids Section Sungai Barito yang mereka arungi adalah benar sungai yang mengalir dari Desa Tumbang Tujang.

Sungai Banana

Sungai lain yang kemudian mereka arungi setelah mendapatkan curah hujan adalah yang mereka sebut "Sungai Banana". Tidak terlalu mudah menduga yang mana sungai ini pada peta. Tetapi sepotong rekaman drone yang ditampilkan dalam film panjang pada menit 32:10 - 32:20 menjadi petunjuk paling jelas bahwa sungai itu adalah sungai yang melalui titik koordinat 0.070805S, 114.172722E (letak jeram itu--lihat di citra satelit Apple Maps). Terdapat jembatan di titik koordinat 0.006575N, 114.136273E yang bisa menjadi titik awal pengarungan. Namun, pada menit 29:43 - 29:49 dalam film, mobil mereka terlihat menyeberangi sebuah anak sungai kecil yang alirannya memotong dari kanan ke kiri (menurut sudut pandang mobil). Mengingat bahwa arah kedatangan mereka adalah dari hilir menyusuri sisi kanan sungai utama, arah aliran anak sungai yang demikian hanya mungkin didapatkan jika mereka telah menyeberangi jembatan di sungai utama tadi, berpindah ke sisi kiri dan terus mengikuti sungai utama ke arah hulu. Oleh karena itu, saya duga mereka memulai pengarungan dari jembatan lain yang sedikit lebih jauh ke utara, yang menyeberangi sebuah anak sungai cukup besar dekat beberapa rumah/permukiman di titik koordinat 0.044643N, 114.129570E. Mereka mengarungi Sungai Banana selama dua hari, termasuk durasi perjalanan naik mobil ke titik awal pengarungan.

Bentuk, tekstur, dan susunan bedrock yang nampak pada citra satelit Apple Maps di titik koordinat 0.070805S, 114.172722E terlihat mirip dengan bedrock yang ditampilkan dalam film panjang pada menit 32:10-32:20, menguatkan dugaan bahwa sungai yang melalui titik koordinat tersebut adalah Sungai Banana yang diarungi tim BUKE 2022.

Sungai Malua

Lalu sungai terakhir yang mereka jelajahi adalah sebuah anak Sungai Busang, yang mereka sebut bernama Sungai Malua. Lumayan sulit juga menduga letak sungai ini. Berdasarkan topografi dan luasan daerah alirannya, ada dua sungai yang saya pikir paling mungkin merupakan sungai yang dimaksud. Yang pertama adalah yang bermuara di titik koordinat 0.10749N, 113.92803E, dan yang kedua adalah yang bermuara di titik koordinat 0.16581N, 113.94426E. Hulu kedua sungai tersebut dilalui oleh ruas jalan menuju Tumbang Tronoi. Jika mengamati peta topografi, daerah tangkapan air sungai yang kedua (yang berada di sebelah utara sungai pertama) lebih luas dibanding yang pertama. Artinya, debit airnya kemungkinan lebih bisa diharapkan. Atas dasar itu, saya lebih condong menduga bahwa sungai kedua itulah Sungai Malua yang mereka arungi. Yang kemudian membuat saya semakin yakin dengan dugaan saya adalah bahwa Peta Rupabumi Indonesia tahun 2007 (lembar 1616-32 [Tumbangjojang]) melabeli sungai ini 'Sungai Malu', yang hanya selisih satu huruf dengan 'Sungai Malua'. Sementara sungai yang satunya dinamai Sungai Jojang--sangat masuk akal bila mengingat muaranya memang dekat Desa Tumbang Jojang.

Dengan mode tampilan terrain Google Maps dapat diamati perbandingan luas tangkapan air dua anak Sungai Busang yang saya curigai sebagai Sungai Malua yang diarungi tim BUKE. Terlihat bahwa sungai yang kedua (yang di sebelah utara) memiliki area tangkapan air yang lebih luas.

Mereka mengarungi Sungai Malua, yang dideskripsikan sebagai “grade three, read and run river”, dan dilanjutkan ke Sungai Busang sampai ke Muara Joloi selama dua hari pengarungan.

***

Mencocokkan dugaan-dugaan saya di atas dengan koordinat-koordinat titik awal pengarungan mereka yang telah dipublikasi di laman Wikipedia mereka, saya cukup puas mengetahui bahwa tebakan saya soal sungai-sungai mana saja yang mereka arungi ternyata tepat. Cuma satu yang agak meleset, yakni dugaan titik awal pengarungan Sungai Banana. Ternyata mereka memulai dari jembatan yang menyeberangi sungai utama, bukan jembatan yang menyeberangi anak sungai dekat permukiman.

Tinggal satu hal yang masih jadi misteri mengganjal di benak saya:

Yang Manakah Sungai Babaut?

Demi mengkonfirmasi apa yang saya dengar dalam film perihal nama sungai itu, saya memeriksa kembali story yang di-highlight di akun Instagram BUKE. Dan memang benar namanya ditulis: 'Babaut'.

Highlighted story di Instagram BUKE 

Tidak mudah menduga mana di antara sungai-sungai di sekitar Tumbang Tujang yang mereka maksud sebagai “Sungai Babaut”. Tidak ada satu pun peta yang dapat saya peroleh memuat nama sungai itu di sekitar Tumbang Tujang. Ada satu peta tahun 1845, yang dibuat oleh Salomon Muller, yang memuat nama sungai yang hampir sama, yakni 'S. Baboat'. Namun, setelah dicocokkan dengan Peta Rupabumi Indonesia 1:250.000 lembar 1715 tahun 2004 dari Bakosurtanal, sungai yang dimaksud ternyata adalah Sungai Babuat yang bermuara ke Sungai Barito di titik koordinat  0.659095S,114.291837E (dekat Desa Muara Babuat). Tanpa perlu analisis lebih jauh, dipikir dari sudut mana pun, tidak mungkin ini sungai yang ingin mereka arungi. Nyatanya, mereka berusaha mengaksesnya dari Tumbang Tujang, 100 km lebih di utara Muara Babuat. Sungai yang mereka tuju tentulah seharusnya berada tak jauh dari Tumbang Tujang.

Potongan peta wilayah hulu Sungai Barito yang dibuat Salomon Muller tahun 1845 memperlihatkan sebuah sungai yang dinamai S. Baboat.

Jika mengamati citra satelit di sekitar Tumbang Tujang, memang ada beberapa sungai berjeram yang terlihat sangat menggoda. Dua sungai di antaranya cukup sesuai dengan deskripsi yang sempat mereka sampaikan dalam film panjang pada menit 19:57 - 20:03: “About 40 K of bedrock, steep, slides, drops.” Sungai yang pertama mengalir dari utara ke selatan dan bermuara ke Sungai Murung di titik koordinat 0.21654N, 114.64376E--Peta Rupabumi Indonesia lembar 1716 tahun 2004 dari Bakosurtanal menamai sungai ini sebagai Sungai Burak. Dan yang kedua mengalir dari selatan ke utara, lalu masuk ke Sungai Murung di titik koordinat 0.2163N, 114.62107E, tak jauh dari muara sungai yang pertama--Peta Rupabumi Indonesia lembar 1716 tahun 2004 dari Bakosurtanal menamai sungai ini sebagai Sungai Malu, dan hulunya dinamai Sungai Laas dalam Peta Rupabumi Indonesia lembar 1715-44 tahun 1997 dari Bakosurtanal.

Tetapi fakta bahwa mereka bermaksud mengakses “Sungai Babaut” dari Tumbang Tujang membuat saya lebih condong menduga bahwa sungai yang ingin mereka arungi adalah sungai yang pertama. Sama sekali tidak terlihat ada jalan akses menuju hulu sungai ini pada tampilan citra satelit. Namun, jika mencermati topografi pada peta, saya menduga anak-anak BUKE mungkin berpikir bahwa sungai ini dapat diakses dengan berjalan menyusuri sebuah anak sungai yang bermuara tepat di sebelah utara Tumbang Tujang ke arah hulu (ke utara). Bagian hulu anak sungai itu berada di suatu dataran tinggi, berdekatan dengan sebuah anak sungai lain yang mengalir ke timur, ke sungai yang di peta Bakosurtanal bernama Sungai Burak.

Dugaan kemungkinan rencana rute akses menuju hulu Sungai Burak [yang saya curigai merupakan sungai yang dimaksud S. Babaut oleh tim BUKE 2022] dari Desa Tumbang Tujang.

Sedangkan sungai yang kedua, yang di peta Bakosurtanal dinamai Sungai Malu, pada citra satelit cukup jelas terlihat memiliki jalan akses ke hulunya (Sungai Laas), namun bukan dari Tumbang Tujang, melainkan dari Tumbang Olong. Jalan akses itu memang kelihatannya sudah jarang dilalui. Mungkin sudah tidak dapat dilalui kendaraan, tetapi sepertinya masih bisa dilalui dengan berjalan kaki. Andai mereka memang ingin mengarungi sungai yang ini, seharusnya mereka mencoba mengaksesnya dari Tumbang Olong.

Citra satelit Apple Maps memperlihatkan bekas ruas jalan yang kemungkinan bisa ditempuh untuk mengakses Sungai Laas, hulu Sungai Malu yang juga terlihat memiliki segmen berjeram. Rute ini berada tak jauh dari Tumbang Olong.

Pada akhirnya, yang mana pun sungai yang mereka sebut Sungai Babaut itu sesungguhnya tidak terlalu penting lagi. Yang lebih mendesak adalah bahwa dua sungai yang dicurigai itu kelihatannya memang sangat menarik untuk coba diarungi, dan cukup memungkinkan untuk diakses, meski tidak akan mudah dan murah. Tinggal menimbang: apakah kesempatan mengarungi sungai itu akan sepadan dengan segala upaya dan biaya yang harus dikeluarkan untuk mencapainya?

Berikut adalah penampakan beberapa jeram di Sungai Burak dari citra satelit Apple Maps:
Berikut adalah penampakan beberapa jeram di Sungai Laas - Malu dari citra satelit Apple Maps:

***

Saking selonya, saya membuat peta untuk menggambarkan letak sungai-sungai yang dibahas di sini, berikut ruas-ruas jalan akses, desa-desa terkait, titik-titik awal pengarungan, beberapa air terjun menarik, ... begitulah. Sekian.