Skip to main content

Flat


Flat. Mereka menyebutnya demikian. Ketika sungai mengalir tenang dan datar hampir tanpa riak, seperti kehidupan yang tenang. Tetapi kehidupan tenang selalu menimbulkan keresahan, sebab diam-diam kita mengharapkan sesuatu untuk ditangisi, untuk ditertawai, untuk dimaki-maki. Ketenangan membuat kita berpikir jauh, jauh sampai kita tak tahu bagaimana seharusnya pikiran itu berakhir. Kita menjumpai ketidakpastian, lalu kita takut. Bagaimana kita akan mengakhiri hidup ini? Apakah hidup benar-benar memiliki akhir? Bagaimana jika kehidupan itu sesungguhnya tak berujung-pangkal? Seperti lingkaran. Lalu untuk apa kita hidup? Dan ribuan pertanyaan datang bertubi-tubi seperti peluru, menembus jiwamu yang paling dalam. Satu-satunya cara untuk menghindari rasa sakit itu adalah dengan tidak membiarkan pikiran berjalan terlalu jauh di depan (atau di belakang). Pikiran kita harus tetap berada di sini, di sekitar kita. Paling jauh, ke tempat yang masih berada dalam jangkauan ego kita. Suapaya kita bisa selalu mengendalikannya, supaya kita bisa selalu melindunginya. Sebab itulah sebagian diri kita.

Jadi, orang-orang selalu merindukan kesibukan.. (begitukah?)


Comments

Popular posts from this blog

Di Dunia Tanpa Batas

Ini dunia yang terbuka lebar, sangat lebar
Di mana-mana ada jendela, di setiap sudut terdapat pintu
Kita boleh menengok lewat jendela kapan saja, dan melihat dunia yang benar-benar berbeda
Kita bisa memasuki pintu mana saja, lalu dalam sekejap sudah berada di dunia yang benar-benar berbeda. Seperti "pintu ke mana saja" punya Doraemon itu...

Ketika berada di sini, kita tidak benar-benar ada di sini
Kita bisa berada di sana, tetapi juga tidak benar-benar ada di sana

Di mana kah kita sebenarnya?

Kita perlu bertanya, paling tidak pada diri kita sendiri

[]

Begitu mudah melihat ke luar. Jendela-jendela tidak pernah tertutup, pitu-pintu tak pernah terkunci
Dan mungkin kita jadi lupa melihat ke dalam
Setiap kali ada masalah di dalam sini, kita melihat ke luar. Berbagai dunia di luar sana yang sepertinya lebih damai, lebih menyenangkan daripada di sini. Tinggal membuka pintu, lalu masalah di sini menjadi masalah di sana. Tak perlu begitu dipikirkan. Sekarang kita di sini, masalah it…

Makna dan Aktualisasi (Potensi) Diri

Maslow percaya bahwa manusia membawa potensi yang luar biasa di dalam dirinya untuk menjadi “a Good Human Being” atau “Manusia yang Baik.” Ia juga percaya bahwa setiap manusia sesungguhnya dapat mengaktualisasikan potensi dirinya tersebut, kecuali bila ia mengalami patologi. Sayangnya, apa yang pada umumnya terjadi pada kebanyakan manusia adalah mereka tidak dapat mengaktualisasikan potensi kebaikan yang dimilikinya sebab mereka mengalami berbagai hambatan. Salah satu hal yang menyebabkan terhambatnya aktualisasi diri manusia tersebut, menurut Maslow, adalah karena manusia “teralihkan” perhatiannya dari kebutuhan aktualisasi diri kepada kebutuhan-kebutuhan lain yang tingkatnya lebih rendah yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman, kebutuhan sosial, dan kebutuhan untuk dihargai (Feist & Feist, p. 305).

Sebagaimana Maslow, saya pun percaya bahwa manusia membawa potensi kebaikan di dalam dirinya. Hal ini memang bukan berarti bahwa semua manusia itu pada kenyataannya baik, sebab memang t…

Jalan Busur [7 - CARA MEMEGANG ANAK PANAH]

terjemahan dari The Way of the Bow oleh Paulo Coelho ~ [sebelumnya] ~
CARA MEMEGANG ANAK PANAH
Memegang anak panah adalah tentang bagaimana engkau menyadari intensimu sendiri.

Engkau harus meneliti seluk beluk sepanjang anak panah itu, memeriksa apakah bulu sirip ekor yang akan mengendalikan lesatannya sudah terpasang dengan baik, dan memastikan bahwa ujungnya telah benar-benar runcing.

Pastikanlah ia benar-benar lurus dan tidak bengkok atau cacat akibat penggunaan sebelumnya.

Dalam kesederhanaannya dan bobotnya yang ringan, anak panah dapat kelihatan sangat rapuh, namun dengan kekuatan yang dimiliki oleh seorang pemanah, ia dapat membawa bersamanya energi tubuh dan pikiran dari penembaknya sepanjang lintasan yang dilaluinya.

Legenda menceritakan bahwa sebuah anak panah pernah menenggelamkan sebuah kapal besar, karena orang yang menembakkannya tahu persis bagian mana pada kapal itu yang paling lemah sehingga ia mampu melubanginya dengan anak panah itu dan membuat air diam-diam merembes…